My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
102. Jurit Malam



Tidak terasa 28 menit terlewati dengan cepat. Rein sejujurnya enggan beranjak dari tempat duduknya dan ia pun juga masih belum tahu harus bersikap apa saat bertemu Davin nanti. Ia masih belum bisa memikirkannya.


"Semua berkumpul, buat dua barisan panjang di depan kotak masing-masing!" Suara teriakan panitia acara menarik Rein dari lamunannya.


Malam ini ada jurit malam- mungkin lebih tepatnya sebagai ajang untuk berkencan jika beruntung mendapatkan nomor yang sama dengan sang kekasih, melakukan pendekatan bagi yang beruntung mendapatkan nomor yang sama dengan sang incaran hati, atau sebagai ajang pelepas stres dari banyaknya pekerjaan di kantor.


Semua itu bisa saja terjadi karena nanti setiap orang yang mendapatkan nomor sama akan dijadikan pasangan saat melakukan jurit malam. Setiap pasangan akan masuk ke dalam hutan dengan tali terikat di tangan masing-masing, melewati beberapa pos hantu yang mengejutkan dan menyeramkan. Kegiatan ini terbilang asik juga menyeramkan, setiap orang sangat bersemangat untuk melewatinya.


"Oh, kamu yang ada di sana!" Teriakan seseorang menghentikan langkah Rein.


Rein menoleh ke arah sumber suara, menatap bingung beberapa orang dewasa dengan kostum hantu dan riasan wajah yang 'agak' menyeramkan.


Tidak-tidak, hal yang paling menyeramkan adalah kostum putih-putih panjang yang mereka semua kenakan. Rein dibuat bergidik.


"Ya, kamu! Kemari lah!" Teriak laki-laki berpakaian pocong itu lagi.


Rein dengan ragu membawa langkahnya menghampiri mereka.


"Ada apa?" Tanya Rein.


"Tolong bantu kami, salah satu temanku yang bertugas menjaga pos 5 jatuh sakit. Dia tidak bisa menjalankan tugasnya dan kami tidak bisa membiarkan pos 5 menjadi kosong." Kata laki-laki itu memohon.


Rein merasakan sebuah firasat buruk,"Apa...apa yang harus akui lakukan untuk membantu kalian?"


Salah satu wanita berpakaian putih yang berperan sebagai 'kunti' menyerahkan pakaian putih kepada Rein.


"Gunakan ini untuk menggantikan teman kami."


Rein tercengang, ia sontak mundur ke belakang.


"Aku...aku tidak bisa!" Dia sangat takut gelap okay!


"Tapi jika kamu tidak mau maka pos 5 akan kosong. Kami juga tidak bisa meminta bantuan orang lain karena waktu sangat mepet. Lihatlah orang-orang di sana, mereka sudah bersiap-siap memasuki hutan." Mohon laki-laki itu.


Rein tidak tega tapi ia benar-benar tidak menyukai tempat yang gelap-gelap.


"Tapi aku tidak suka gelap." 


"Masing-masing pos harus membawa senter jadi jika terjadi apa-apa kamu bisa menyalakan senter. Dan ini," Wanita itu juga menyerahkan HT kepada Rein.


"Kita akan menggunakan HT sebagai alat komunikasi jadi kamu tidak perlu takut. Kita semua terhubung satu sama lain." Wanita itu terus membujuk Rein agar mau membantu mereka.


"Tapi..." Rein ingin menolak.


Namun, hati nuraninya tidak akan sekejam itu,"Baiklah. Tapi...tapi jika terjadi apa-apa kalian harus segera ke pos ku." 


"Tentu saja, kami akan segera ke pos mu bila terjadi sesuatu!"


...🍃🍃🍃...


Rein dan 'hantu-hantu' yang lain langsung masuk ke dalam hutan setelah membantu Rein menggunakan make up berdarah sedikit.


Mereka menyalakan senter masing-masing, mengirim Rein ke pos 5 bersama-sama sambil membicarakan beberapa peraturan yang harus mereka lakukan saat peserta jurit malam melewati pos.


"Di sini sangat gelap." Gumam Rein seraya membawa lampu senternya ke sembarang arah.


Yang lain menyahut,"Tidak akan seru jika hutan memiliki lampu! Jurit malam tidak akan mengasyikkan dan terkesan membosankan."


Jawaban ini memang ada benarnya. Bila hutan memiliki pencahayaan maka jurit malam akan terasa hambar.


"Nah, sekarang kita sudah sampai. Rein, ini adalah pos mu." Ucap laki-laki itu seraya mengarahkan cahaya senter pada pohon besar di depan mereka.


"Aku...aku...ini adalah pos 5?" Tanya Rein tidak percaya.


Ia pikir pos-pos akan dibangun seperti gubuk singgah, tapi bukan gubuk singgah yang ia dapatkan, melainkan sebuah pohon besar yang sarat akan rasa 'angker'.


"Ya, ini ada pos 5. Pos kita semua berdekatan jadi kamu tidak perlu khawatir. Sudah ya, Kak Bram bilang pasangan pertama sudah mulai memasuki hutan dan sekarang sedang menuju pos 1. Kita akan berbicara lagi lewat HT. Dah, Rein." Laki-laki itu pergi dan di susul oleh 'hantu-hantu' yang lain.


"Semangat, Rein!"


Rein panik, ia masih tidak berani ditinggalkan sendiri. Akan tetapi semua teman-teman 'hantu nya' telah pergi ke pos masing-masing.


"Aku...apa yang harus aku lakukan sekarang- eh, kenapa lampu senter ku semakin redup?"