
Rein tidak tahan lagi. Dia tidak tahu apa yang Davin inginkan darinya. Sebelum hari ini Davin pernah mengatakan agar mereka tidak boleh terjebak dalam masa lalu tapi mengapa Davin terus menekannya di sini?
Memintanya melakukan ini dan itu secara terus menerus, Rein tidak ada bedanya dengan tahanan. Rein tidak mengerti kenapa Davin terus menekannya, membuatnya bertanya-tanya apakah pengkhianatan hari itu tidak cukup untuk membuat Davin puas menyakitinya?
"Pak-"
"Diam lah, jangan menambah masalah lagi untukku." Davin mengangkat tangannya yang lain untuk memijat kepalanya.
Dia sangat pusing, ingin tidur tapi dia tidak bisa karena matanya sulit sekali terpejam.
Rein melihat keadaan Davin tidak baik-baik saja. Dia menggigit bibirnya ragu.
Dia mengalah,"Apa Anda baik-baik saja, Pak?"
Davin masihlah Davin,"Apa kedua matamu buta, adakah kamu melihat aku baik-baik saja?" Katanya galak.
Rein mendesah tertahan.
"Apa-"
"Tidak ada rumah sakit ataupun dokter, ini hanya masalah sepele." Potong Davin tanpa ampun.
Rein sepenuhnya tidak bisa mengatakan apa-apa. Ini yang Davin mau maka dia tidak akan melakukan ide-ide itu.
"Kamu..." Davin menurunkan kedua tangannya.
Wajahnya terlihat pucat dan kedua matanya merah. Sepertinya Davin kekurangan waktu istirahat atau dia sebenarnya jarang tidur.
"Ya, Pak?"
Davin menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada."
Dia lalu berdiri dari kursi kebesarannya ingin pergi ke dalam kamar untuk beristirahat. Tapi langkahnya goyah dan dia hampir saja terjatuh jika Rein tidak segera memeluk lengannya.
"Pak, Anda harus memanggil dokter." Suara Rein agak gemetar.
Dia sangat ketakutan melihat Davin hampir saja jatuh. Bila tubuhnya tidak bereaksi cepat kepala Davin mungkin saja sudah membentur sudut meja tadi.
"Rein,"
Davin jauh lebih tinggi dari Rein. Saat ini dia bisa melihat jika bulu mata panjang Rein bergetar ringan seolah menahan ketakutan. Tangan kiri Davin tanpa sadar terangkat ingin menyentuhnya tapi dia segera tersadar dari pikiran, menjatuhkan tangannya seolah tidak ada yang pernah terjadi sebelumnya.
"Pak?"
"Bawa aku ke kamar." Pada akhirnya dia hanya bisa mengatakan ini.
Rein segera membawa Davin ke dalam kamar. Dengan hati-hati ia membaringkan Davin di atas ranjang kasurnya. Setelah itu Rein melepaskan sepatu Davin, menaruhnya di lantai sebelum pergi mengambil air putih dan memberikannya kepada Davin.
Di saat sakit pun Davin masih menggunakan nada tajamnya berbicara dengan Rein.
"Apa kamu tuli?"
Rein tidak berani menjawab.
"Kalau begitu," Kedua tangan Rein meremat kain seragamnya menahan gugup.
Jantungnya berdebar kencang, memompa darah dengan kecepatan tinggi ke seluruh tubuhnya.
"Apa aku boleh memijat kepala Anda?"
Ini murni karena dia ingin membantu, yah, dia yakin jika ini karena rasa kemanusiaannya kepada Davin dan bukan karena perasaannya.
Davin menatap wajah cantik Rein yang terlihat sangat gugup. Sedatar apapun ekspresi Rein saat ini Davin masih bisa melihat kegugupannya.
"Hem." Davin secara alami menggeser badannya agar Rein bisa duduk di dekatnya.
Rein menutup matanya agak menyesal. Dia merutuki keputusannya menawarkan Davin sebuah bantuan. Jika begini terus, bukankah Davin akan berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya?
Hah, dia sungguh bodoh!
Dengan penyesalan yang datang terlambat, Rein terpaksa duduk di samping, mengangkat keduanya tangannya ragu dan mulai memijat kepala Davin.
Ini... pemandangan ini sudah tidak asing lagi untuk Rein, ironisnya. 5 tahun lalu, yah kenangan itu seharusnya tidak usah Rein ingat lagi karena mereka hanya orang asing sekarang.
Sementara itu Davin mulai memejamkan matanya merasakan pijatan ringan Rein di kepala. Dia menjadi lebih rileks, secara perlahan rasa kantuk mulai menarik kesadaran Davin dari dunia nyata.
Tidak butuh waktu lama dia akhirnya jatuh tertidur, memasuki alam mimpi tanpa perlu menggunakan obat tidur dengan dosis tinggi seperti malam-malam sebelumnya.
"Dia akhirnya tertidur." Gumam Rein lega.
Rein menyingkirkan tangannya, satu demi satu kakinya turun ke lantai ingin segera beranjak dari tempat tidur. Akan tetapi perhatiannya tiba-tiba tertarik pada botol plastik mini yang ada di atas nakas.
"Obat tidur?"
Rein melirik wajah pucat Davin yang sudah masuk ke alam mimpi.
"Davin mengalami kesulitan tidur, tapi sejak kapan?" Rein bertanya-tanya.
"Tidak, ini tidak ada hubungannya denganku. Jika dia memang mengalami kesulitan tidur, lalu apa urusannya denganku?" Rein melemparkan masalah ini jauh-jauh.
Dia lalu turun dari ranjang Davin tapi tidak segera keluar karena dia tidak bisa menampik bahwa dia terganggu dengan keadaan Davin sekarang.
Davin sedang sakit maka tidak seharusnya dia berhati dingin.
"Hem, menolong sesama manusia adalah perbuatan manusiawi." Dia membenarkan dirinya sendiri.