My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
7. (7)



"Ah.. " Pujian ini begitu tiba-tiba.


Dia sangat malu. Wajahnya terasa panas. Padahal tadi tadi Anggi sempat merasa kedinginan diterpa angin laut malam. Tapi bersama Adit suhu tubuhnya tiba-tiba memanas.


Tidak berani menatap wajahnya,"Tidak... Ini karena mas Adit. Em, terima kasih sudah membantuku. Tanpa semua kata-kata mas Adit aku mungkin masih berkubang dalam ketidakberyaan." Ucap Anggi hati-hati.


Di samping Adit berpikir bila Anggi orang yang lucu karena sikapnya yang lugu seperti seorang gadis remaja. Dia bertanya-tanya apakah semua wanita seperti ini jika sedang malu?


Terkekeh,"Jadi maksud kamu kata-kata ku terlalu kejam?" Goda Adit dengan nada serius yang dibuat-buat.


Anggi otomatis menggelengkan kepalanya membantah. Sejujurnya kata-kata Adit sangat menohok bagi Anggi dan hatinya sakit karena orang yang berbicara kejam kepadanya adalah Adit, laki-laki yang dia sukai. Tapi mana mungkin Anggi jujur?


Dia tidak mau membuat Adit merasa bersalah.


"Tidak, tidak! Aku tidak bermaksud seperti itu." Bantah Anggi.


Lalu Adit tiba-tiba tertawa dan mengejutkan Anggi. Dia menatap kosong wajah dingin Adit malam ini mencair dengan sebuah senyuman lebar terbentuk dari bibirnya.


Untuk sejenak Anggi tidak merespon karena semua fokus dan pikirannya telah diambil alih oleh Adit, sang pujaan hati.


"Asal kamu tahu, selama bertahun-tahun bekerja di tuan Davin, kamu merupakan orang pertama yang mengatakan jika kata-kata ku tidak kejam. Sebab biasanya siapapun yang aku komentari akan mengeluhkan lidah tajamku."


"Ah..." Anggi tersadar.


Kedua pipinya mengembangkan warna merah yang cantik. Malu, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Menyelipkan beberapa helai rambut gelapnya ke belakang telinga.


"Kamu keluar tanpa alas kaki?" Pengingat Adit menarik Anggi dari pikirannya.


"Ini... Semua orang juga datang tanpa alas kaki." Alasan Anggi menutupi kecerobohan.


Adit tersenyum simpul, bagaimana mungkin dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun karena tidak ingin membuat Anggi lebih malu lagi dia memutuskan untuk tidak mengungkapkan kebohongan Anggi.


"Jadi kamu juga ke sini untuk melihat pemandangan pantai di malam hari?" Tanya Adit dengan senyum simpul di wajah tampannya.


Anggi berbohong. Niat hati ingin mencari udara segar tapi langsung disambut oleh pujian hangat Adit, rasanya Anggi bisa mengungkapkan segala macam kebohongan agar tetap dekat dengan Adit.


"Iyah.. Iya, aku ke sini untuk melihat pemandangan pantai di malam hari, mas. Aku agak penasaran melihat para tamu berkumpul di bawah jadi aku langsung ke sini setelah berbicara dengan kedua pelayan itu." Jawab Anggi bohong.


Adit menatap Anggi dengan makna tertentu.


"Kalau begitu... " Adit lalu melepaskan alas kakinya di atas pasir.


Perasaan menyejukkan adalah sentuhan pertama yang Adit rasakan ketika telapak kakinya menyentuh permukaan pasir putih.


"Maka tujuan kita sama." Sambung Adit.


Anggi terkejut, jantungnya berdegup kencang karena gugup. Untuk alasan yang tidak pasti dia mulai meragukan pendengarannya sendiri.


"Hah?" Bingung Anggi mendongak, menatap wajah tampan Adit yang juga sedang menatapnya.


Adir tersenyum sangat lebar, aura dingin dan ekspresi datarnya telah menguap entah kemana digantikan dengan penampilan lembut Adit yang sangat langka.


"Kemarilah, temani aku berjalan-jalan di sekitaran pantat." Ajak Adit seraya mengulurkan tangannya di hadapan Anggi.