
Dimana dapurnya!
"Tapi di sini tidak ada dapur?"
Jika tidak ada dapur maka Rein tidak akan bisa membuat kopi!
"Oh," Davin bangun dari kursi kebesarannya.
Tubuhnya yang tinggi dan proporsional berjalan ringan mendekati dinding-ah, nyatanya itu adalah sebuah pintu!
Rein tidak pernah memperhatikan keberadaan pintu rahasia ini sebelumnya.
"Masuk." Davin membuka pintu tersebut dan meminta Rein masuk ke dalam.
Rein berjalan mendekat tapi segera berhenti ketika melihat sebuah ranjang ukuran king size di dalam.
"Kenapa?" Davin berdiri di depan pintu masuk dengan bersedekap dada, dia bersandar, salah satu alis pedangnya terangkat tampak sangat menawan.
"Itu.." Dia tidak ingin mengembangkan aneh-aneh karena Davin tidak akan mau menyentuh orang cacat.Daripada menyentuhnya, Davin mungkin lebih suka menyentuh wanita sempurna yang lebih baik dan seksi dari Rein sendiri.
"Apa kamu takut aku akan mendorong mu ke atas ranjang dan menyentuhmu?"
Rein mengepalkan kedua tangannya menahan jengkel.
"Tidak, saya tahu Anda tidak serendah itu."
Setelah mengatakan itu Rein memberanikan diri masuk ke dalam, melewati Davin yang masih berdiri angkuh bersandar di depan pintu masuk.
Davin sangat tinggi, Rein tidak berani mengangkat kepalanya untuk melihat bagaimana wajah Davin sekarang.
Wangi parfum ini..dia ternyata masih menggunakannya. Rein kembali mencium wangi parfum yang sudah 5 tahun pernah memasuki indera penciumannya.
Dia hampir saja melupakan wanginya.
Beberapa tahun lalu ketika mereka masih bersama Rein membelikan Davin sebuah parfum sebagai hadiah ulang tahun hubungan mereka yang telah memasuki tahun kedua.
Itu adalah kenangan yang sangat manis dan sukar dilupakan oleh Rein.
Rein pikir perpisahan mereka Davin akan mengganti parfum sama seperti memulai lembaran baru dengan kekasih barunya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Suara Davin sangat dekat.
Rein sontak membawa langkahnya menjauh dari Davin.
Dia membuka- lebih tepatnya ia berpura-pura melihat sekeliling agar terlihat tenang. Ruangan ini dibuat khusus agar Davin bisa beristirahat jika kelelahan setelah bekerja. Ini masih baru, masih rapi dan tidak ada kerutan di atas kasur.
Jelas sekali Davin masih belum pernah menggunakan ruangan ini.
"Kopi dan gula ada di dalam laci atas."
Tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi di sini, ia membuka laci atas, menurunkan kopi bermerek yang sangat disukai Davin dan sebuah gula. Ketika akan menutup kembali laci, tangannya tiba-tiba berhenti ketika melihat teh dari merek tertentu yang masih tersegel rapi.
Ini adalah teh yang Rein suka minum sejak kecil.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh, Rein!" Rein menarik diri dari pikirannya.
Membuang jauh-jauh semua pikiran aneh yang mulai menggelayuti pikiran.
"Rein," Panggil Davin dengan acuh tak acuh.
Di belakang Davin menjatuhkan dirinya dengan nyaman di atas ranjang. Salah satu tangan menyanngga kepalanya dengan nyaman, mengungkapkan punggung kurus Rein yang berulangkali mengganggu konsentrasinya.
Pemandangan ini..sudah tidak asing untuk Davin namun pada saat yang bersamaan terasa cukup asing.
Mereka kembali Tuhan pertemukan dengan cara dan situasi yang sangat aneh sekaligus canggung.
"Rein, siapa Tio?"
Tubuh Rein menjadi kaku.
"Anak kecil yang tinggal bersama mu sekarang, apa hubungan mu dengan dia?"
Merendahkan pandangannya, tangan yang sempat tidak bisa digerakkan tadi kini kembali aktif membuat kopi untuk Davin, atasan sekaligus Ayah dari Tio.
"Ada hubungan apa aku dengan Tio tidak ada sangkut-pautnya dengan Anda." Balasnya dengan nada datar dan emosi yang tertahan.
Rein ingin memberikan kesan kepada Davin agar jangan membahas topik sensitif ini lagi. Tio adalah putra Davin, darah daging Davin, anak yang sudah susah payah ia lahirkan dengan perjuangan hidup dan mati.
Hubungan darah mereka berdua memang tidak akan pernah bisa dibantah tapi Rein tidak ingin ada orang yang tahu tentang putranya, ia menyembunyikan Tio dari siapa pun, termasuk dari Davin sendiri.
Entah apa yang akan terjadi jika Davin tahu keberadaan Tio, benih yang dulu Davin anggap sebagai sebuah mimpi untuk Rein bertahun-tahun yang lalu.
Ini mungkin akan menjadi mimpi buruk untuk Rein.
"Oh, kamu menolak menjawab ternyata."
Rein tidak mengelak atau memberikan respon apa-apa. Tangannya sibuk bekerja sedangkan dia sudah terbang ke tempat lain.
"Biar ku tebak, Tio adalah bagian dari-"
Bersambung..
Sabar ya buat pembaca, alur terasa lambat karena saya hanya bisa update 1 bab di sini agar bisa menyesuaikan dengan lapak hijau.Buat yang merasa kesel karena lambat, saya saranin ke lapak hijau aja tapi bayar wkwkwkwk...
PS!
Spasi agak bermasalah jadi saya merevisinya kembali. Beberapa kata mengalami perubahan dan mengalami pengurangan, untuk yang kedua kalinya saya harus merevisinya. Maaf untuk semua ketidaknyamanan ini🍃