My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
136. Rubah Tua



"Kenapa Rein? Bukankah apa yang aku katakan itu benar jika wanita ini adalah j*lang yang kotor dan menjijikkan!" Katanya semakin membuat ku muak- ah, bukan lagi muak tapi sudah masuk ke tingkat yang sangat menjijikkan!


"Dasar orang gila." Umpat ku kesal sembari membantu Mbak Anggi berjalan bersamaku.


Aku tidak ingin mengurusi orang gila ini lagi karena bagiku yang terpenting sekarang adalah membawa Mbak Anggi kembali ke rumah dan mengobatinya. Mbak Anggi harus mendapatkan perawatan medis untuk luka-lukanya.


"Mau pergi kemana?" Revan lagi-lagi membuatku sakit kepala.


Dia merentangkan kedua tangannya guna menghalangi jalanku dan Mbak Anggi. Ekspresi menyebalkan di wajahnya kini terpampang jelas di depan ku. Aku sudah sangat marah karena perbuatan kasarnya kepada Mbak Anggi dan sekarang dia kembali mengipas-ngipasi api ke depan ku. Dia benar-benar meminta masalah!


"Minggir, aku ingin membawa Mbak Anggi pulang." Kataku datar.


Revan langsung tertawa terbahak-bahak ketika mendengar permintaan ku. Dan yah, apa yang aku katakan mengenai laki-laki memang benar, selain memiliki sisi menjengkelkan laki-laki juga memiliki sisi yang tidak jelas.


Tapi dibandingkan dengan Revan yang tidak ada apa-apanya, Davin jauh lebih baik dan sempurna. Hem, aku pastikan Davin 100 persen jauh lebih baik.


"Kamu tidak bisa membawa wanita kotor ini pergi karena dia adalah wanita ku." Kata Revan terdengar bodoh- ini murni di dalam pendengaran ku.


Oh, jika dia adalah wanita mu lalu kenapa kamu menganiaya dan mengusirnya tadi, huh?


Bukankah orang yang selama ini berteriak-teriak ingin mengusirnya adalah kamu wahai laki-laki tidak berperasaan?


Nah, julukan ini dulu pernah ku sematkan untuk Davin- ini sebelum aku mengetahui kebenarannya. Tapi sekarang julukan ini berpindah dari Davin menuju Revan. Karena dari segi apapun Revan tampaknya lebih pantas mendapatkan julukan 'mulia' ini.


"Bukankah sebelumnya kamu memintanya pergi dan bahkan memukulnya? Jadi apa maksudmu sekarang menghalangi jalanku?"


Dia tersenyum aneh,"Aku tidak bermaksud apa-apa, Rein. Aku hanya tidak ingin kamu terlalu dekat dengan kotoran ini. Tapi jika kamu memaksa untuk membawanya pergi bagaimana jika kita melakukan kerja sama."


Aku tidak bisa mempercayai laki-laki kurang ajar ini.


"Kerja sama apa?"


"Kamu. Aku ingin kamu tinggal bersamaku selama-"


"Jangan bermimpi." Potong tidak setuju.


Tinggal bersamanya?


Laki-laki ini sangat gila. Bahkan awal berpacaran dengan Davin, dia tidak pernah memintaku untuk langsung tinggal bersamanya. Baru setelah beberapa waktu kami berdua bisa tinggal bersama.


"Minggir, aku harus pergi." Aku lalu berjalan secara hati-hati takut Mbak Anggi kesakitan lagi.


Tapi Revan tidak membiarkan ku pergi. Aku panik saat melihat tangan Revan akan menyentuhku. Hampir saja aku berteriak ingin segera melarikan diri dari Revan tapi untungnya bawahan Davin bergerak cepat menyingkirkan tangan Davin.


Oh ya, alasan kenapa Davin tidak khawatir meninggalkan ku dan anak-anak di rumah sendirian adalah karena dia sudah memerintahkan beberapa orang untuk menjaga kami. Ini bukanlah sebuah rahasia untukku karena bawahan Davin pun tidak perlu menyembunyikan dirinya di wajahku.


"Tuan Revan, tolong jangan ganggu Nyonya kami." Salah satu bawahan Davin mengarahkan pistol ke depan wajah Revan.


Oh teman, kata-kata mu memang sangat sopan tapi tindakan mu sungguh kasar. Tapi dia bilang apa tadi?


Tuan Revan?


"Oh wow, jadi kamu benar-benar kekasih keponakan ku?"


Keponakan?


