My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
93. Dengarkan Aku



Pagi harinya Davin bangun lebih terlambat dari biasanya. Ia semalam dan Adit begadang sampai subuh, sehingga begitu selesai beribadah mereka segera berpisah. Adit pulang ke rumahnya dengan cuti setengah hari sedangkan Davin tidur di kamarnya.


Rein tidak heran melihat Davin masih belum bangun karena ia tahu semalam laki-laki itu telah begadang bersama Adit.


Cklack


Kamar Davin tiba-tiba terbuka diluar dugaan Rein. Ia pikir Davin akan bangun pada jam 9 atau 10 tapi siapa yang tahu jika dia sudah bangun pukul 8 pagi.


"Daddy, pagi!" Orang pertama yang menyambut Davin adalah Tio, yah, siapa lagi kalau bukan dia.


Sementara Rein lebih memilih menyibukkan diri di dapur. Mengabaikan keberadaan mereka berdua.


Rein memasak sarapan dengan mulut diam membisu. Sesekali ia akan membawa kepalanya menoleh ke belakang melihat ke arah pintu masuk. Tapi tidak ada siapapun yang Rein dapati di sana. Tidak ada laki-laki menjengkelkan yang sudah beberapa kali merecoki acara memasaknya di dapur.


Entahlah, Rein merasa ada yang kurang dari semua ini. Ia menoleh ke belakang lagi, berdecak ringan, ia mengangkat bahunya tidak perduli- oh, mungkin lebih tepatnya dia perduli tapi bersikap pura-pura tidak perduli.


Setengah jam kemudian Rein menyajikan nasi goreng dengan aneka toping di atas. Melihat ke kiri dan ke kanan, Rein tidak menemukan keberadaan Davin dan Tio.


"Kemana mereka berdua pergi?" Ucap Rein bertanya.


Ia berkacak pinggang, mengintip ke ruang tamu dan ruang santai tapi masih tidak menemukan siapapun.


Sampai akhirnya ia menemukan mereka berdua di halaman belakang. 


Di halaman belakang, Davin dan Tio tertawa lepas sambil mengarahkan selang air ke tubuh masing-masing.


Air putih nan dingin membasahi pakaian mereka, meninggalkan jejak kotor dari tanah yang mereka duduki.


"Ya Tuhan, apa yang sedang kalian lakukan?" Rein bertanya masam, sebab Tio baru saja selesai ia mandikan beberapa saat yang lalu dan sudah bersih.


Tapi lihat sekarang, karena ulah Davin, putranya yang bersih dan wangi menjadi basah kuyup. Oh, jangan lewatkan noda lumpur yang kini telah mengotori pakaian putranya.


Davin... benar-benar, arghh.... menjengkelkan! Teriak Rein membatin.


Davin menoleh,"Bermain." Jawabnya santai.


Bermain?


Rein gatal ingin mencubit ginjal Davin. 


"Bermain?" Rein dengan perasaan jengkel yang menggebu-gebu terpaksa harus turun ke halaman.


Dia berkacak pinggang di depan Davin siap berdebat.


"Apa ini namanya bermain? Menyia-nyiakan air dan mengotori pakaian kalian!" 


Davi tersenyum miring,"Oh, aku tidak menyia-nyiakan air. Aku sengaja bermain air karena kebetulan belum mandi pagi."


Rein,"...." Dia pasti berbohong! Padahal jelas-jelas wajahnya terlihat bersih dan segar saat baru keluar dari kamar mandi tadi.


"Mau ikut bergabung?" Tawar Davin jail.


"Tidak, terimakasih. Baiklah, kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau di sini tapi tidak dengan Tio, okay! Tio baru saja mandi, ya Tuhan, dan dia juga baru saja mengganti pakaiannya tapi langsung kotor karena ulah kamu, Davin!" Rein dalam mood galak.


Dia bahkan lupa jika Davin adalah majikannya di sini.


Seperti biasa, Davin menganggap kemarahan Rein adalah sebuah penghiburan. Bukannya berbalik marah, dia justru semakin menjaili nya.


"Dia bisa mengganti pakaiannya dengan yang baru. Lagipula, dia suka bermain denganku- astaga, hujan turun!" Seru Davin kian antusias.


Dia merentangkan kedua tangannya, memeluk Tio sambil berlari kegirangan mengelilingi halaman. Tidak lupa juga ia menarik Rein ikut bersamanya sehingga mereka bertiga mandi hujan bersama-sama selayaknya keluarga kecil yang bahagia.


"Davin, kamu apa-apaan, sih!" Rein marah karena sekarang ia juga basah.


"Bukankah ini menyenangkan, Rein?" Tanya Davin dibawah guyuran hujan.


Tio sudah pergi berlari dengan mainan bebek raksasanya di halaman, tampak begitu kekanak-kanakan.


Rein mengusap wajah basahnya tidak tertarik. Ia ingin pergi tidak mau terus melayani Davin perkataan Davin selanjutnya membuat ia mematung di tempat.


"Tio bilang kamu menangis semalaman, apa ini karena aku?" Tanya Davin seraya membawa langkahnya mendekati Rein.


Dia tepat di belakang Rein, memandangi tubuh kurus Rein-nya dengan perasaan frustasi.


"Davin, aku sedang tidak mood membicarakan-"


"Rein, ayo bicara serius." Potong Davin tidak mau mendengar penolakan Rein.


"Semalam... apakah kamu menangis karena aku?" Davin mengulangi pertanyaan yang sama.


Rein memejamkan matanya menahan sesak.


"Bukan, ini bukan karena kamu." Dia setengah berbohong.


Davin masih bertanya,"Lalu, apa karena ini tentang masa lalu kita?"


Davin amat sangat mengerti bila kesalahannya 5 tahun yang lalu pasti sangat membekas di hati Rein dan sulit untuk dimaafkan. Namun, meskipun sulit setidaknya dia masih memiliki peluang untuk memperbaiki semuanya.


Rein mengepalkan kedua tangannya dengan mata terpejam.


"Tidak, tidak...masa lalu aku sudah lama melupakannya- Davin?" Kedua matanya sontak membola ketika merasakan tangan kuat telah melingkari perutnya.


"Davin, jangan main-main!" Rein tidak tahan berada sedekat ini dengan Davin, merasakan otot-otot kencang perutnya yang belum mengendur, merasakan hembusan nafas hangatnya di area perpotongan leher, semua ini hanya terjadi di masa lalu dan telah menjadi masa lalu untuk Rein.


"Aku sedang tidak bermain-main, Rein." Ucap Davin dengan nada suara yang lebih lunak daripada sebelumnya.


"Jika kamu tidak bermain-main maka lepaskan aku sebelum Tio melihat kita!" Rein menarik tangan Davin dari perutnya tapi percuma saja, tenaganya tidak sebesar itu.


"Rein, dengarkan aku." Pinta Davin seraya mengeratkan pelukannya.