
"Tuan Adit?" Setelah menonton cukup lama, Anggi memutuskan untuk menghampiri Adit.
Wajah cantiknya yang masih memar tidak mengurangi sama sekali pesonanya. Hanya sayang saja wanita ini telah menikah dan bahkan telah memiliki dua anak yang lucu-lucu.
Adit menoleh. Dia lalu bangun sambil menepuk-nepuk kemeja birunya dari kotoran dan debu yang menempel.
"Jangan panggil aku 'tuan', karena satu-satunya tuan di rumah ini adalah tuan Davin. Cukup panggil aku Adit saja." Kata Adit mengoreksi.
Anggi malu. Dia buru-buru menganggukkan kepalanya dan memperbaiki panggilannya kepada Adit.
"Tapi...tapi memanggil nama secara langsung sepertinya agak kurang sopan. Jadi, apa aku boleh memanggil mu dengan sebutan Mas?" Tanya Anggi ragu-ragu.
Adit adalah petinggi perusahaan bahkan tangan kanan Davin langsung jadi memanggil namanya secara langsung sangat tidak sopan.
Tidak keberatan,"Terserah." Katanya tidak terlalu memikirkannya.
Anggi tersenyum canggung. Kedua tangannya terjerat seolah ingin mengatakan sesuatu tapi untuk beberapa alasan dia menahannya.
"Ada apa?" Adit merasakan keraguan Anggi.
Kontak mereka memang sangat sedikit tapi di rumah ini Adit lah satu-satunya orang yang memiliki banyak kontak dengan Anggi. Alasannya?
Alasannya sangat sederhana. Berawal dari perintah Davin untuk mengawasi Anggi sejak awal memasuki rumah ini dan tidak sengaja mulai merawat luka-luka Anggi, perlahan-lahan mereka sering menghabiskan waktu bersama tanpa menghabiskan banyak kata.
Anggi sangat aman dan nyaman bersamanya. Selain karena Adit adalah orang yang lugas dan dingin, dia juga laki-laki yang sangat acuh tak acuh. Dia tidak pernah memandang Anggi dengan tatapan mesum seperti yang Revan lakukan kepadanya.
"Ada apa?" Tanya Adit tidak sabar.
Anggi tersadar dari lamunannya.
"Itu...apa aku boleh tinggal sedikit lebih lama lagi di sini?" Dia tidak ingin pulang- ah, bukannya tidak ingin pulang tapi lebih tepatnya dia sudah tidak memiliki rumah.
Rumahnya telah dia jual untuk melunasi hutang-hutang dan anak-anaknya tinggal di rumah kerabat untuk sementara waktu sampai dia bisa membawa uang untuk membayar hutang yang suaminya tinggalkan.
"Boleh, asal kamu berperilaku dengan baik." Jawab Adit tanpa pikir panjang.
Sebelumnya Davin sudah mengatakannya jika Anggi bisa tinggal di rumah sampai dia benar-benar sembuh dan sehat kembali.
Anggi akhirnya lega.
"Terima kasih." Kata Anggi jauh lebih tenang.
Sekarang dia memikirkan bagaimana caranya menghasilkan uang secepat yang dia bisa untuk melunasi semua hutang-hutang suaminya yang telah melarikan diri entah kemana.
Dia ingin segera mencari pekerjaan di luar tapi luka-lukanya belum sembuh dan ditambah lagi dia masih takut dengan Revan.
Revan mungkin akan mencarinya seperti waktu-waktu sebelumnya. Dia tidak tahan diperlakukan seperti sampah dan disentuh layaknya wanita yang tidak memiliki harga diri.
Rasanya sangat hancur dan hidupnya dipertaruhkan di sini. Dia sudah tidak memiliki harapan untuk memikirkan masa depan yang indah dan hidup bahagia bersama suami serta anak-anaknya.
"Apa hubungan mu dengan tuan Revan?" Tanya Adit acuh tak acuh.
Dia telah menyelidiki masalah Anggi dan Revan, mengejutkan memang, tapi meskipun begitu dia masih ingin menanyakannya secara langsung kepada Anggi.
Entah kenapa dia merasa semua itu tidak adil untuk Anggi, padahal Anggi bukanlah siapa-siapanya dan hanya sebatas kenalan asing.
"Itu...dia hanyalah dermawan ku saja." Kata Anggi setengah berbohong.
Dia memang dermawan- untuk suaminya, bukan untuk dirinya dan anak-anak.
Adit tersenyum dingin,"Oh, hanya dermawan. Tuan Revan memang seorang dermawan yang unik." Kata Adit mengakhiri pembicaraan mereka.
