My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
89. Aku Mau



Mulai sekarang dia harus terbiasa menghadapi sikap memaksa Davin. Walaupun tidak lagi bermulut tajam tapi seringkali Rein dibuat kewalahan karena sikap memaksanya.


"Bagus, aku tahu kamu adalah orang yang bijak." Davin puas.


Sekarang dia telah menyelesaikan misinya jadi ia bisa keluar dan kembali bermain dengan putranya. Namun, ia tiba-tiba mengurungkan niatnya setelah mencium wangi masakan Rein. Ini adalah masakan rumahan, cukup sederhana dan tidak semewah yang ada di restoran. Tapi bagi Davin makanan sederhana buatan Rein jauh lebih menggoda selera makannya daripada makanan mewah yang ada di restoran.


Dari segi rasa maupun tampilan, masakan buatan Rein jauh lebih baik.


"Apa kau sudah selesai memasak?" Davin menjulurkan kepalanya ke depan, melihat ke arah panci panas yang masih mengepulkan asap lezat dari kuah benih di dalam.


Rein secara alami tidak memperhatikan betapa dekat wajah Davin di sampingnya karena ia sibuk memasukkan berbagai macam sayuran ke dalam teflon untuk ia tumis.


"Sebentar lagi, apakah kamu mau mencicip-" Tangannya tiba-tiba membeku ketika menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya.


Buru-buru ia mengangkat kepalanya ingin mengoreksi,"Maksudku-"


"Aku mau." Potong Davin seraya mengangkat kepalanya menyamping, menatap wajah terkejut Rein.


Mereka begitu dekat, dekat sampai-sampai Davin bisa menghitung bulu mata Rein yang panjang dan hitam. Merasakan hembusan nafas hangatnya, dan jika Davin ingin, ia bisa saja menyentuh bibir ranum nan merah itu. Namun, dia tidak melakukan itu karena kedua mata almond nya begitu terpaku menatap kedua mata persik Rein yang telah Tuhan ciptakan dengan sangat indah. Seolah-olah kedua mata persik Rein dipahat dengan hati-hati dan indah.


Jujur, kedua persik Rein adalah alasan kenapa Davin jatuh cinta kepadanya dulu. Terlepas apakah Rein memiliki kelainan genetik atau tidak, Davin tidak pernah memikirkannya karena sejak dia jatuh cinta kepada Rein, semua itu bukanlah hal yang penting.


Dia, untuk yang kesekian kalinya jatuh terpikat dibawah mata persik itu. Mata yang selalu menunjukkan ketulusan hati Rein, mata yang tidak akan pernah membohongi apa yang Rein rasakan.


Di mata ini semuanya bisa tergambar dengan jelas.


Jari-jari Davin bergerak, ia ingin sekali menyentuh bulu mata Rein seperti yang biasanya ia lakukan dulu. Tapi...tapi apakah ia bisa melakukannya?


"Mommy, Daddy! Tio lapal." Suara manja Tio segera mengejutkan Davin dan Rein.


Mereka berdua tersadar, kompak memalingkan wajah dengan suasana canggung yang kembali mengisi.


"Tio udah lapar, yah?" Rein mengalihkan perasaan canggungnya dengan mulai memperhatikan Tio.


Berbicara dengan mulut kecil Tio seakan-akan tidak ada yang pernah terjadi sebelumnya.


"Iya, Mom. Tio lapal." Kata Tio sambil menepuk-nepuk perut besarnya.


Rein menyentuh singkat ujung hidung Tio,"Tunggu sebentar lagi yah, sayang. Mommy bentar lagi selesai kok."


Tio tidak rewel, ia mengangguk imut sebelum membawa langkahnya keluar dari dapur. Bukannya kembali bermain, Tio malah merebahkan dirinya di atas kasur Davin sambil mengangkat mainan pesawat terbang di tangannya.


Hah, bertahun-tahun tidak bertemu, Davin mengakui bila Rein sekarang sangat mudah marah.


"Kamu...lebih baik temani Tio diluar saja dan jangan ganggu aku memasak!" Peringat Rein keras kepala tapi juga tampak menggemaskan.


Rein sudah seperti landak hitam saja yang akan mengetatkan durinya bila didekati.


"Tapi aku belum mencicipi masakan mu, tidakkah sebelumnya kamu menawarkan ku?" Davin kembali dalam mood santainya yang menjengkelkan untuk Rein pribadi.


Rein menghela nafas panjang. Ia mengambil sendok makan dan memberikannya kepada Davin.


"Nih," Katanya dengan berat hati.


Davin melirik sendok makan yang ada di tangan Rein,"Dimana makanan yang aku cicipi? Kenapa kamu malah memberikan ku sendok dan bukannya makanan?"


Rein memutar bola matanya malas.


"Mau yang mana?"


Davin melihat kepulan asap lezat dari panci sup,"Aku ingin sup nya."


Rein langsung mengambilnya sedikit dan memberikannya kepada Davin- yang entah sejak kapan menjulurkan kepalanya ingin disuapi.


"Davin, kamu..." Rein kesulitan berbicara.


Davin berpura-pura tidak mengerti,"Kenapa?"


Rein mengalah,"Dasar!"


Lalu ia dengan terpaksa menyuapi Davin. Tapi lagi-lagi Davin menguji kesabarannya. Tanpa meniup atau memastikan makanan sudah dingin terlebih dahulu, Davin sudah membuka mulutnya tapi segera dihentikan oleh Rein.


"Tiup dulu, Davin! Ini masih panas tahu!" Dumel Rein sambil meniupnya beberapa kali sebelum memberikannya kepada Davin lagi.


Namun, lagi-lagi dia tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. Rasanya sungguh tidak sopan. Jadi, Rein ingin menarik sendok itu tapi sudah terlambat karena Davin sudah memakannya.


Tersenyum miring,"Hem, ini jauh lebih lezat dari yang aku harapkan."


Pipi Rein terasa panas. Ia berbalik, mengabaikan Davin dan berpura-pura melanjutkannya acara memasaknya. Padahal ia sedang melarikan diri, menyembunyikan wajah merahnya dari Davin.