
Butuh 24 jam agar Rein bisa sampai di negara A. Belum lagi dia harus terbang ke kota B karena Davin dirawat di rumah sakit kota B. Sedangkan perjalanan ke kota B harus ditempuh dalam waktu 3 jam lagi sehingga hampir dua hari Rein dan yang lainnya berada di dalam perjalanan.
"Rein." Panggil Adit dari pintu masuk rumah sakit.
Wajahnya sangat pucat dan agak kuyu, pasti Adit sudah lama menunggu kedatangannya.
"Dimana Davin?" Rein langsung to the point.
Dia tidak ingin berbasa-basi dan sudah sangat merindukan Davin. Maunya, ingin sekali dia melemparkan dirinya ke dalam dekapan hangat Davin untuk memastikan jika Davin masih ada di sini dan akan selalu ada di sini.
"Rein, tenang. Davin sudah melewati masa kritisnya dan sudah bangun tadi pagi. Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya karena yang terpenting sekarang adalah kamu dan yang lain harus segera beristirahat. Davin bilang dia tidak mengizinkan kamu masuk menemuinya sampai kamu beristirahat dengan baik di hotel." Jelas Adit menyampaikan intruksi Davin.
Tadi pagi Davin sangat marah ketika mengetahui Rein dan anak-anak terbang ke sini untuk menemuinya. Dia bilang kondisinya benar-benar buruk dan dia masih belum siap bertemu dengan Rein. Oleh karena itu, dia memerintahkan Adit untuk mengirim Rein ke hotel dengan embel-embel beristirahat. Jika berhasil mengirim Rein ke hotel maka Davin akan mencari cara mengirim Rein kembali ke Indonesia karena kondisinya saat ini sangat memalukan untuk dilihat oleh kekasihnya.
Davin tidak mau.
"Bawa aku ke kamarnya." Perintah Rein mutlak tidak menerima alasan penolakan.
Adit menggertak kan giginya menahan dingin. Tubuhnya hampir membeku menunggu kedatangan Rein ke sini hanya untuk memastikan Rein tidak masuk ke rumah sakit. Tapi Rein sangat keras kepala dan mempersulitnya. Membuat tugasnya menjadi lebih sulit dan dia pun agak tidak berdaya menghadapi sikap keras kepala Rein yang sulit untuk di luluh kan.
"Rein, kamu harus pergi ke hotel untuk beristirahat. Tubuhmu pasti lelah melewati perjalanan jauh dan kamu juga mungkin mengalami jet lag tanpa disadari-"
"Mbak Anggi dan anak-anak sudah pergi ke hotel." Potong Rein keras kepala.
"Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir."
Adit ingin menolak tapi sekali lagi dipotong oleh Rein.
"Penolakan kamu ini membuatku curiga. Adit, katakan dengan jujur bagaimana kondisi calon suamiku saat ini?!" Tekan Rein tidak sabar.
Sejak tahu Davin kecelakaan, Rein mudah sekali mengembangkan pikiran negatifnya selama segala sesuatu itu memiliki hubungan dengan Davin. Dia tidak bisa tenang selama di dalam perjalanan. Bahkan tidurpun rasanya sangat sulit karena hatinya sangat mencemaskan Davin.
Jadi, begitu mereka sampai di kota B, Rein tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan harus bertemu dengan calon suaminya itu bagaimana pun caranya.
Adit tergagap,"Enggak, enggak kok. Davin baik-baik saja-"
"Kamu sangat buruk dalam hal berbohong, Adit." Cibir Rein mengejek.
Dari gelagat Adit saja dia tahu bila ada sesuatu yang disembunyikan oleh Adit darinya.
"Cepatlah bawa aku ke kamarnya sebelum aku benar-benar marah dan memutuskan untuk putus dengannya!" Ancam Rein tidak main-main- faktanya, dia tidak benar-benar serius.
"Kamu tidak mau?" Tanya Rein dengan nada mengancam.
