
Tiga hari kemudian tidak ada berita apa-apa dari rumah utama yang cukup membuat Davin heran. Dia pikir orang-orang serakah itu akan langsung melancarkan aksinya tapi siapa yang tahu, mereka jauh lebih sabar dari yang dia duga. Namun tidak masalah, toh, Davin sangat menikmati waktu santainya bersama keluarga kecilnya yang lengkap.
"Nyonya Rein, semua persiapan anak-anak masuk sekolah dasar sudah saya siapkan. Mulai dari peralatan sekolah, seragam sekolah, baju olahraga, vitamin nutrisi, dan berbagai macam kotak makanan yang lucu-lucu juga tidak lupa ku beli. Aku juga menyiapkan menu harian bekal anak-anak setiap hari agar mereka tidak bosan saat makan di sekolah nanti. Oh, dan aku juga tidak lupa menyiapkan beberapa menu camilan agar anak-anak bisa berbagi dengan teman kelasnya-"
"Mbak Anggi, stop!" Putus Rein gatal ingin menggaruk kepalanya sendiri.
"Ya, Nyonya?" Anggi bertanya sopan sambil menatap majikannya ini.
Rein sungguh tidak tahan dengan tatapan bersemangat Anggi. Dia memijat keningnya berpikir sejak kapan semua ini dimulai- oh, sejak satu tahun yang lalu. Anggi tiba-tiba menjadi baby sitter anak-anak, lalu naik jabatan menjadi asisten pribadi Rein. Sama seperti Adit, tugas Anggi adalah melayani Rein dengan cepat dan lugas. Memenuhi setiap tugas yang tidak mampu atau mampu Rein lakukan. Alasannya?
Rein adalah Nyonya besar di dalam keluarga Demian, cepat atau lambat gelar ini akan memberatkan kepalanya. Sebagai seorang Nyonya atau istri dari kepala keluarga, Rein harus memiliki orang kepercayaan di sisinya. Orang yang mampu menjaga rahasia dan melindunginya ketika terjadi bahaya, tentu saja Davin tidak mau mempercayakan tugas ini kepada orang lain karena tidak semua orang dapat dipercaya. Tapi Anggi dan Adit berbeda. Yang satu adalah sahabat Rein dan yang satunya lagi sahabat Davin. Mereka adalah orang yang dapat Rein percaya. Selama menjadi Nyonya keluarga Demian nanti, Anggi maupun Adit akan menjadi orang yang berdiri di belakangnya. Anggi dapat memenuhi semua kebutuhan hariannya, menjalankan tugas-tugas yang tidak berbahaya, dan menjadi teman mengobrol Rein. Sedangkan Adit, walaupun posisinya menjadi asisten Davin tapi dia juga harus melindungi Rein. Dalam tugas-tugas berbahaya tertentu, orang pertama yang akan maju jika Davin tidak ada adalah Adit. Dia adalah orang yang mampu melakukannya dan dapat dipercayai.
Tapi tetap saja, Rein masih belum terbiasa dengan panggilan barunya, ah! Rasanya sangat aneh!
Hah, kebiasaan orang kaya memang sulit dipahami!
"Nyonya, apakah kamu punya tugas lagi untukku?" Anggi menikmati perannya sebagai asisten pribadi Rein.
Awalnya dia hanya baby sitter tapi karena kinerjanya bagus, Davin mengangkatnya menjadi asisten pribadi Rein. Jujur, rasanya agak canggung memanggil Rein sebagai 'Nyonya' apalagi sampai memperlakukannya dengan 'wah' selayaknya keluarga konglomerat. Namun saat melihat kinerja Adit yang sangat pekerja keras sekalipun dia adalah sahabat Davin, dia tiba-tiba termotivasi dan mulai mencoba memanjakan Rein dengan layanannya. Tidak hanya pekerjaan ini menghasilkan banyak uang untuk kehidupan anak-anaknya, tapi juga memberikannya rasa hormat yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Di negara banyak orang yang menghargainya karena mereka tahu dia adalah asisten pribadi Rein, asisten pribadi dari Nyonya kelurga Demian yang terhormat.
Jika di negara A saja dia dihormati dengan baik, maka bagaimana dengan negaranya sendiri?
Ah, jangan salah paham. Anggi tidak mencari ketenaran kok. Dia hanya merasa takjub saja mendapatkan perlakuan istimewa dari orang-orang.
"Mbak Anggi, jangan panggil aku 'Nyonya' lagi. Rasanya agak geli." Kata Rein lemah.