Tidak, jangan bilang jika Revan adalah salah satu rubah tua yang Davin maksud. Tapi yang mengherankan adalah...dia sama sekali tidak terlihat tua?


Ya Tuhan, apa yang sedang aku pikirkan? Untuk apa aku mengurusi penampilan fisiknya?


Daripada mengurusi penampilan fisiknya, lebih baik sekarang aku memikirkan apa alasannya mendekati aku waktu itu- tidak, jangan bilang semua itu ada hubungannya dengan Davin?


"Tidak heran dia tergila-gila kepadamu karena sejak pertama kali melihat mu pun aku langsung bernaf-"


Click


"Ini adalah peringatan dari Tuan Davin." Bawahan Davin sudah bersiap menembak.


Aku sungguh tidak bisa bergerak ketika melihat ujung pistol bawahan Davin kini telah menyentuh dada Revan. Seolah-olah orang yang diarahkan pistol dingin itu adalah aku dan bukan Revan!


Aku pikir Revan akan terus bertindak gila tapi siapa yang mengira dia masih memiliki momen untuk berpikir jernih. Dia mengangkat kedua tangannya menyerah seraya menjaga jarak dari kami.


"Fine, aku tidak akan mengganggumu lagi tapi Rein, kamu harus ingat jika pertemuan kita tidak sebatas hari saja. Ku harap kamu harus bersiap untuk hari itu, honey." Ini adalah ancaman langsung darinya untukku.


Yah, dia mengancam ku. Dia sungguh-sungguh mengancam ku.


Bohong jika aku bilang tidak takut, namun aku masih memiliki Davin dan orang-orang hebatnya. Dia tidak akan pernah membiarkan siapapun menyentuhku. Aku juga percaya Tuhan selalu ada bersamaku sehingga tidak ada yang perlu aku takutkan dari dia ataupun para rubah tua yang lain.


Aku tidak ingin berlama-lama di sini dan meminta salah satu diantara mereka untuk membopong Mbak Anggi ke dalam vila Davin. Meskipun sempat menolak Mbak Anggi pada akhirnya menyerah dan membiarkan mereka membawanya ikut bersamaku.


Dia pasti kelelahan dan mengalami tekanan, dia butuh waktu untuk beristirahat dan memulihkan dirinya. Untuk saat ini mungkin dia terpaksa harus tinggal di vila Davin.


"Nyonya, apa Anda baik-baik saja?"


🍃🍃🍃


Sepanjang hari aku menghabiskan waktuku untuk membujuk Mbak Anggi makan atau pergi ke rumah sakit. Tapi dia bersikeras menolak dan ingin pulang ke rumahnya. Namun aku juga bersikeras tidak membiarkannya pergi sampai Davin dan Adit pulang nanti.


"Mbak Anggi tetap gak mau cerita sama aku?" Tanyaku berusaha seramah mungkin.


Tapi dia menutup mulutnya serapat mungkin. Terkadang dia akan merespon ku dengan suara isakan tangisnya sambil menenggelamkan kepalanya di dalam bantal. Aku tahu ini pasti berat untuknya sehingga aku tidak memaksanya untuk berbicara lagi. Perlahan suara isak tangisnya menghilang digantikan dengan suara nafas teratur. Mbak Anggi telah jatuh tertidur, syukurlah pikirku.


Aku tidak tahu apa yang Mbak Anggi alami tapi dia selalu menolak berbicara dan bahkan disentuh oleh laki-laki. Padahal bawahan Davin ingin memijat kakinya yang keseleo tapi langsung ditolak mentah-mentah oleh Mbak Anggi. Reaksinya ini terlihat berlebihan dan tidak normal, seolah-olah dia telah mendapatkan pelecehan seksu*l yang tidak bisa ditanggung.


"Mbak Anggi, aku harap kamu baik-baik saja." Bisik ku sebelum menutup pintu kamar tamu.


...🍃🍃🍃...


Kaki panjang nan kuatnya melangkah santai melewati lorong-lorong pengap dan gelap dari bangunan tua yang telah bertahun-tahun terbengkalai. Di setiap tembok gelap yang laki-laki bertubuh jangkung itu lewati meninggalkan jejak kekerasan dari orang-orang yang tidak diketahui.


"Dimana?" Tanyanya dingin pada seorang laki-laki berjas hitam yang telah menunggu kedatangannya di ujung lorong.


"Dia sudah ada di dalam, Tuan muda." Jawab laki-laki berjas hitam itu sarat akan penghormatan.


Laki-laki jangkung itu tersenyum dingin, kedua mata almond nya menampilkan sinar mata kekejaman yang sarat akan arogansi dan dominasi.


