My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
21. (21)



Malam itu juga kami sampai ke kota A setelah menempuh beberapa jam perjalanan. Mas Adit terlebih dahulu mengantarkan Sera ke rumahnya yang besar. Saat itu kedua orang tua Sera sudah menunggu di depan pintu masuk rumah untuk menyambut kedatangan kami, atau lebih tepatnya mereka menunggu kedatangan mas Adit.


Mereka meminta kami masuk tapi mas Adit menolak dengan alasan sudah larut malam.


"Nak Adit, ayo masuk ke dalam. Makan dan istirahat lah di rumah dulu sebelum pulang. Kalau mau kamu juga bisa menginap di rumah." Suara Mama Sera terdengar begitu hangat dan ramah.


Dia dan suaminya memperlakukan kami dengan baik sejauh yang ku rasa.


"Terima kasih, Bibi. Maaf aku tidak bisa mampir karena sekarang sudah larut malam. Aku juga harus mengantarkan Anggi ke mansion karena dia tidak bisa melewatkan semua tugas-tugasnya besok." Mas Adit menolaknya dengan sopan meskipun wajahnya masih datar.


Aneh, ketika sedang bersama Ibu dan Ayah, ekspresi mas Adit jauh lebih lembut ketimbang saat bersama kedua orang tua Sera. Apa ini karena mas Adit terlalu kelelahan berkendara atau- ish, apa sih yang aku pikirkan!


Mana mungkin mas Adit lebih perhatian kepada kedua orang tuaku dibandingkan kepada kedua orang tua Sera karena dimana-mana keluarga ku tak bisa dibandingkan dengan keluarga Sera yang telah mengakar pondasi latar belakangnya yang baik.


"Oh, begitu." Mata Mama Sera menyapu keberadaan ku di dalam mobil.


Lagi-lagi aku merasa aneh karena Mama Sera sepertinya agak tidak menyukaiku? Apa ini hanya perasaan ku saja? Tapi perasaan canggung ini sudah ku rasakan berulang kali ketika bertemu dengan Sera. Seolah-olah dia tidak ingin dekat denganku dan tidak menyukaiku.


Jika dipikir-pikir lagi, apa yang kurasakan ini memang benar adanya?


Pasalnya aku merasakannya saat bersama Mama Sera dan Sera, mereka jelas dua orang yang berbeda.


"Jika kamu mau Bibi bisa meminta orang lain untuk mengantarkannya pulang agar kamu bisa menginap di sini."


Bukankah Mama Sera agak keterlaluan?


Dia...dia mendorongku pergi agar mas Adit tinggal di rumahnya. Bukankah ini tidak pantas?


Mas Adit adalah seorang laki-laki lajang dan diminta menginap di rumah seorang wanita lajang pula, walaupun di dalam sana ada kedua orang tua Sera tapi tetap saja ini tidak pantas.


Ugh, apa yang aku pikirkan. Pikiran orang-orang kaya tidak bisa ku ikuti. Mungkin saja ini adalah kebiasaan mereka.


En, tapi aku merasa sakit hati saat memikirkannya jika mas Adit lebih memilih untuk menyerahkan ku kepada orang lain daripada harus mengantarkan ku pulang langsung.


"Maaf, Bibi. Tapi aku pikir ini tidak baik. Aku tidak bisa menginap di rumah Bibi dan aku juga tidak bisa membiarkan Anggi di antar oleh orang lain karena dia adalah tanggungjawab ku sepenuhnya." Kata mas Adit menolak.


Mataku berkilat heran mendengar penolakan mas Adit. Tidak, bukan karena penolakannya tapi karena nada suaranya yang agak tajam dan tidak bersahabat?


Apa mas Adit merasa risih dengan ajakan Mama Sera?


Ah, aku harusnya menyadarinya bila mas Adit adalah tipe laki-laki yang sangat disiplin dan pembersih. Dia tidak mungkin memiliki kontak dengan wanita lain tanpa ikatan dan mungkin mas Adit juga menyadari bila tinggal di rumah itu bukanlah keputusan yang baik.


"Woah, sayang sekali. Padahal Bibi ingin sekali membicarakan banyak hal dengan kamu." Desah Mama Sera menyayangkan keputusan mas Adit.


"Mungkin lain kali...jika aku tidak sibuk."


