My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
126. Video Call



Davin melakukan berbagai macam upaya untuk mempercepat semua proyek untuk menstabilkan posisinya sebagai ahli waris Demian. Tidak disangka, kegigihan Davin ternyata diketahui oleh para rubah tua licik dari keluarga Demian. Mereka melakukan banyak upaya untuk merusak rencana Davin berkali-kali, akan tetapi berkali-kali pula Davin memotong jalan mereka. Setiap tindakan dan sikap yang Davin ambil adalah bentuk kekejaman yang tidak bisa ditanggung oleh mereka, namun yang menjengkelkannya adalah para rubah tua licik itu masih tetap bersikeras mengganggu Davin, berusaha menggoyahkan posisi Davin sebagai ahli waris.


Dan karena inilah selama satu bulan ini mereka sangat sibuk mengurus segala sesuatu agar para rubah tua licik itu tidak menganggu rencana Davin lagi.


Adit menatap kosong pintu di depannya, bos yang ia hormati nyatanya tidak memberikan balasan apapun. Kemudian ia berpaling menatap tumpukan dokumen di tangannya, menghela nafas panjang, ia lalu membawa langkahnya ke meja kerja Davin untuk melanjutkan kembali pekerjaan Davin yang tertunda. Hatinya tenggelam dalam nelangsa, dia pikir Davin tidak perduli lagi kepadanya-


Ting~


Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Adit tidak memiliki mood untuk membukanya dan hanya melihat pesan itu sekilas-


Kedua tangan Adit langsung mengklik pesan itu, dari Davin.


Beberapa detik yang lalu Davin telah mentransfer sejumlah uang ke dalam rekening Adit. Nominal uang itu 3 kali lipat lebih banyak dari gajinya- tidak, lebih tepatnya 4 kali lipat dari gaji yang diterima setiap bulan.


Muncul lagi pesan dari Davin.


"Gaji dan bonus untuk bulan ini, jangan kecewakan aku." Gumam Adit membacanya.


Ini adalah sebuah pesan singkat, tidak ada kata-kata sayang ataupun perhatian di dalamnya, tapi hati Adit tidak bisa dipungkiri menghangat. Baginya Davin itu dingin dan datar, terkadang ia mengira jika Davin bukanlah orang yang suka bersikap romantis- pemikiran ini segera berubah ketika ia melihat interaksi lembut Davin kepada Rein. Hanya untuk Rein, dia akan selalu bersikap perhatian dan manis.


Dan untuk Adit sendiri, Davin tidak memberikan perhatian yang ramah, tapi...itu bukan berarti Davin tidak memiliki hati nurani. Davin selalu punya cara untuk membuat orang merasa hangat dan nyaman bersamanya. Seperti ini, Davin tidak perlu mengatakan banyak omong kosong. Tindakan sok dingin tapi memiliki kesan hangat adalah sisi Davin yang sebenarnya.


"Sangat memuaskan menjadi bawahan Anda!" Balas Adit tiba-tiba menjadi semangat menyelesaikan semua pekerjaan yang Davin tinggalkan.


Biarlah malam ini ia begadang, toh, dompetnya sudah terisi penuh jadi ia bisa bersantai dengan bonusnya setelah itu.


Sementara Adit yang diliputi perasaan bahagia ditengah-tengah kesengsaraan nya, Davin malah masih terjebak dalam kecemasannya yang masih belum surut. Davin berulangkali memanggil Rein tapi masih belum mendapatkan jawaban apapun darinya. Cemas, kepalanya saat ini tidak bisa berpikir dengan jernih.


Di lain tempat, orang yang sedari tadi Davin cemaskan baru saja keluar dari kamar mandi setelah mandi sebentar untuk membersihkan tubuhnya.


"Sigh.." Dia menghela nafas panjang menatap rumit Aska yang masih tidur dengan nyaman setelah buang kecil di atas kasurnya.


Apesnya, Rein tadi sempat menyentuh dan juga menduduki bagian kasurnya yang telah basah dikencingi oleh Aska.


