My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
230. 2



Davin yang tadinya bersemangat tinggi dan memiliki gelar suami siap siaga,"...." Apa sudah terlambat untuk menyesalinya sekarang?


"Sayang, begini... Dimas-"


"Mas Davin enggak mau, yah?" Tanya Rein mulai terdengar galak.


Kalau sudah begini Davin tidak bisa lagi mengatakan apa-apa karena memang pada dasarnya dia sangat lemah menghadapi Rein, apalagi saat sedang marah begitu. Pita suaranya langsung terjepit tidak bisa menghasilkan suara penolakan.


"Enggak... enggak, kok. Aku mau kok, sayang." Kata Davin lemas.


Anaknya menginginkan kehadiran Dimas karena mungkin jejak Dimas yang selalu menjaga Rein selama waktu itu masih ada. Davin tidak bisa menghapusnya dan dia juga tidak bisa melarang istrinya untuk bertemu lagi dengan Dimas. Bukan karena dendam masa lalu, jujur dia tidak terlalu memikirkannya lagi karena semuanya telah berakhir. Tapi dia cemburu. Dia cemburu melihat istrinya dekat dengan laki-laki yang pernah menghancurkan hubungan mereka berdua.


Sekalipun Rein tidak menyukainya tapi Davin tidak bisa menghilangkan perasaan cemburunya. Davin adalah laki-laki posesif, dan sudah menjadi sifatnya untuk bertindak agresif terhadap siapapun yang ingin mendekati istrinya.


"Mas, aku ngerti perasaan kamu." Kata Rein tiba-tiba mengejutkan Davin.


Dan Davin baru menyadari bila istrinya kini beberapa langkah lebih dekat dengannya. Wajah istrinya yang cantik dan kemerah-merahan kini berubah menjadi pucat pasi terlihat sangat tersiksa.


"Jangan ke sini, Rein. Nanti kamu sakit." Larang Davin seraya mengambil langkah besar untuk mundur menjauh dari istrinya.


Dia telah melihat bagaimana tersiksanya Rein saat dekat dengannya dan itu tidak main-main rasanya. Walaupun kesal karena harus menjauh dari istrinya, Davin lebih suka melakukan itu daripada melihat istrinya tersiksa berada di sampingnya.


"Mas Davin yang enggak boleh menjauh! Kalau Mas Davin semakin jauh aku gak akan berhenti ngejar Mas Davin, enggak perduli secapek apapun aku berjalan." Kata Rein sarat akan nada ancaman.


Davin akhirnya berhenti melangkah mundur. Dia melihat frustasi wajah pucat istrinya yang semakin dekat dengannya.


Rein menganggukkan kepalanya pahit. Dia tahu, perutnya tidak akan nyaman dan rasanya sangat menyiksa. Tapi mau bagaimana lagi, karena Rein juga...


"Aku sangat merindukan Mas Davin. Rasanya sangat tidak nyaman berada jauh dari Mas Davin." Ujar Rein terdengar menyedihkan.


Davin tertegun, kedua bola mata hitamnya menatap tak percaya pada sang kekasih yang masih berusaha berjalan mendekatinya dengan perut besar.


"Pergi.." Davin melambaikan tangan kepada Adit.


Adit yang sebelumnya tidak memiliki nilai keberadaan,"..." Dia sudah canggung setengah mati melihat kedua majikannya saling berbagi rindu.


Maka dari itu tanpa mengatakan apapun kepada Davin, dia langsung menghilang dari balik semak-semak menunggu perintah selanjutnya.


"Mas," Panggil Rein lemas.


Davin buru-buru menjangkaunya, memeluk Rein hati-hati dan memanfaatkan kesempatan untuk menghujani seluruh wajah Rein sebuah ciuman hangat sebelum Rein memiliki reaksi besar.


"Mas harus bersabar. Karena seperti Mas Davin, aku pun juga tidak ingin bertemu lagi dengan Dimas. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa karena anak kita terus menekan ku. Padahal aku telah berusaha untuk menekan keinginan anak ini." Kata Rein lemah dan pasrah menerima serbuan kecupan manis dari sang suami.


Inilah salah satu alasan mengapa Rein mudah tersinggung beberapa waktu ini. Penyebabnya adalah karena dia berusaha menolak keinginan anaknya untuk bertemu dengan Dimas. Imbasnya, Davin yang selalu perhatian dan bersikap lembut kepadanya harus mendapatkan percikan amarah.


"Tidak apa-apa sayang...aku mengerti, kamu pasti tidak bisa menghadapinya lagi. Tidak apa-apa...aku tahu kamu pasti sangat kesulitan." Bisik Davin merasa sangat lega setelah mendengarkan penjelasan istrinya.


Dia kini tidak terlalu keberatan membawa Dimas bertemu istrinya.