
Kesal, Lisa menghentakkan kakinya marah sebelum kembali ke meja kerjanya untuk mulai memproses permintaan Davin.
Sementara itu di dalam, Davin mendudukkan putranya di sofa yang telah dipenuhi oleh banyak mainan.
"Jangan terlalu memanjakan, Tio." Kata Rein ketika melihat semua mainan itu.
Melihatnya tiba-tiba membuat kedua mata Rein iritasi. Ia tidak tahan dengan semua mainan-mainan ini karena takutnya Tio bisa lupa waktu karena bermain dan mulai malas belajar.
"Dia putraku, dia bisa mendapatkan apa saja yang dia inginkan." Davin menjawab santai seraya menemani putranya bermain.
Rein memutar bola matanya menahan sabar. Lagi-lagi jawaban itu yang Davin lemparkan kepadanya.
"Baiklah, cepat selesaikan urusan mu di sini agar aku dan Tio bisa segera pulang." Rein mengingatkan dengan murah hati tujuan mereka di sini.
Dia tidak tahan berada di sini karena mata-mata penuh pengawasan karyawan Davin di luar sana membuatnya tidak nyaman.
Davin masih menjawab santai,"Aku akan segera menyelesaikannya."
Meskipun dia mengatakan itu kedua tangannya masih sibuk menggerakkan mainan mobil-mobilan di depan Tio, membuat Tio tertawa puas tampak sangat menggemaskan.
Jujur, ini adalah sebuah pemandangan yang hangat dan Rein bersyukur putranya bisa tertawa selepas ini.
"Jangan menunda waktu, Dav. Kamu di sini untuk bekerja bukan untuk bermain-main dengan Tio." Rein merasa sedang berbicara dengan anak kecil.
"Jangan memerintah ku, Rein." Peringat Davin tidak suka.
Rein terlalu cerewet pikirnya. Padahal ia sedang bermain dengan Tio, menyenangkan putranya yang lugu dan membuatnya tertawa puas. Tidak seharusnya Rein mengganggu waktu-waktu hangatnya dengan Tio.
"Daripada mengganggu aku dan Tio, lebih baik kamu duduk saja di sini dan ikut bergabung dengan kami. Yakinlah, ini sangat menyenangkan." Saran Davin yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Rein.
Dia bisa bermain dengan Tio tapi tidak dengan Davin.
"Ogah." Tolak Rein tanpa rasa takut.
Davin tersenyum miring,"Menolak? Pergi ke dalam untuk mulai memasak makan siang." Perintah Davin tanpa nada menuntut seperti biasanya.
Rein gatal ingin menolak, tapi pikiran jernihnya mengingatkan jika ia masihlah pembantu Davin.
"Dasar tukang perintah!" Gumamnya jengkel sebelum membawa langkahnya masuk ke dalam kamar pribadi Davin.
Meninggalkan Davin dan Tio yang masih asik bermain di sofa.
"Tio," Panggil Davin sembari mengintip ke arah kamar.
Menoleh kearah putranya,"Mommy kamu orangnya galak, yah? Daddy sampai takut dimarah sama Mommy kamu terus." Adu nya kepada Tio.
Tio mengerjap-ngerjapkan kedua matanya terlihat sangat imut.
"Mommy malahin Daddy, ya?" Tanyanya polos.
Selayaknya anak kecil, Davin menganggukkan kepalanya semangat.
"Hooh, Mommy kamu orangnya galak banget sama Daddy. Ih, Daddy takut tahu sama Mommy kamu."
Tio bingung, kedua mata besarnya kemudian beralih menatap pintu kamar pribadi Davin, tempat terakhir yang dimasuki Rein beberapa saat yang lalu.
"Mommy gak galak kok, Daddy. Mommy sebenalnya sayang sama Daddy. Kalena gulu sekolah Tio bilang malah (marah) tandanya sayang, Dad. Jadi, Daddy jangan takut dimalahin sama Mommy kalena itu tandanya Mommy sayang sama Daddy." Kata Tio polos tanpa sadar telah menyentuh hati terdalam Davin.
Davin tersenyum lembut, tangan besarnya yang tadi sibuk memegang mainan kini beralih menjangkau puncak kepala putranya. Mengusapnya lembut dan penuh kasih sayang.
"Daddy tahu, Nak. Daddy tahu kalau hati Mommy kamu masih sama. Daddy tahu kalau dihatinya masih ada Daddy." Tersenyum lebar, tangannya turun mencubit gemas pipi putranya."Thanks, son. Kamu memang anak Daddy."
Setelah itu Davin membiarkan putranya bermain sendirian sementara ia diam-diam mengintip ke dalam kamar, mengintip Rein di dapur yang sedang sibuk memasak.
Rein, hari ini terlihat sangat cantik dengan sweater biru laut di tubuhnya. Sorot matanya jauh lebih lembut, tidak ada rasa ketus atau acuh tak acuh seperti sebelum-sebelumnya.
Dia lebih hangat.
"Rein," Davin terbawa suasana dan tanpa sadar memanggil namanya.
Rein terkejut, ia seketika menoleh ke belakang dan mendapati Davin kini tengah berdiri di pintu masuk. Entah sejak kapan ia ada di sana, Rein sama sekali tidak menyadari keberadaannya.
"Kamu...tidak diizinkan membantu." Peringat Rein canggung.
Davin mengangkat bahunya tidak perduli. Ia lalu masuk ke dalam dapur, menarik kursi makan dan duduk di sana dengan santainya.
"Aku di sini hanya ingin duduk-duduk saja." Jawab Davin lagi-lagi membuat suasana diantara mereka berdua menjadi canggung.
"Tidak ada yang menarik di sini. Kamu hanya akan merasa bosan tinggal di sini." Rein canggung, tapi berpura-pura santai di depan Davin.
Padahal, hanya Tuhan yang tahu betapa gugupnya ia saat ini. Berada di dekat Davin di tempat yang sama sedekat ini, ada kerinduan yang ingin dilampiaskan namun luka di masa lalu mengingatkannya agar jangan mengulangi kesalahan yang sama.
Mereka telah memilih jalan yang berbeda dan tidak ada kemungkinan mereka bisa bersama kembali.
"Bagaimana mungkin tidak ada yang menarik di sini? Bukankah keberadaan kamu di sini adalah satu-satunya hal yang menarik?" Davin berkata tanpa malu-malu.