Rein pikir ini semakin tidak wajar karena selain tidak bangun, Aska juga anehnya kencing di usianya yang sudah cukup besar, usia yang menurut Rein sudah bisa mandiri pergi ke kamar mandi tanpa perlu mendapatkan pengawasan.


"Aku harus membawa anak ini ke rumah sakit." Putus Rein.


Rein memutuskan untuk membawa Aska ke rumah sakit. Dia lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Davin. Masalah ini harus Davin ketahui agar tidak menimbulkan kesalahpahaman nantinya. Tapi yang mengagetkan adalah dia melihat lebih dari 20 panggilan tidak terjawab dari Davin.


Rein panik, ia buru-buru menelpon Davin dan langsung dijawab setelah beberapa detik panggilan terhubung.


"Video call!" Teriak Davin dari seberang sana.


Tud


Rein tercengang, ia menatap ponselnya ragu sebelum menerima panggilan video call dari Davin.


Di seberang sana Davin menatap serius wajah Rein. Dia menilai apakah ada sesuatu yang mencurigakan atau disembunyikan oleh Rein.


"Dav, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Rein heran.


Davin menghela nafas panjang setelah memastikan tidak ada yang salah dengan kekasihnya.


"Rein, kenapa kamu tiba-tiba berteriak dan mengabaikan panggilan telpon ku?" Tanya Davin lemah.


Rein akhirnya mengerti apa yang sedang terjadi. Davin pasti cemas karena ia tiba-tiba menutup sambungan mereka.


"Maaf, apa aku membuatmu khawatir?"


Davin tidak menjawab, semua ekspresi diwajahnya telah menjelaskan semuanya.


Rein tersenyum lembut,"Aska tadi buang air kecil di atas kasurku dan aku tidak sengaja menduduki bagian yang basah. Aku berteriak karena berpikir apa yang disentuh tanganku bukanlah air tapi ternyata air kencing. Di tambah lagi celana tidurku juga basah sehingga aku memutuskan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri tanpa sempat memberitahu mu. Maafkan aku, Dav. Aku tidak bermaksud membuat mu khawatir."


Rein tidak menyangka karena tindakan cerobohnya telah membuat Davin cemas diujung sana.


Davin menghela nafas panjang,"Jangan ulangi lagi, Rein. Kau tahu? Aku akan sangat berbahaya bila sedang marah."


Rein tersenyum geli,"Hem, aku janji tidak akan mengulanginya lagi."


"Eh, kamu mau kemana? Bukannya tadi kamu di apartemen?" Tanya Rein bingung baru menyadari jika Davin saat ini ada di dalam mobil.


Davin menjawab datar,"Pulang, aku harus memberikan mu hukuman untuk masalah ini." Dia masih marah dengan kecerobohan Rein.


Rein jelas tahu hukuman apa yang ingin Davin berikan kepadanya namun ia juga tidak bisa membantah saat ini karena di sini ia adalah orang yang salah.


"Dav, aku ingin membawa Aska ke rumah sakit malam ini." Rein dengan mulus mengganti topik pembicaraan.


Davin di seberang sana tidak keberatan, ia tahu Rein ingin melarikan diri topik pembicaraan tapi dia tidak akan pernah membiarkan Rein melarikan diri saat menerima hukuman nantinya.


"Hem, aku juga ingin mengatakan ini sebelumnya. Sementara aku sampai rumah, tolong bawa Aska ke rumah sakit Rein. Dia adalah satu-satunya harta berharga yang Mama da Papa tinggalkan aku di dunia ini. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadanya dan aku tidak ingin mengecewakan mereka bila tahu Aska hidup sengsara dibawah pengawasan ku."


Rein tahu apa yang Davin rasakan saat ini, dia lalu menghiburnya,"Davin yakinlah jika Aska pasti baik-baik saja. Dia adalah anak yang kuat, sama seperti Kakaknya yang tangguh."


Davin tersenyum tipis,"Kami beruntung memilikimu, Rein.


"Tidak Davin, aku yang beruntung memiliki kamu dan anak-anak, tanpa kalian hidupku pasti tidak akan sebahagia hari ini." Bisik Rein lembut sebelum mengakhiri pembicaraan karena ia harus segera membawa Aska ke rumah sakit.