Adit menghela nafas panjang dan memutuskan untuk mengalah. Daripada merusak hubungan mereka lebih baik dia dimarahi oleh Davin. Toh, selama ada Rein kemarahan Davin tidak akan bertahan lama.
"Aku sudah memperingatkan kamu, Rein. Jadi jangan bilang aku tidak pernah mengatakan apa-apa kepadamu sebelumnya." Setelah mengatakan itu Adit dengan paksa memimpin jalan.
Mereka menaiki lift khusus di lantai tertinggi. Bahkan rumah sakit juga masih mengklasifikasikan seseorang dengan seberapa tebal dompetnya karena Rein melihat Adit mengeluarkan kartu platinum dari dompetnya.
"Tuan Davin ada di dalam." Kata Adit tiba-tiba mengubah panggilannya lebih formal.
Rein melihat ruangan putih di depannya. Kedua tangannya mengepal erat ingin bergegas mendorong pintu masuk akan tetapi kakinya tiba-tiba tidak bisa diajak kerjasama. Seolah ada paku yang memakunya jadi dia tidak bisa menggerakkannya satu langkah pun.
Dia sangat gugup.
"Jika kamu tidak siap-"
"Kakiku tidak bisa digerakkan. Tapi aku siap." Potong Rein ketus sambil mengambil nafas beberapa kali untuk menenangkan perasaan gelisah nya.
Adit dengan bijaksana menutup mulut dan diam-diam mundur beberapa langkah dari jangkauan Rein. Dia tidak lagi meremehkan kemarahan seorang wanita. Karena sekali seorang wanita menunjukkan pengaruhnya maka habislah sudah. Ancamannya terlalu berbahaya. Dia tidak mampu menanggung konsekuensinya.
Setelah menenangkan dirinya sendiri, Rein lalu menjangkau gagang pintu, merasakan dinginnya gagang pintu lalu mendorongnya masuk dengan gerakan yang sangat hati-hati. Perlahan, kaki kanannya masuk ke dalam kamar tanpa suara sedangkan kepalanya sedikit maju ke depan mengintip sosok tampan yang dulunya selalu berdiri dengan angkuh dan dingin kini tengah berbaring di atas ranjang rumah sakit dengan berbagai macam alat medis di sampingnya.
Meskipun sedang tidur, wajah tampan itu masih memiliki rasa angkuh yang sudah mendarah daging sejak lahir, warnanya masih tidak pudar sekalipun wajahnya memucat karena kehilangan banyak darah.
Untuk sejenak Rein tidak sanggup melanjutkan langkahnya lagi. Kedua matanya terpaku menatap luka-luka lecet di wajah tampan itu dan kakinya... kakinya yang terbalut perban tebal tampak disangga oleh sebuah penyangga kokoh yang memungkinkan kaki itu tidak akan pernah bergeser.
"Adit, sudahkah kamu mengirim mereka ke hotel?" Suara parau Davin tidak lagi sejernih beberapa hari yang lalu.
Davin melontarkan pertanyaan tanpa membuka kedua matanya. Dia pikir orang yang masuk ke dalam kamarnya adalah Adit- memangnya siapa lagi jika bukan asisten pribadinya?
Diam, Rein tidak memberikan jawaban apapun. Tenggorokan rasanya tercekat tidak mampu mengeluarkan suara dan kedua matanya mulai masam, mengaburkan pandangannya karena pelupuk matanya telah dipenuhi oleh cairan hangat.
"Adit, apakah Rein baik-baik saja?" Davin melontarkan pertanyaan yang lain, masih tidak membuka kedua matanya yang terpejam.
Entah itu pertanyaan pertama atau kedua, Davin tidak kunjung menerima balasan apapun. Davin agak jengkel, dia membuka matanya sambil mengeluarkan kata-kata untuk memarahi Adit- tapi, lidahnya langsung menjadi kelu ketika melihat sosok lembut nan cantik yang telah lama dia rindukan siang dan malam kini tengah berdiri di depan pintu dengan berurai air mata.
"Apakah kamu tidak bisa- Rein?"