
Rein mencuci wajahnya dengan air dingin untuk menghilangkan rasa kantuknya yang belum menghilang.
Setelah mencuci muka, Rein mengeringkan mukanya dengan handuk putih di kamar mandi. Hanya butuh beberapa detik untuk melakukannya sebelum dia bisa keluar dari kamar mandi. Menghela nafas panjang, dia melirik waktu di jam dinding atas ranjang kemudian beralih menatap kalender elektronik di atas nakas.
"Bulan ini adalah awal dari segalanya. Aku tidak mungkin melupakannya." Bisik Rein berbicara kepada dirinya sendiri.
Rein tersenyum kecil. Langkah kakinya yang ringan dan santai perlahan berjalan menuju lemari pakaian di sudut ruangan. Ini adalah lemari pakaiannya yang tidak terpakai karena Davin menggunakan lemari ini khusus untuk menyimpan dokumen penting perusahaan. Rein tidak suka pada awalnya, dia memperingatkan suaminya agar jangan menyimpan barang berharga seperti dokumen penting perusahaan sembarangan. Tapi Davin tidak mendengarkan keluhan Rein dengan serius dan malah menganggapnya sebagai sesuatu yang cukup lucu.
Davin bilang,"Tempat kamu adalah tempat teraman untukku menyembunyikan akta akta masa depan keluarga kita." Sesantai itu.
Rein benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa tentang keteguhan hati suaminya saat itu.
Cklack
Rein membuka lemari. Menggeser beberapa dokumen ke samping meninggalkan celah kecil. Tangannya kemudian masuk ke dalam celah tersebut, meraba-raba tempat yang dilewati tangannya sampai akhirnya dia menyentuh sebuah benda padat tapi sangat ringan.
Tangannya menyeret keluar sebuah kotak persegi panjang beludru dengan pita putih di atasnya. Rein menatap kotak beludru persegi panjang yang kini tengah tergeletak manis di samping barisan dokumen milik Davin. Jari jemarinya yang ramping mengelus pita kotak beludru persegi panjang tersebut dengan garis senyuman manis di bibir ranumnya.
"Aku sangat menantikannya."
🥣🥣🥣
Davin tampak sangat muram bahkan setelah semua pekerjaan selesai. Ini sudah pukul 11 malam, waktu yang sangat telat dari jam pulang kantornya yang biasa. Dan Rein juga telah berulangkali menekankan bahwa dia tidak suka Davin kerja lembur atau pulang terlambat karena itu bisa berdampak buruk untuk kesehatannya. Davin tahu dan mengerti maksudnya, lagipula dia juga tidak mau berpisah dari istrinya. Tapi hari ini benar-benar berjalan diluar kendalinya dan dia pun tidak mampu untuk mengatasinya.
"Rein masih belum membalas pesanku." Kata Davin muram.
Dia melihat layar ponselnya yang memperlihatkan setiap pesan yang dia kirimkan kepada istrinya. Tidak ada satupun yang Rein respon.
"Apa dia sangat marah?" Tanya Davin putus asa.
"Jika aku pulang, apakah Rein akan mengizinkan aku tidur di kamar kami?"
Davin ingin pulang tapi dia tidak berani melihat kemarahan Rein. Tapi jika dia tidak pulang, hatinya akan semakin merindukan Rein. Dia jelas tidak ingin berpisah dengan Rein. Tenggelam dalam dilema, layar ponsel Davin tiba-tiba menyala. Dia buru-buru melihatnya. Ada pesan masuk dari istrinya.
"Pulang, apa kamu lebih betah tinggal di kantor daripada di rumah?"
Davin langsung merinding membacanya. Jika dia tidak pulang malam ini, Rein mungkin sudah mengemas semua pakaian milik Davin dan mengirimnya ke kantor.
"Pulang... pulang, aku akan segera pulang!" Balas Davin tergesa-gesa sambil membawa semua barang-barangnya ke dalam tas dan membawanya pulang.