
Rein membantah,"Tio bukanlah anakmu!"
Davin tertawa kecil, bersikap seolah-olah kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Rein bagaikan sebuah lelucon yang sangat lucu di dalam pendengarannya.
Mengabaikan kemarahan Rein di belakang, dia dengan santainya berjalan masuk ke dalam kamar. Membaringkan Tio di atas ranjang dengan selimut hangat di sekelilingnya, lalu Davin menutup pintu rapat sebelum berbalik berhadapan dengan Rein.
Kini hanya ada mereka berdua di dalam ruangan ini. Diam membisu, mereka berdua hanya saling melemparkan pandangan saja dari jarak yang cukup jauh. Menggambarkan emosi masing-masing dari kedua pasang mata yang dulu pernah saling menatap dengan kelembutan.
"Tolong jauhi Tio." Pinta Rein dengan cairan hangat mulai mengalir dari sudut matanya.
Dia tidak bisa lagi menanggung semuanya.
Davin menolak,"Bagaimana mungkin aku bisa menjauhi darah daging ku sendiri?" Davin bertanya heran.
"Dia bukan anakmu!" Teriak Rein marah.
"Oh ya?" Davin kemudian mengambil map coklat tersegel yang sengaja ia siapkan untuk Rein.
"Lalu, bisakah kamu menjelaskan mengapa hasil tes DNA ini menyatakan jika Tio adalah putraku?" Dia melempar map coklat itu ke atas meja.
Rein menatap map coklat itu, bertanya-tanya bagaimana bisa Davin melakukan tes DNA padahal ia dan Tio sebelumnya tidak pernah bertemu.
"Kapan...kamu melakukan tes DNA?" Dengan tangan bergetar Rein mengambil map coklat itu, membukanya dengan buru-buru untuk melihat hasil yang sejujurnya tidak perlu ia tanyakan lagi.
Davin dan Tio positif, mereka memiliki ikatan darah yang tidak bisa dibantah oleh siapapun, bahkan oleh Rein sendiri.
"Kapan aku melakukannya dan bagaimana caraku mendapatkannya, kamu tidak perlu tahu. Karena hal yang paling penting saat ini adalah hasil tes DNA itu menunjukkan bahwa Tio adalah darah daging ku, dia adalah putraku, Rein!"
Dengan berurai air mata Rein membuang hasil tes DNA itu, menggeleng kuat,"Dia bukanlah anakmu tapi dia adalah anakku! Sejak hari dimana kamu menganggap kekurangan ku sebagai lelucon maka sejak hari itu pula aku dan kamu tidak punya hubungan apa-apa lagi, bahkan kamu tidak akan pernah punya hubungan apa-apa dengan Tio!" Teriak Rein marah, terdengar sangat frustasi.
Samar, tatapan tajam Davin meredup. Entah disadari atau tidak, Davin tidak lagi menatap Rein dengan tatapan dingin seperti beberapa saat yang lalu. Tatapan ini sulit dijelaskan- ah, mungkin lebih tepatnya Davin kali ini menatap Rein dengan sebuah tatapan yang cukup rumit.
PLAK
Sebelum Davin menyelesaikan semua kata-katanya, Rein sudah lebih dulu menghadiahinya sebuah tamparan.
Rein sangat terluka mendengar kata-kata brengs*k yang keluar dari mulut Davin. Seolah-olah ia adalah mesin pembuat anak yang digunakan hanya jika mesin baik-baik saja dan dibuang bila sudah tidak berfungsi lagi. Bukankah dirinya terlalu rendah di mata Davin?
Bukankah dia tidak ada bedanya dengan sebuah barang?
"Aku sekarang benar-benar muak, aku muak melihat mu, Davin!" Teriak Rein kesakitan.
"5 tahun yang lalu kamu memintaku untuk menghilang dari kehidupan barumu bersama wanita itu, dan aku melakukannya, Davin! Aku mengikuti apa yang kamu inginkan, bahkan tanpa mengambil sepeserpun uang yang kamu tinggalkan untuk membayar semua layanan ku. Dan pernahkah kamu berpikir betapa hancurnya aku hari itu? Pernahkah kamu berpikir betapa sakitnya yang aku rasakan ketika melihat kamu dan wanita lain bertindak intim di depan sebuah hotel? Pernahkah kamu membayangkan betapa hancurnya aku hari itu, Davin!" Rein terus berbicara, mengungkapkan segala rasa sakit dan lelahnya di hari itu.
Hari dimana ia bahkan sangat kesakitan hanya untuk bernafas saja karena rasanya sungguh menyakitkan, itu sangat menyakitkan.
"Kamu... berkhianat," Katanya menahan sakit.
"Dan kamu bahkan membalas semua ketulusan ku kepadamu dengan sejumlah uang, seolah-olah semua yang aku lakukan kepadamu tidak ada bedanya dengan pelayanan di club malam." Bahkan sampai dengan hari ini pun Rein tidak bisa melupakan rasa sakit hatinya saat itu.
Dia terluka, sungguh sangat terluka tapi hanya bisa memendamnya dalam diam.
"Aku sungguh hancur, bahkan sempat terpikirkan untuk mengakhiri hidup ini-"
"Rein," Kedua mata Davin ikut memerah, ia ingin menjangkau Rein tapi kedua kakinya seolah terpaku di lantai tidak bisa digerakkan saat melihat betapa basah wajah cantik itu dan betapa menyesakkan suara tangisan itu.
Rein tidak mendengar panggilan Davin- atau mungkin lebih tepatnya dia berpura-pura tidak mendengar suara panggilan Davin.
"Tapi aku memilih bertahan Davin, aku bertahan karena masih ada Tio yang membutuhkan ku di dunia ini. Dia tidak akan seperti kamu, menghargai ketulusanku dengan sejumlah uang. Dia tidak akanĀ seperti kamu, berpaling menemukan orang yang lebih baik hanya karena aku terlahir cacat! Dia tidak akan pernah seperti kamu, Davin! Dan dia bukanlah anakmu!" Isak Rein masih berbicara, meluapkan semua emosinya kepada Davin.