My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
17. Revan



Rein cengengesan,"Gak tahu, Mbak. Coba deh tanya Dimas langsung kalau mau tahu. Eh, tapi ngomong-ngomong hari ini kita gajian, Mbak. Moga aja kita dapat bonus kayak karyawan yang lain. Kalau dapat Rein janji deh makin tambah semangat kerjanya."


Mbak Anggi sangat mendukung,"Jangankan lo, Rein. Gue aja kalau dapat bonus pasti semangat kerjanya jadi 45."


"Gibah aja terus sampai waktu istirahat habis. Kalau udah habis baru deh nyesel gibah mulu."


"Duh, sewot bilang, Mas. Gue tuh tahu lo ngiri kan sama gue karena bisa bebas ngomong sama Rein." Mbak Anggi mengejek tanpa ampun laki-laki tinggi berkulit putih yang baru masuk ke dalam sambil membawa kotak bekalnya.


"Jangan ngaco deh, Mbak." Katanya santai sebelum tersenyum sopan melihat Rein.


"Mbak sama Revan dulu, yah. Gue mau ganti baju dulu di dalam."


Rein membawa pakaian seragamnya ke kamar mandi. Dia tidak membutuhkan waktu lama untuk mengganti pakaiannya dan langsung keluar setelah selesai.


Di dalam Mbak Anggi dan Revan masih makan siang. Rein juga mendengar mereka membicarakan tentang ekonomi keluarga masingmasing.


"Kamu gak makan, Rein?" Revan mengalihkan perhatiannya kepada Rein.


Rein melambaikan tangannya sebelum membuka lokernya untuk menaruh pakaian gantinya.


"Aku tadi udah makan di rumah." Jawab Rein canggung.


Dia bisa bersikap santai di depan rekan-rekan kerjanya yang lain tapi tidak dengan Revan. Dia tidak tahu mengapa tapi Revan sepertinya tidak berasal dari kalangan yang sama dengan mereka yang bekerja kasar di sini. Revan adalah laki-laki tinggi berparas tampan, kulitnya putih tapi tidak terlalu putih dan bentuk badannya juga terjaga dengan baik seolah-olah dia adalah orang yang biasa pergi ke gym untuk berolahraga.


Dilihat darimanapun Rein selalu merasa jika Revan adalah orang yang berada dan tidak pantas bekerja di tempat seperti ini.


"Yah sayang banget, padahal aku sengaja bawa lebih lho biar kamu bisa makan bareng sama kita." Entah disengaja atau tidak Revan terkadang membuat sebuah pernyataan ambigu kepada Rein.


Rekan-rekan kerja yang lain berpendapat bila Revan punya rasa kepada Rein tapi pendapat itu segera dibantah oleh Rein karena dia tahu bahwa nilainya tidak setinggi itu sampai-sampai menarik perhatian pemuda setampan Revan. Daripada meliriknya, Revan jauh lebih pantas melihat para karyawati yang cantik-cantik dan seksi-seksi daripada melihatnya yang kurus serta kasar.


Lagipula juga dia tidak tertarik dan sudah belajar dengan baik dari pengalaman masa lalunya yang pahit. Dan dia tentu saja menolak mengulangi rasa sakit berkepanjangan itu karena dia tidak bisa berbohong karena sampai sekarang pun jejak laki-laki itu masih belum bisa ia hapus.


"Kalau bawa lebih makanannya bisa kamu bagi ke teman-teman yang lain. Mereka pasti suka kok dan gak akan nolak."


Dia mengunci lokernya sebelum pergi ke gudang untuk mengambil kain lap kaca dan sabun pembersih khusus.


Dia mengunci lokernya sebelum pergi ke gudang untuk mengambil kain lap kaca dan sabun pembersih khusus.


Ada baiknya jika Rein duduk sebentar seperti rekan-rekan kerja yang lain sebelum pergi bekerja.


"Iya, Mbak, biar gak bingung nantinya mau kerjain apa di atas. Udah ya, Mbak. Gue duluan dulu nanti Mbak sama Revan nyusul." Jawabnya asal-asalan.


Setelah itu Rein keluar dari ruang office boy & office girl dengan kain lap serta sabun pel khusus ditangannya.


Ruangan kerjanya ada di lantai 2 jadi dia harus naik tangga darurat ke lantai 3 dan selanjutnya. Karena lantai 1 adalah tempat parkir bawah tanah sedangkan lantai 2 digunakan untuk ruangan para staf seperti dirinya dan terakhir lantai 3 ke atas adalah milik para karyawan atau staf kantor.


Sebenarnya tidak ada yang salah dengan menggunakan lift tapi berhubung ini hanya 1 lantai saja Rein ingin berolahraga sedikit menggunakan tangga darurat.


"Apa lo beneran suka sama Rein?" Mbak Anggi bertanya santai kepada Revan setelah Rein benar-benar menghilang dari pandangan mereka.


Mbak Anggi sering melihat kelakuan ambigu Revan kepada Rein tapi selalu direspon santai oleh Rein. Mengenai alasan kenapa Rein tidak antusias kepada Revan, dia juga tahu alasannya karena Rein pernah menceritakannya meskipun tidak terlalu rinci.


"Masa iya sih, Mbak? Emang keliatan jelas banget, yah?" Dia meraba wajahnya yang kini sedang membentuk kerutan.


"Jangan pura-pura gak tahu deh, Van. Kita semua juga bisa langsung tahu dari sikap lo yang terlalu blak-blakan sama Rein."


Hampir semua rekan-rekan kerja mereka mengetahui sikap ambigu dan perhatian Revan kepada Rein yang terlalu berbeda.


Revan cengengesan.


"Kalau udah tahu terus kenapa Mbak masih nanya, jawabannya kan udah jelas." Dia sudah tidak ***** makan lagi.


"Namanya juga gue lagi basa-basi, anjir!" Ucap Mbak Anggi tidak habis pikir.


"Gue ngomong gini karena mau bantuin lo biar bisa dekat sama Rein, lo gak mau gue bantu?"