Anggi menundukkan kepalanya tampak berpikir. Tidak lama kemudian dia mengangkat kepalanya menatap anak-anak dan Adit. Sekilas, mereka terlihat seperti keluarga kecil yang lengkap dan harmonis. Ada tawa dimana-mana yang menghangatkan hati. Akan tetapi jauh dari dalam hatinya Anggi sadar bila ini hanyalah ilusinya saja karena keluarga indah yang dia bayangkan telah lama kandas.
Dia tersenyum pahit. Menarik pandangannya dan masuk ke dalam dapur untuk menyiapkan makanan untuk anak-anak. Tidak lupa juga dia menyiapkan teh pahit hangat untuk Adit sebab orang itu tidak menyukai kopi maupun minuman yang manis-manis.
Setelah dirasa cukup, dia kemudian membawanya kembali ke taman belakang dan menyajikan di atas meja santai agar bisa dinikmati oleh mereka semua.
"Aska, Tio? Ayo ke sini. Aunty sudah membuatkan kue untuk kalian semua." Kata Anggi memanggil.
Aska dan Tio langsung melarikan diri dari pekerjaan mereka. Berlari menghampiri Anggi - atau tepatnya menghampiri berbagai macam kue manis di atas meja.
Di belakang Adit mengikuti dengan langkah tidak berdaya. Anak-anak pasti akan melupakan semuanya bila mendengar kata kue. Apalagi buatan kue Anggi memang patut diacungi jempol. Sangat enak, anak-anak sangat menyukainya. Hanya sangat disayangkan Adit tidak suka makan makanan yang manis-manis.
Eh, mengapa aku tiba-tiba berpikir tidak masuk akal? Batin Adit heran.
Dia segera membuang pikirannya jauh-jauh dan tetap bersikap seperti biasanya.
"Mas Adit, aku membuatkan mu teh. Masih hangat dan tanpa gula." Kata Anggi sambil mendorong cangkir teh di atas meja.
Adit tanpa malu mengambilnya.
"Terima kasih." Dan mulai menyesapnya.
Setelah itu mereka tidak berbicara lagi. Walaupun canggung tapi kehadiran anak-anak untungnya mampu menyamarkannya.
Aska dan Tio sangat menyukai kue buatan Anggi - ah, tapi dihati mereka kue buatan Rein tetaplah yang nomor satu. Tidak akan ada orang yang bisa membuat kue selezat buatan Rein.
"Aunty?" Panggil Aska.
"Ya?"
Aska berkata,"Buatan kue aunty sangat enak. Kenapa aunty dan uncle tidak tidur bersama saja seperti Mommy dan Daddy? Kalau aunty tidur sama uncle, aunty bisa tinggal di sini dan membuatkan kami banyak kue yang enak!"
"Ah?" Anggi praktis merasa canggung.
Dia melirik ekspresi datar Adit, bernafas lega, untungnya Adit tidak marah jadi dia segera berkata.
"Aunty tidak bisa tidur dengan uncle Adit." Kata Anggi sederhana.
"Kenapa? Mommy dan Daddy bisa tidul belsama, tapi kenapa aunty dan uncle tidak bisa?" Ini adalah pertanyaan polos Tio.
Anggi tersenyum malu,"Karena aunty sudah menikah, jadi aunty tidak bisa tidur dengan uncle ataupun laki-laki lain di luar sana." Kata Anggi menahan pahit dihatinya.
"Tidak tidur dengan laki-laki lain tapi tidak masalah dengan seorang dermawan?" Kali ini bukan Aska maupun Tio yang merespon tapi Adit.
Adit tahu kata-katanya ini tidak benar, tapi dia juga tidak tahu kenapa dia bisa mengucapkannya. Hatinya tidak nyaman, dan dia sendiri juga tidak bisa mengontrol mulutnya.
"Maaf," Senyuman Anggi sontak menghilang. Wajahnya menjadi pucat pasi seperti seorang pasien rumah sakit.
"Aku tidak bermaksud seperti itu." Kata Anggi malu bercampur sedih.
Dia adalah wanita yang kotor, ya, dia mengerti seberapa buruk citranya di mata orang lain sekarang.
"Itu hidupmu." Kata Adit seraya membawa langkahnya kembali ke taman untuk melanjutkan lagi pekerjaannya.
"Kak Aska, kenapa uncle tiba-tiba malah?" Tanya Tio polos.
Aska menggelengkan kepalanya,"Mungkin karena aunty sudah menikah." Jawabnya asal.