"Hem, kerja bagus." Katanya sambil membawa langkah kakinya masuk ke dalam ruangan yang telah dikelilingi oleh banyak orang berjas hitam.


"Adit." Panggilnya datar sambil mengangkat tangannya ke arah Adit, laki-laki dengan ekspresi dingin di wajahnya.


"Ini, bos." Adit segera memberikan Davin pistol perak yang ada di dalam saku jasnya.


Benar, laki-laki dingin dengan sorot angkuh nan kejam itu adalah Davin Demian, laki-laki kekanak-kanakan yang sebelumnya berjanji kepada Rein untuk tidak melakukan tindakan kekerasan.


Nyatanya, dia mengingkari janji yang ia sepakati sendiri karena kemarahannya sudah tidak bisa dibendung lagi.


"Tuan... tuan Davin! Tolong keluarkan aku dari tempat ini, tuan! Tolong selamatkan aku, tuan!" Suara tangisan seorang wanita langsung menyambut kedatangan Davin begitu masuk ke dalam.


Davin tidak menunjukkan reaksi apapun tapi kedua tangannya tidak bisa berhenti memainkan pistol perak yang Adit berikan.


"Yo, kamu masih memiliki wajah untuk memanggilku tuan setelah menusuk ku dari belakang?" Tanya Davin datar sambil mendudukkan dirinya di atas kursi kebesarannya.


Wanita itu, wanita yang tidak lain dan tiada bukan adalah pengasuh pribadi Aska kini tengah menatap horor pistol perak yang ada di tangan Davin. Dia semakin beringsut ketakutan setelah mendengar pertanyaan sarkas Davin beberapa detik yang lalu.


"Tuan... tuan, apa yang baru saja Anda katakan? Aku tidak mengerti apa yang Anda katakan." Dia berlagak tidak tahu tapi Davin tidak sebodoh itu untuk dibodohi.


"Hem, kamu sungguh tidak tahu dengan apa yang aku maksud?" Tanya Davin sambil tertawa terbahak-bahak di kursi kebesarannya.


Selain tawa Davin, semua orang tidak berani membuka mulut mereka untuk tertawa, tidak terkecuali Adit sendiri selaku sahabat yang telah mendampingi Davin selama bertahun-tahun. Adit sangat mengenal Davin dan juga tahu kapan tepatnya Davin berada di titik kemarahan paling besar.


Misalnya saat ini.


"Aku..aku tidak tahu, tuan. Aku sungguh tidak tahu- argh!" Davin dengan kejamnya melemparkan wajah pengasuh Aska sebuah botol kaca transparan.


Ting


Ting


Ting


Botol kaca transparan itu menggelinding dengan suara nyaring di hadapan pengasuh Aska yang sudah memiliki wajah pucat pasi seperti kehilangan banyak darah.


Dia ketakutan, tubuhnya bergetar hebat melihat botol kaca transparan itu.


"Apa kamu masih belum mengerti apa yang aku maksud?" Tanya Davin dingin.


Wanita itu mengepalkan kedua tangannya menahan gelombang rasa takut,"Tuan...aku tidak tahu dengan apa yang tuan maksud-"


Dor


"Argh!" Wanita itu berteriak kesakitan ketika merasakan sebuah peluru tajam telah menembus kaki kanannya.


Benar, Davin menembak kaki kanan wanita itu karena tidak cukup memiliki kesabaran untuk mendengarkan setiap omong kosongnya. Davin adalah orang yang kurang sabar bila menyangkut masalah seperti ini.


"Bicaralah dengan cepat, aku tidak memiliki banyak kesabaran untuk berurusan dengan mu." Ucap Davin mengancam.


Wanita itu masih berteriak kesakitan sambil memeluk kaki kanannya yang mengeluarkan banyak darah segar. Dia tidak ingin terus berteriak tapi rasa sakit di kakinya benar-benar menyita semua sarafnya.


"Bicara, atau kamu tidak akan bisa melihat sinar matahari lagi besok."


Wanita itu segera menutup mulutnya berusaha menahan teriakan. Di siksa oleh rasa sakit, wanita itu akhirnya mengatakan apa yang ingin Davin dengar.


"Tuan..aku minta maaf, aku...aku tidak bermaksud untuk membunuh tuan muda Aska. Aku tidak berani melakukan itu. Tapi..tapi Tuan Revan mengancam akan membunuh orang tua ku bila aku tidak mematuhi apa yang dia perintahkan."


Kening Davin mengernyit tidak senang,"Revan..."