Anggi tersenyum lebar,"Nyonya sangat rendah hati. Aku sangat mengaguminya. Tapi meskipun rendah hati, Nyonya tidak boleh melupakan identitas Nyonya sekarang. Karena Nyonya bukan lagi Nyonya kecil, tapi Nyonya sekarang sudah menjadi Nyonya besar keluarga Demian. Nyonya adalah pasangan tuan Davin jadi Nyonya adalah kehormatan tuan Davin. Siapapun termasuk aku sendiri tidak akan berani menghina Nyonya apalagi sampai meremehkan gelar Nyonya." Anggi banyak bicara di depan Rein, membicarakan hal-hal yang sama dan berputar-putar di tempat. Rein pusing mendengarnya.
Tidak tahan, dia melambaikan tangannya meminta Anggi untuk tutup mulut.
"Okay, aku paham jadi berhentilah berbicara." Anggi dengan patuh tidak berbicara.
Rein terdiam, berpikir hal apa yang harus dia lakukan untuk mengisi waktu luangnya.
"Nyonya, apa aku boleh berbicara?" Tanya Anggi hati-hati.
Rein menimbang, jika Anggi banyak bicara lagi dia akan memberikannya tugas kejam menguras kolam renang sendirian!
"Hem, kamu ingin mengatakan apa?" Davin bilang dia tidak boleh bilang 'Mbak Anggi' lagi karena mereka sekarang memiliki hubungan formal.
"Nyonya, dua hari yang lalu tuan meminta aku pergi ke toko perhiasan brand A di pusat perbelanjaan kota. Tuan menugaskan aku untuk memilih beberapa perhiasan yang sesuai dengan kulit Nyonya dan warna gaun yang akan Nyonya pakai saat acara pesta nanti. Jadi, aku sudah memilih beberapa untuk Nyonya yang aku pikir sangat cocok untuk Nyonya pakai." Kata Anggi dengan riang.
Dia sangat senang setiap kali melihat mata-mata penuh iri para wanita di toko perhiasan kemarin. Mereka pasti cemburu dia membeli banyak perhiasan mewah, hahaha... bahkan walaupun mereka cemburu dan menangis darah, semua perhiasan-perhiasan itu tetap akan jatuh ke tangan Nyonya nya! Betapa bangganya Anggi.
"Benarkah?" Rein agak tertarik melihat perhiasan barunya.
Ekhem, dulu dia tidak terlalu memikirkan perhiasan karena dia terbiasa hidup sulit. Tapi sekarang, setelah terbiasa tinggal kembali dengan Davin, dia mulai menyukai perhiasan. Di samping itu dia adalah kekasih Davin, kekasih dari kepala keluarga Demian, maka dia harus memiliki tampilan yang baik dan tidak membuat Davin malu.
"Benar, Nyonya."
"Coba perlihatkan kepadaku." Perintah Rein sambil memperbaiki duduknya.
"Baik, Nyonya." Anggi lalu pergi ke arah ruang rias dan makeup.
Beberapa detik kemudian dia keluar sambil menyeret koper mini di belakangnya.
"Hem, sampai harus pakai koper?" Heran Rein.
Anggi tersenyum penuh makna,"Nyonya adalah Nyonya dari keluarga Demian jadi perhiasan Nyonya harus berkelas dan 'cukup' untuk digunakan beberapa kali." Jawab Anggi sambil membuka koper dengan lancar.
Di dalam koper, ada berbagai macam ukuran kotak perhiasan ditempatkan di dalamnya. Rein tercengang, mulutnya terbuka tidak bisa mengatakan sesuatu saat melihat kotak-kotak itu satu demi satu dipindahkan ke atas meja.
Lalu, setelah semua kotak dipindahkan, Anggi mulai membuka setiap kotak untuk menunjukkan model perhiasan atau warna perhiasan yang dia beli kemarin.
Hanya satu kata yang bergema di dalam pikiran Rein, yaitu 'mewah', oh hanya dua kata! Dua kata! Yaitu 'sangat mewah'!
"Se-sebanyak ini?" Kaget Rein masih sulit berkata-kata.
Anggi tersenyum lebar.
"Semua perhiasan ini aku sesuaikan dengan warna kulit dan gaun yang Nyonya miliki. Yakinlah, Nyonya pasti akan sangat cantik memakainya." Kata Anggi percaya diri.
"Tapi ini menghabiskan banyak uang, kan?" Apakah kekasihnya akan bangkrut karena Rein tidak tahu seberapa banyak kekayaan yang Davin miliki.