
Suara tangisan Yuni memenuhi pendengaran semua orang. Mereka mengangkat kepala mereka dengan rasa ingin tahu yang tinggi untuk melihat apakah orang yang mereka kenal itu sama dengan orang yang kini tengah meratap di depan podium, berteriak-teriak dengan suara terisak untuk memohon permohonan maaf kepada laki-laki angkuh yang kini tengah duduk santai di atas podium.
Laki-laki itu terus menonton apapun yang Yuni katakan dan teriakan untuk meminta belas kasihnya, mau memaafkan kesalahan yang Yuni klaim sebagai sebuah kesalahpahaman.
Haah, laki-laki angkuh itu tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengar pengakuan konyol Yuni yang sejujurnya tidak berasal dari hati.
"Astaga, ada apa dengan Yuni?" Terdengar bisikan yang sarat akan keterkejutan dari orang-orang di bawah.
"Aku dengar dia tertarik dengan Pak Davin sejak pertama kali bertemu." Yang lain mulai menyahut, memperpanjang topik pembicaraan ditengah-tengah suasana menegangkan.
"Aku pikir juga begitu. Dia pasti cemburu dengan mantan office girl-"
"Hei, jaga mulutmu bila kamu tidak ingin karirmu hancur di kota ini." Teman yang lain memperingatkan dengan tajam takut menyinggungnya Davin seperti yang Yuni lakukan.
Wanita itu segera menutup mulutnya tapi bukan berarti pembicaraan berhenti begitu saja. Mereka terus berbicara bagaikan seorang pengamat sok tahu nan sok benar yang selalu muncul di layar kaca. Seolah-olah apa yang mereka katakan mewakili kenyataan yang ada dan seolah apa yang mereka katakan benar-benar valid.
"Hem," Akan tetapi ada seseorang yang terganggu dengan suara-suara mereka, orang tersebut tiada lain dan tiada bukan adalah Davin Demian yang kini tengah mengerutkan keningnya kesal.
Melihat ketidaknyamanan bosnya, Adit tanpa bertanya atau mengatakan apa-apa kepada Davin segera mengeluarkan sebuah benda dari saku celananya dan mengarahkan benda itu ke arah langit,
DOR
Suara tajam tembakan sontak membuat semua orang kompak menutup mulut. Wajah mereka membiru karena terkejut dan kedua mata mereka membola menatap tidak percaya pada benda berbahaya yang ada di tangan kanan Adit.
Davin menghela nafas panjang,"Jangan lakukan itu, Rein dan putraku pasti tidak nyaman mendengarnya." Peringat Davin dingin.
Adit buru-buru memasukkan kembali benda itu ke dalam saku celananya.
"Maaf bos, hari ini aku impulsif." Adit meminta maaf dengan penyesalan yang tidak dibuat-buat.
Lalu mata almond nya beralih menatap Yuni yang kondisinya jauh lebih buruk daripada karyawan yang lain. Benda itu ditembakan tepat di atasnya jadi bagaimana dia tidak shock?
Apalagi ketika membayangkan bila benda berbahaya itu menembus kulit mulus terawatnya, Yuni tanpa sadar bergidik ngeri.
"Pak Davin, ini sungguh salah paham. Aku tidak tahu bila dia adalah kekasih-"
"Apa kamu pikir aku bodoh?" Potong Davin dingin.
Yuni tanpa sadar menutup rapat mulutnya tidak berani berbicara.
"Apa kamu pikir aku tuli?" Tanya Davin lagi-lagi tidak dijawab oleh Yuni.
"Bukankah sebelumnya Adit sudah memberikan peringatan kepada mu untuk tidak mengganggu Rein lagi, tapi KAMU TIDAK MENDENGARKAN APA YANG DIA KATAKAN!" Teriak Davin diluar kendali.
Ia berdiri dari duduknya, perlahan turun dari podium dan berjongkok menghadap Yuni.
"Hei, kamu pikir sekarang dengan siapa kamu membuat masalah?" Tanya Davin lucu.
Yuni mengecilkan lehernya takut,"Aku... minta maaf, Pak." Nyalinya untuk membuat pembelaan hilang entah kemana.
"Maaf?" Davin tertawa terbahak-bahak seolah apa yang Yuni katakan adalah sebuah lelucon.
"Jangan bercanda, maaf tidak berlaku untuk Davin demikian, tidakkah ada yang pernah mengajarimu kata-kata ini?"
Bersambung...
Maaf ini ampas banget, nulisnya juga buru-buru.