Aku senang dengan keputusan mas Adit-


"Apa kamu tadi tersenyum?" Mama Sera mengarahkan matanya kepadaku.


Jelas pertanyaan ini diarahkan kepada ku.


"Eh?" Aku bingung harus mengatakan apa.


Aku memang tersenyum tapi aku tidak menyangka bila senyumku masih bisa dilihat oleh Mama Sera.


Hufth, rasanya sangat canggung ditatap sedalam itu oleh Mama Sera. Bibirnya memang mengembangkan garis senyum tapi aku merasa bila senyuman Mama Sera agak tidak tulus. Dia mungkin benar-benar tidak menyukai ku.


"Bibi, aku harus pulang sekarang karena ini sudah sangat larut." Suara dingin mas Adit menginterupsi ketegangan yang terjadi antara aku dan Mama Sera.


Aku sempat merasa terancam dengan tatapan tajam Mama Sera tapi untunglah mas Adit menengahi rasa krisis yang ku rasakan.


Mama Sera langsung mengalihkan perhatiannya kepada mas Adit dengan senyuman yang sangat lebar. Saking lebarnya sampai-sampai kedua matanya menyipit seolah ikut tersenyum.


Benar-benar perlakuan yang berbeda. Aku sekarang tidak heran lagi.


"Baiklah, hati-hati di jalan dan segera hubungi Sera bila kamu sudah sampai rumah dengan selamat." Pesannya kepada mas Adit.


Mas Adit hanya tersenyum tipis sebagai tanggapan. Namun senyumnya segera menghilang saat dia mengalihkan pandangannya dari Mama Sera. Mas Adit lalu membawa mobil menjauh dari rumah Sera, begitu keluar dari gerbang rumah mereka, mas Adit menghentikan mobil dan memintaku untuk turun.


"Eh, itu-"


"Aku bukan supir mu." Katanya memotong ucapan ku.


Aku tersenyum malu. Takut mas Adit semakin tidak puas, aku lalu segera membuka pintu mobil dan turun. Kemudian beralih ke pintu di depan, masuk dan duduk di kursi depan. Kursinya masih hangat meninggalkan suhu tubuh Sera. Rasanya agak tidak menyenangkan karena Sera meninggalkan jejaknya di sini. Tapi karena sekarang aku sudah ada di samping mas Adit, perasaan tidak nyaman itu segera ku tekan dalam-dalam. Toh, yang duduk dengan mas Adit sekarang adalah aku dan bukan Sera lagi.


Begitu masuk ke dalam mobil, mas Adit kembali menjalankan mobil. Kebetulan jarak rumah Sera dan mansion Demian sedikit jauh jadi aku bisa menggunakan kesempatan ini untuk menikmati waktu-waktu kebersamaan ku dengan mas Adit. Meskipun kami tidak bertindak manis dan romantis selayaknya pasangan kekasih, namun aku sudah puas dengan situasi ini.


"Bagaimana pengalaman mu di kota D, apakah kamu merasa bosan karena sibuk ikut melakukan pertemuan bisnis denganku atau kamu cukup menikmati suasana kotanya?" Mas Adit memulai topik pembicaraan.


Ini masih seputar di kota yang baru saja kami kunjungi.


Sejujurnya pengalaman yang ku rasakan sangat baru dan menyenangkan sebab mas Adit selalu bersamaku.


"Pengalaman yang ku dapatkan selama mengikuti mas Adit ke kota D terbilang sangat baru karena aku belum pernah terjun ke dunia bisnis selama ini. Walaupun aku hanya bertugas sebagai asisten saja di samping mas Adit, tapi segala sesuatu yang mas Adit lakukan dan bicarakan dengan mereka juga menjadi perhatian ku. Karena itulah aku memiliki tambahan ilmu pengetahuan dalam urusan bisnis walaupun hanya sedikit selebihnya aku kurang mengerti. Dan hari ini, aku ucapkan terima kasih kepada mas Adit karena telah membawa ku berkeliling ke tempat-tempat yang belum pernah ku kunjungi sebelumnya. Aku senang dan sangat menikmati perjalanan kita. Mas Adit sekali lagi aku ucapkan terima kasih untuk perjalanan menyenangkan hari ini." Dari hari pertama sampai hari ketiga, aku sangat menikmati hari-hari ku di kota D.


