My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
62. (62)



Mendengar ucapan Papa, mereka berdua praktis membuka mulut karena kaget. Terutama untuk Sera sendiri. Sebelumnya dia sempat bertanya-tanya mengapa Adit memberikannya sikap sedingin itu dan tidak ramah seperti biasanya. Ia pikir Anggi lah membuat Adit seperti itu dan karena itu ia semakin membenci Anggi.


Akan tetapi sekarang ia akhirnya mengerti alasan mengapa Adit memberikan bahu dingin. Rencana Mamanya telah terungkap dan terbukti bersalah, tidak mengherankan bila Adit memandanginya dengan tatapan penuh jijik itu.


Sera menatap Mamanya tidak percaya,"Mama bilang kak Adit enggak akan tahu tentang masalah ini." Kata Sera dengan nada tuduhan.


Ia sangat kesal dan mulai menyesalinya. Betapa ceroboh dirinya meminta Mama untuk menangani masalah ini. Padahal sudah jelas-jelas bila Adit bukanlah orang yang mudah untuk dibodohi.


"Aku...aku..." Mama melihat putri dan suaminya bingung.


"Papa, harus dengarkan Mama dulu." Mama secara alami mengabaikan emosi putrinya yang kusut karena yang terpenting saat ini adalah membicarakan hal ini dengan sang suami.


Papa masih terbakar amarah. Suara lembut Mama yang membujuk tidak dapat menenangkan amarahnya yang memuncak. Belum pernah dalam hidup ini dia semarah ini di dalam keluarganya. Bertahun-tahun menikah keluarganya sangat harmonis. Putrinya melanjutkan karir sebagai dokter hewan, istrinya selalu ada di rumah menunggunya kembali, dan dia sendiri sebagai kepala rumah tangga bekerja keras di luar sana.


Dia pikir semuanya baik-baik saja. Dia pikir keluarganya berjalan sesuai dengan kedamaian yang dia rasakan selama ini. Tapi faktanya dia terlalu lugu sebagai suami. Baik istri maupun putrinya ternyata tidak sepolos yang dia bayangkan selama ini.


"Sekarang kamu mau mengakuinya?" Ejek Papa seraya duduk di sofa.


Mama memegang erat tangan putrinya takut.


"Mama...Mama mengakuinya, Pa. Tapi...tapi Mama terpaksa melakukan itu semua demi putri dan masa depan keluarga kita. Papa sendiri pernah bilang jika Adit adalah anak yang sangat mampu. Ketika dia menikah dengan putri kita suatu hari nanti, perusahaan Papa akan diambil alih oleh Adit dan keluarga kita akan semakin dihormati keluarga yang lain. Mama juga berpikir begitu Ma, ditambah lagi putri kita mencintai Adit, oleh karena itu Mama mencoba menjodohkan mereka berdua." Kata Mama memulai pembelaannya.


Mama terkesan bertele-tele bagi Papa. Ekspresi diwajahnya mulai menunjukkan ketidaksabaran sehingga Mama langsung menyambung ucapannya lagi agar mendapatkan permohonan maaf Papa.


"Tapi... perjodohan gagal, Pa. Wanita murahan itu lebih dulu melancarkan aksinya untuk merebut Adit dari putri kita. Aku sangat marah dan meminta ketiga orang ini menghampiri keluarganya bermaksud untuk memberikan mereka sejumlah uang agar hubungan Anggi-"


"Merebut Adit dari putri kita? Apakah kamu mengalami delusi, hah? Sejak kapan Adit menjadi milik Sera? Sejak kapan Adit mengatakan jika dia adalah milik Sera dan sejak kapan mereka memiliki hubungan?" Potong Papa tidak mau mendengarkan omong kosong istrinya lagi.


Mama dan Sera tercengang, tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan Papa ini. Memang benar jika selama ini mereka berdua selalu mengklaim bila Anggi sudah merebut Adit, seakan-akan mengatakan jika Adit telah resmi menjadi milik Sera. Padahal faktanya nol besar. Dia bahkan tidak bisa memegang tangan Adit apalagi berhubungan dengan Adit.


"Tapi Pa, Sera cinta sama Adit." Sera mengaku kepada Papanya sambil menangis pilu.