
Semua orang kompak menutup rapat mulut mereka. Kedua mata mereka hanya fokus melihat Davin namun tidak bisa membuka mulut untuk bersuara. Alasannya?
Mereka sudah tahu bahwa membantah atau membuat pembenaran tidak ada gunanya karena mereka tahu Davin akan segera membantah dengan kata-kata pedas yang lain.
Tapi akan ada beberapa orang yang cukup jengkel dengan Davin. Orang-orang itu masih ingin berdebat karena mereka meyakini bahwa semua langkah yang mereka ambil tidak kalah dengan para pekerja putih di perusahaan pusat yang Davin banggakan.
Jadi seorang laki-laki mengangkat tangannya ingin berbicara.
"Silakan." Lisa memberikan izin.
"Maaf Pak, kami telah melakukan perencanaan masing-masing proyek dengan melibatkan arsitek saat survey ke lokasi-"
"Hanya satu arsitek?" Potong Davin tidak berkenan mendengarkan lebih banyak.
"Kalian semua ternyata tidak menganggap serius setiap proyek sekalipun proyek yang kalian terima cukup kecil, ini adalah faktanya." Davin mengangkat kepalanya menatap langsung laki-laki itu.
"Tahukah kamu peran siapa yang paling penting dalam perencanaan sebuah proyek?" Davin melemparkan sebuah pertanyaan yang paling dasar.
Laki-laki itu dengan percaya dirinya menjawab,"Kami, Pak. Kami adalah yang membuat perencanaan dan-"
"Membosankan."
Davin bangun dari duduknya. Berdiri angkuh di depan mata semua orang dengan aura mendominasi. Di dalam hati mereka sangat bangga dapat dipimpin oleh pewaris tunggal Perusahaan Properti Demian yang sangat terkemuka di dalam maupun diluar negeri. Pengaruh mereka tidak bisa diremehkan dan yang paling penting adalah hampir semua proyek besar ditangani oleh perusahaan ini.
"Tim arsitek, mereka adalah yang paling penting dari sebuah proyek. Kalian tahu mengapa? Pekerjaan mereka tidak hanya sebatas menggambar sebuah bangunan saja oleh sebab itu mereka harus dilibatkan setiap melakukan survey. Bangunan yang mereka rancang adalah hasil dari survei yang kalian lakukan jadi melibatkan lebih dari satu arsitek adalah salah satu langkah penting lainnya. Dengan melibatkan lebih dari satu arsitek kalian dapat memilih rancangan mana yang lebih memenuhi aspirasi perusahaan dan pemimpin daerah setempat sehingga ketika pembangunan dilakukan pejabat setempat akan menjamin perlindungan untuk kita. Tapi, kalian tidak melakukannya di dalam perencanaan dan lucunya lagi, setiap proyek hanya melibatkan satu arsitek. Apa kalian semua bercanda?"
Apa yang Davin katakan memang benar namun sekali lagi mereka adalah perusahaan cabang dan dana yang mereka dapatkan pun tidak sebanyak yang ada di kantor pusat.
"Kami tidak punya dana banyak, Pak. Jika kami punya cukup mungkin menggunakan lebih dari satu arsitek bisa kami lakukan." Salah satu wanita berani berbicara.
Tatapannya yang berani menatap langsung Davin patut diapresiasi oleh karyawan wanita yang lainnya. Mereka sebenarnya juga ingin melakukan itu tapi Davin terlalu dingin, ah!
"Selama untuk perusahaan maka perusahaan tidak akan pelit. Kalian bisa mengajukannya. Jika ada yang mempersulit, segera kirim laporan kepadaku karena aku sendiri yang akan menangani mereka. Baiklah, cukup rapat hari ini. Aku ingin setiap perencanaan di perbarui kembali sampai awal bulan depan, selamat siang."
Pada akhirnya Davin tidak akan pernah mengecewakan mereka.
Davin langsung keluar dari ruang rapat dengan Lisa mengekor di belakang. Saat akan masuk ke dalam lift presiden Davin tiba-tiba dipanggil oleh karyawan wanita yang berani berbicara di dalam rapat tadi.
"Pak Davin, apa saya boleh berbicara sebentar?" Wanita itu berbicara dengan lembut.
Davin melirik,"Kamu bisa berbicara dengan sekretaris ku."
Ucap Davin sebelum pintu lift khusus presiden tertutup.
Lisa yang ditinggal pergi Davin berusaha menjaga senyuman di bibirnya.
"Jadi, apa yang ingin kamu-oh, Yuni." Lisa membaca namanya di id card depan dada Yuni.
"Apa yang ingin kamu bicarakan. Katakan saja, jika penting aku akan memberitahu Pak Davin tapi jika tidak aku sendiri yang akan mengurusnya."
Yuni memaksakan senyum di wajahnya.
"Tidak perlu, aku hanya ingin berbicara santai saja."
Lisa tersenyum miring,"Oh, tidak heran Pak Davin langsung pergi ketika melihatmu. Ternyata kamu adalah serigala yang berbulu domba. Lain kali, jangan coba memprovokasi Davin bila kamu tidak ingin angkat kaki dari perusahaan ini." Ucapnya sinis sebelum masuk ke dalam lift karyawan biasa.
Lift presiden hanya digunakan untuk CEO saja dan membutuhkan sidik jari Davin. Bila bukan Davin maka lift tidak akan bisa digunakan oleh siapapun.
"Cih, serigala teriak serigala." Marah Yuni tanpa menggunakan citra lembutnya.
"Lain kali, pasti ada kesempatan lain kali." Tekadnya masih belum hilang untuk mendekati Davin, sang pewaris tunggal Perusahaan Properti Demian.
Bersambung...