Karena selama di kota D mas Adit selalu membawaku kemanapun dia pergi dan dengan siapapun dia akan bertemu, tak sekalipun mas Adi meninggalkan. Meskipun harus ku akui aku sangat kelelahan karena pergi ke beberapa tempat tanpa jeda dalam satu hari, namun asalkan bersama dengan mas Adit rasa lelahku tidak terlalu memberatkan langkahku.


"Bukan apa-apa, kamu tidak perlu sopan. Lagipula aku juga jenuh beberapa hari ini jadi tidak ada salahnya pergi mencuci mata ke beberapa tempat untuk menghilangkan rasa lelah." Mas Adit sangat baik.


Bahkan aku memiliki ilusi bila mas Adit saat ini sedang tersenyum ketika mengatakan ini.


"Mas Adit ternyata bisa bosan juga." Kataku geli.


Aku pikir mas Adit selain mendapatkan julukan sebagai manusia batu juga disebut sebagai manusia penggila kerja. Karena selama berada di mansion Demian, dia terus menerus sibuk melakukan segala sesuatu tanpa jeda dan hanya berhenti saat sudah larut malam. Ugh, kebiasaan hidup ini sungguh tidak baik dan berpotensi merusak tubuh.


"Tentu saja, aku juga manusia." Balas mas Adit.


Aku tersenyum geli, merasa aneh juga melihat sisi mas Adit yang tidak biasa.


"Apakah kamu tidak lelah mengikuti ku kemana-mana?" Dia bertanya kepadaku.


Aku menggelengkan kepalaku.


Bagaimana mungkin aku tidak lelah karena orang yang aku ikuti kemana-mana selama ini tiada lain dan tiada bukan adalah laki-laki yang ku sukai! Kemanapun dia pergi pasti aku akan ikuti selama mas Adit tidak merasa risih denganku!


"Cukup lelah, mas. Tapi aku tidak menyesal pergi dengan mas Adit." Kataku menyamarkan jawabanku agar tidak terdengar ambigu.


Eh, tapi kok masih saja terdengar ambigu!


"Senang mendengarnya. Lain kali bila ada tugas keluar kota lagi aku akan meminta tuan Davin dan nyonya Rein agar mengizinkan kamu pergi denganku."


Ah, aku sangat senang!


Darahku berdesir hangat saat mendengar perkataan mas Adit! Jika mas Adit mengatakan ini maka artinya aku masih memiliki kesempatan untuk pergi bersama mas Adit lagi! Aku masih memiliki kesempatan untuk tinggal di jarak yang sangat dekat dengan mas Adit lagi! Dan aku masih memiliki kesempatan untuk mengikuti kemanapun mas Adit pergi!


Ya Tuhan betapa bahagianya aku! Betapa senangnya hatiku!


Aku bahkan tidak bisa menggambarkan betapa manis yang dirasakan hatiku saat ini!


Walaupun ini hanya kata-kata belaka dan belum benar-benar terjadi, tapi kata-kata ini sudah menjadi jaminan di dalam hatiku.


Ini adalah janji yang mas Adit katakan sendiri kepadaku dan aku yakin, Tuhan pasti akan memberikan janji ini kesempatan untuk ditunaikan di masa depan nanti.


"Kenapa? Kamu tidak mau?" Suara beratnya segera menarik ku dari pikiran tinggi ku yang sempat melambung tinggi.


"Tidak, mas!" Bantahku buru-buru.


Tanpa sadar aku menggunakan volume tinggi saat berbicara dengannya. Dia menatapku tampak shock, mungkin kaget dengan volume tinggi suaraku. Malu, aku segera mengalihkan pandangan ku ke bawah tidak berani menatap wajah kagetnya.


Hah, dia pasti kaget dan berpikir bila aku adalah wanita bar-bar! Aku sangat menyesal.


"Ini...mas...ini...." Ah, betapa malunya aku.


"Aku tidak bermaksud untuk meneriaki mas Adit. Tapi aku memang mau dan bersedia, mas. Aku mau ikut mas Adit keluar kota lagi bila ada kesempatan." Kataku malu.


Aku menjelaskannya dengan hati-hati dan saat berbicara pun aku sengaja menggunakan nada suara rendah agar tidak membuatnya terkejut lagi.