
Mereka berjalan memasuki kawasan vila Garden dengan mobil limusin berwarna putih pucat yang tampak sangat mencolok.
Vila Garden adalah salah satu komuditas tempat tinggal teratas di kota ini. Orang-orang yang tinggal di sini bukanlah sembarang orang. Mulai dari artis, pengusaha, Tuan muda generasi kedua, dan bahkan simpanan pun tinggal di sini. Selama memiliki uang, rahasia atau segala macam privasi akan terjamin di tempat ini karena keamanannya yang sangat ketat.
Rein dulu hanya mendengar cerita-cerita singkat saja tentang tempat ini dan dia tidak pernah menyangka suatu hari nanti ia akan datang ke sini. Melihat kemewahan, keindahan, dan kenyamanan vila di sini, kedua matanya tidak bisa berpaling dan bahkan jarang berkedip.
Davin melihat ketertarikan Rein pada tempat ini tapi tidak mencelanya seperti yang ia lakukan di kantor. Daripada mengganggu kegiatan Rein, dia lebih suka duduk santai sambil menikmati setiap ekspresi kagum di wajah Rein ketika melihat pemandangan di luar vila.
"Dimana tempat tinggal mu?" Rein tanpa sadar bertanya.
"Oh," Rein membeku, dia mengecilkan kembali lehernya dan memperbaiki cara duduknya agar tidak terlihat norak.
Takutnya Davin akan melemparinya kata-kata tajam lagi.
"Kamu tidak perlu menjawabnya." Katanya canggung.
Davin melonggarkan dasinya di leher agar bisa merasa lebih santai, kakinya yang jenjang ia angkat dengan posisi menyilang. Hari ini dia terlihat lebih bebas dan sedikit liar namun pada saat yang sama tampak berwibawa.
Aura bos-nya sukar dihilangkan.
"Vila mawar nomor 11, itu adalah vila ku." Jawab Davin dengan sorot mata lembut yang terpancar dari kedua mata almond nya, tampak samar.
Rein membeku, untuk sejenak ia seolah ditarik masuk ke dalam tatapan lembut kedua mata Davin. Meskipun samar, meskipun hanya selintas saja namun ia masih bisa merasakan kelembutan di mata itu.
Tatapan itu pernah menjadi mimpi-mimpi indahnya, 5 tahun yang lalu.
Namun, ada yang salah...
"Vila mawar nomor 11?" Rein tanpa sadar bergumam.
Angka 11 adalah angka yang tidak akan pernah bisa ia lupakan dalam hidup ini karena ia lahir pada tanggal 11 November dan pada tanggal serta bulan ini pula ia resmi menjalin kasih dengan Davin. Di samping itu Rein menyukai bunga mawar, terlepas warna apa bunga mawar itu. Dulu, di rumah mereka, ia sangat rajin menanam bunga mawar sehingga rumah mereka tampak seperti toko bunga di jalanan.
Membuat Rein bertanya-tanya apa Davin masih belum melupakan tentang mereka?
Pasalnya, mulai dari lantai ruang kantor CEO di perusahaan sampai nama dan nomor vila yang ditempati, Davin kebetulan menggunakan nama bunga mawar dan angka 11- tidak, tidak.
Bisa jadi ini hanya sebuah kebetulan saja.
"Aku tidak mengingat apapun." Jawab Rein acuh tak acuh.
Davin mengangkat bahunya bosan. Ia sudah tahu jika Rein pasti tidak mau mengakuinya. Meskipun mengecewakan tapi rasanya agak melegakan karena Rein masih 'terjebak' masa lalu mereka.
"Daddy, nanti di lumah kita belenang lagi, yah?" Suara lembut Tio memecahkan suasana canggung diantara mereka.
Davin merendahkan kepalanya agar bisa berbicara dengan Tio.
"Boleh, tapi setelah Tio makan siang, yah. Kalau belum makan siang, Daddy gak akan izinin Tio berenang."
Rein mendengar percakapan mereka. Ia mendengus tidak suka, membuang wajahnya ke arah lain sambil melarang Tio mandi.
"Gak boleh, berendam siang-siang di air dingin gak baik buat Tio. Dia masih kecil." Tolak Rein tanpa melihat respon Davin.
Davin melirik Rein di seberang sana yang kini sedang memalingkan wajahnya menatap ke arah luar. Dia mendesah tertahan, mengusap puncak kepala Tio sebagai permintaan maaf.
"Mommy kamu gak izinin, sayang, jadi Daddy hari ini berenang sendirian aja, yah?"
Mata besar Tio membola, bibirnya yang merah delima mengerucut tidak puas. Ia memeluk lengan kuat Davin dan bertanya.
"Kenapa? Belenang kan bisa menghilangkan kotolan!"
Rein di seberang sana memutar matanya malas. Kali ini dia harus mengakui bahwa ia cukup kewalahan menghadapi betapa keras kepala putranya. Tio sekarang jauh lebih keras kepala setelah tinggal dengan Davin.
Apa-apaan?
Padahal mereka hanya tinggal 1 minggu saja tapi entah kenapa rasanya hubungan mereka sudah sangat dekat seolah pernah tinggal bersama beberapa tahun.
Hah, dia nyatanya benar-benar tidak bisa memisahkan mereka berdua karena hubungan darah dari Tuhan tidak akan bisa Rein patahkan.
Sambil mendengarkan ocehan mereka berdua, Rein sesekali membawa atensinya memperhatikan lingkungan vila Garden. Dia tidak heran dengan pemberian nama ini melihat kawasan vila sangat hijau dan rindang seperti di dalam hutan. Nama-nama vila nya pun diambil dari tumbuhan di hutan, terdengar menarik.
"Ayo turun, kita sudah sampai." Davin membawa Tio ke dalam pelukannya sebelum turun dari mobil dan disusul oleh Rein di belakang.
Mereka sampai di depan vila mawar nomor 11, salah satu vila yang dibangun strategis karena ada di depannya langsung. Rein tidak bisa membayangkan seberapa dalam Davin harus merogoh koceknya hanya untuk harga vila ini.