My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
91. Canggung



Setelah perdebatan hari itu Davin dan Rein menjadi lebih pendiam. Mereka tidak lagi seperti sebelumnya, bertegur sapa atau lebih tepatnya berdebat untuk hal-hal sepele.


Rein tidak ingin berbicara dengan Davin karena perintahnya kali ini telah benar-benar mulai melewati batas. Sedangkan untuk Davin sendiri, dia pernah mencoba berbicara dengan Rein tapi direspon dengan sangat dingin.


Davin setelah itu berhenti mengganggu Rein, bukan karena telah menyerah tapi karena ia memiliki banyak sekali pekerjaan yang harus segera diselesaikan.


Karena terlalu sibuk Davin menjadi lebih sering tinggal di kantor daripada pulang ke vila akan tetapi meskipun sibuk, ia masih berusaha meluangkan waktunya untuk bertemu dengan Tio atau sekedar menyapanya.


"Rein," Davin baru saja pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor.


Malam ini dia pulang seperti malam-malam sebelumnya, agak larut dan kelelahan.


Rein tidak menjawab tapi ia menoleh ke belakang agak terkejut. Ia pikir Davin tidak akan pulang malam ini karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 2 dini hari.


"Tolong buatkan kopi." Pinta Davin sembari memijat keningnya merasa pusing.


"Kopi tidak baik untuk kesehatan. Bagaimana dengan teh hijau saja?" Rein menawarkan dengan canggung.


Karena setelah perdebatan hari itu Rein tidak terlalu berbicara dengan Davin dan saat ini adalah ucapan terpanjangnya setelah mendiamkan Davin.


Davin tidak menolak,"Yah...buat saja yang terbaik dan kirim ke ruang kerjaku."


Dia masih bisa bekerja dengan kondisinya ini?


Rein benar-benar dibuat tercengang oleh laki-laki penggila kerja ini. Padahal laki-laki ini sudah memiliki banyak uang dan di samping itu ia bisa saja menyerahkan pekerjaan ini kepada sekretarisnya. Tapi apa yang malah Davin lakukan?


Dia masih mengerjakannya sendirian.


"Kamu masih ingin bekerja dengan keadaan seperti ini?" Rein tidak tahan dan memutuskan untuk bertanya.


Gerakan memijat Davin terhenti, kedua mata almond nya yang sarat akan rasa kelelahan menatap Rein dengan pandangan yang sulit diartikan, untuk Rein pribadi.


"Aku tidak punya cara lain. Pekerjaan ini harus segera selesai malam ini juga." Kata Davin merasa lebih hangat.


Rein kian heran. Memangnya pekerjaan apa yang telah membuat Davin meluangkan sebagian besar waktunya untuk segera menyelesaikannya?


Bukankah Davin adalah bosnya dan bos tidak harus buru-buru menyelesaikan sebuah pekerjaan sebab dia adalah bos. Lagipula, Davin bisa saja melimpahkan pekerjaan ini kepada bawahannya tapi kenapa dia tidak melakukannya?


"Kamu terlihat lelah. Kenapa tidak serahkan saja pekerjaan ini kepada Lisa atau Adit?" Rein tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


Ia takut bila tubuh Davin memiliki masalah jangka panjang jika terus dibiarkan seperti ini.


Davin tersenyum,"Apa kamu mengkhawatirkan ku, Rein?"


Tidak ada nada mencemooh atau rasa arogansi seperti sebelum-sebelumnya. Ini murni karena Davin dalam suasana hati yang hangat setelah beberapa hari Rein abaikan.


Rein mengerjap ringan, masih mencerna pertanyaan Davin. Beberapa detik kemudian Rein menggelengkan kepalanya panik.


"Tidak, aku tidak mengkhawatirkan kamu." Padahal dia agak- ini hanya agak khawatir!


Rein lalu berbalik masuk ke dalam dapur. Berpura-pura mengabaikan kehadiran Davin dan mulai menyiapkan air rebus.


Davin mengulum senyum. Diam, ia masih berdiri di tempat memperhatikan punggung ramping Rein dengan pakaian tidur yang Davin beli beberapa hari yang lalu. Dia pikir Rein tidak akan menggunakannya tapi ternyata Rein tetap memakainya. Dia bersyukur, setidaknya Rein mau menerima pemberiannya.


Dert


Dert


Dert


"Hah...dia benar-benar penggila kerja!" Gumam Rein tidak habis pikir.


Inilah yang Rein tidak mengerti tentang Davin. Padahal Davin adalah pewaris tunggal Perusahaan Properti Demian tapi mengapa dia malah pindah ke perusahaan cabang daripada memimpin perusahaan di pusat. Kemudian, dia adalah bos besar ah...katakan saja dia pemilik semua properti Demian tapi kenapa dia masih mengerahkan tenaganya untuk terus bekerja?


Saking sibuknya bekerja Davin jadi sering melewatkan waktu makan dan istirahat, bukankah ini adalah pola hidup yang sangat buruk?


Tapi kenapa Davin masih melakukannya di saat ia punya segalanya dan seharusnya tidak perlu bersusah payah?


"Pikiran orang kaya memang sulit ditebak." Gumam Rein telah menyelesaikan teh hijau pesanan Davin.


Sebelum mengantarnya ke ruang kerja Davin, ia terlebih dahulu menyiapkan bubur hangat yang sebelumnya sudah dipanaskan dan segelas air putih.


Dengan begini setidaknya perut Davin tidak kosong lagi.


Tok


Tok


Tok


Rein mengetuk ringan pintu ruang kerja Davin. Beberapa detik kemudian suara serak Davin mempersilakannya masuk.


"Aku menyiapkan sedikit bubur hangat. Makanlah selagi hangat agar kamu bisa lebih fokus bekerja." Kata Rein sambil menaruh nampan makanan di atas meja.


Ia lalu berbalik ingin keluar tapi segera dihentikan oleh suara serak Davin.


"Rein," Panggilnya.


"Ya?" Rein menoleh dengan pintu yang sudah terbuka.


Davin tersenyum,"Terimakasih untuk teh dan makanannya." Ucap Davin tulus.


Rein cemberut,"Humph, tidak perlu berterimakasih karena ini adalah tugas seorang pembantu." Kata Rein sebelum menutup pintu ruang kerja Davin.


Di luar, Rein menyentuh dada datarnya. Ada sensasi aneh dari debaran kuat jantungnya. Tanpa bertanya Rein pun tahu perasaan apa ini. Hanya saja ia menolak untuk mengakuinya.


"Aku butuh air minum!"


Rein kembali masuk ke dalam dapur dan meneguk segelas air putih dalam satu nafas.


"Hah, leganya." Dia mengusap mulutnya puas.


Diam, ia menatap gelas kosong di tangannya sebelum beralih menatap waktu di jam dinding ruang santai.


Sudah pukul 3 pagi tapi Davin masih larut dalam pekerjaannya. Sekilas, Rein teringat akan wajah sayu Davin yang tampak sangat kelelahan. Davin sering menyentuh keningnya seperti hari itu, hari ketika ia tahu Davin ternyata mengkonsumsi obat tidur dengan dosis besar.


"Sudahlah, kenapa aku harus memikirkannya. Daripada memikirkannya lebih baik aku segera tidur saja." Ujar Rein tidak ingin ambil pusing.