
Mama tidak menyangka bila suaminya akan begitu kejam kepadanya. Tidak hanya mengirim Sera ke luar negeri, tapi sang suami juga bermaksud mengirimnya ke luar negeri. Mama sangat marah juga sedih, tapi dia mengerti alasan suaminya melakukan ini kepada mereka.
Dia juga sadar bila dia sudah terlalu keterlaluan karena telah membahayakan keluarganya sendiri. Menyesal, Mama jatuh berlutut di atas lantai sambil menangis dia memohon kepada suaminya untuk sebuah pengampunan.
"Maaf, Pa. Maafkan Mama, Pa. Mama khilaf. Mama sadar telah mengambil jalan yang salah. Mama minta maaf, Pa. Tolong maafin Mama. Mama bisa menerima hukuman apapun kecuali berpisah dari Papa. Mama enggak mau hidup terpisah dari Papa. Tolong ampuni Mama, Pa. Tolong jangan kirim Mama pergi ke luar negeri." Mohon Mama menyesali semua perbuatannya.
Dia mencintai suaminya, sungguh sangat mencintainya. Maka bagaimana mungkin dia bisa tinggal tanpa suaminya, terpisah jarak yang sangat jauh dan dalam waktu yang jauh pula. Mama mana mungkin sanggup.
"Kamu akhirnya menyesalinya..." Kata Papa rendah.
Bagaimana mungkin dia tidak tersentuh. Istrinya kini tengah menangis di depannya, tepat di depannya sambil berlutut. Dalam hidup ini dia selalu memperlakukan istrinya dengan penuh kasih, mencintainya dengan tulus dan belum pernah menjatuhkan tangan sebesar apapun marah dirinya. Dan hari ini dia benar-benar kehilangan kendali. Kecewa rasanya ketika mengetahui istrinya tak sejujur yang dia pikirkan selama ini.
"Aku mengakuinya, Pa. Mama berjanji akan meminta maaf kepada Adit dan Davin asalkan Papa mau memaafkan Mama. Asalkan Papa tidak membuang Mama ke negara lain, Mama sanggup melakukannya." Kata Mama sambil menangis sesenggukan.
Papa menghela nafas berat.
"Kamu tidak mengerti ini. Permintaan maaf mu bukan karena ku tapi karena semua perbuatan yang telah kamu lakukan. Sedangkan aku tidak ada hubungannya dengan semua ini." Ujar Papa mengoreksi ucapan Mama.
"Ya...ya, aku...aku akan meminta kepada mereka. Khususnya kepada Adit dan Anggi, aku akan meminta maaf kepada mereka berdua dan berjanji tidak akan mengganggu hubungan mereka lagi." Kata Mama berjanji.
Kemarahan Papa sedikit mereda. Inilah hasil yang diinginkan Adit sebelum meninggalkan bukti itu kepadanya. Adit ingin dia dan istrinya suatu saat nanti datang untuk meminta maaf kepada mereka berdua.
Papa tahu permintaan Adit tidak besar dan dia pun bersedia memaksa istri serta anaknya hingga ke tahap ini hanya untuk mendapatkan kelembutan hati Adit. Bukan karena ingin menjilat tapi karena dia tidak ingin membuat musuh dari keluarga Demian. Keluarga Demian bukanlah orang yang bisa dia singgung dengan mudah. Dan hari ini dia merasakan dampak kecil yang telah di buat istrinya.
"Maka kamu harus menepatinya." Ujar Papa merasa jauh lebih lelah. Berurusan dengan emosi jauh lebih melelahkan daripada berurusan dengan pekerjaan.
Melihat Mama akhirnya lolos dari hukuman Papa, Sera tercengang di tempat.
"Lalu bagaimana dengan diriku, Pa?" Tanya Sera dengan ekspresi berharap di wajahnya.
"Tetap pergi." Jawab Papa bagaikan vonis hukuman berat untuk Sera.
Untuk hal ini Papa tidak ingin bernegosiasi lagi karena jika dibiarkan putrinya akan semakin ngelunjak dan membuat masalah yang lainnya.