My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
212



Dia telah lama mengamati interaksi Sera dan Adit dari jarak yang cukup jauh. Dia pikir semua harusnya berjalan baik-baik saja karena keinginan Sera untuk dekat dengan Adit akhirnya terwujud.


"Ini semua gara-gara wanita kotor itu! Dia mengacaukan pertemuan ku dengan Kak Adit!" Adu Sera terlihat cemberut.


Dia sangat kesal dan marah sekarang.


"Wanita kotor? Apa yang kamu maksud Anggi? Janda beranak dua itu?" Tebak sepupunya tidak yakin.


Pasalnya satu-satunya orang yang mengganggu kebersamaan Sera dan Adit barusan hanya Anggi seorang. Itupun tidak ada yang terjadi saat Anggi datang mengganggu, tapi melihat betapa cemberutnya Sera, apakah Anggi telah melakukan sesuatu yang menjengkelkan?


"Benar, janda beranak dua itu sangat suka menempeli Kak Adit! Aku takut Kak Adit akan berakhir seperti Paman kecil!" Kesalnya masih betah mengeluh.


Ketika mendengar keluhan ini, sepupunya segera mengernyit tidak setuju. Sebab siapapun di rumah tahu kejadian yang sebenarnya tentang Anggi dan Revan. Untuk memuaskan hasratnya, Revan berani menghubungi manta suami Anggi dan merayunya dengan sejumlah uang besar agar mau menjual Anggi kepadanya selama setengah bulan. Dalam kasus itu, Anggi tidak tahu apa-apa jika suaminya telah menjualnya kepada Revan. Dia hanya tahu jika suaminya memiliki hutang besar kepada Revan dan tidak memiliki cara untuk membayar Revan dengan cepat selain menjadi pelayan Revan. Dan dalam masalah inipun Anggi masih tertipu. Dia pikir hanya menjadi pelayan biasa tapi siapa yang menduga jika yang Revan maksud adalah pelayan ranjang?


Anggi tertipu tapi tidak bisa melakukan apa-apa karena baik mantan suami dan Revan telah sepakat memperjualbelikan nya.


Dan semua orang di rumah juga tahu Anggi dipekerjakan oleh Davin dan Rein adalah untuk menebus kesalahan Paman Revan. Mereka memberikan Anggi masa depan yang baik agar dia tidak terlalu menghakimi diri sendiri karena sudah kotor- inilah yang keluarga Davin pikirkan dan sangat prihatin dengan kehidupan Anggi juga anak-anaknya.


"Sera, bukankah kamu sedikit salah paham? Saat itu Paman kecil lah yang telah menipu Anggi agar bisa menjadi pelayannya." Bisik sepupunya hati-hati takut didengarkan oleh para tamu yang kebetulan lewat.


Pasalnya Anggi adalah asisten pribadi Rein, Nyonya besar mereka sehingga kehormatannya perlu dijaga dengan baik.


Sera meragukan cerita itu,"Entahlah, tapi yang pasti aku tidak suka dia terlalu dekat dengan Kak Adit. Kesannya dia terlalu menempeli Kak Adit kemana-mana." Decak Sera tidak puas.


Sepupu itu mengerti kecemburuan Sera dan memilih menenangkan suasana hatinya.


"Baiklah, lupakan masalah ini. Hari ini adalah pernikahan Kak Davin dan Kak Rein jadi tidak seharusnya kamu memperlihatkan wajah murung mu. Tersenyumlah, ini adalah hari yang membahagiakan untuk keluarga kita." Bujuk sepupunya berusaha meredakan amarah Sera.


Sera tidak semudah itu melepaskan amarahnya. Tapi karena hari ini Davin dan Rein menikah dia pikir tidak seharusnya dia menampilkan wajah bermuram durja di depan para tamu karena dapat merusak kebahagiaan suasana hati orang.


"Hem, kali ini aku akan melepaskannya." Katanya mengalah.


Mereka lalu pergi ke tempat semua anggota keluarga berkumpul dan mulai membicarakan rangkaian acara akad yang akan segera dimulai dalam beberapa menit lagi.


...🌪️🌪️🌪️...


Hari ini acara berlangsung sangat lancar dan meriah. Para tamu sangat menikmati acara dan bahkan tidak bisa melupakan betapa cantik nan menawannya pengantin wanita tadi. Seperti yang Anggi pernah katakan, beberapa tamu sangat enggan berkedip karena tidak ingin melewati keindahan Rein yang menggetarkan hati.


Ya, di dalam hati mereka berkata inilah wanita luar biasa yang telah berhasil menaklukkan hati dingin sang pewaris keluarga Demian, membuat sang berhati dingin jatuh sejatuh-jatuhnya hingga tidak ingin berpaling darinya. Kisah mereka begitu manis dan dirangkai dengan indah, membuat beberapa orang merasakan cemburu dan kagum pada saat yang bersamaan.


Rein terlalu luar biasa, pesonanya sungguh berbeda dari yang dimiliki oleh wanita lainnya.


"Istri, apakah kamu bahagia sekarang?" Davin dengan gugup meremas tangan istrinya untuk meyakinkan dirinya bahwa Rein kini telah resmi menjadi kekasihnya.


"Dav, aku sangat bahagia. Terima kasih untuk hari ini. Aku... kebahagiaan yang kurasakan hari ini tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata..." Ungkap Rein manis.


Hatinya menghangat dan kedua matanya memerah, menciptakan riak-riak tipis sembari menahan tangis tertahan agar tidak tumpah.


"Aku juga," Bisik Davin dengan kedua merahnya.


"Aku juga sangat bahagia. Rasanya semua ini bagaikan mimpi. Aku masih sulit mempercayainya jika hari ini kamu akhirnya telah resmi menjadi istri sah ku." Sambung Davin kian menghangatkan hati Rein.


Dia dan Davin telah melalui banyak hal bersama agar bisa tetap bersama sehingga ketika mereka akhirnya benar-benar menikah, semuanya tiba-tiba terasa mimpi dan sedikit tidak nyata.


"Mommy, Tio lapar?" Tio sudah bosan duduk di atas pelaminan tanpa melakukan banyak hal selain menonton para tamu makan dan makan kue.


"Iya, Dad. Aska juga lapar." Kata Aska yang bernasib sama seperti adiknya.


"Nyonya, tuan, izinkan aku membawa anak-anak untuk makan sesuatu di sana." Kata Anggi buru-buru tidak ingin merusak kebersamaan majikannya.


Ngomong-ngomong dia juga ingin melarikan diri dari mereka berdua karena mereka terlalu asik dengan dunia mereka sendiri dan melupakan ada orang di sekitar mereka!


"Tuan, aku juga akan menemani anak-anak." Kata Adit yang sudah mati rasa pendengarannya selama berdiri di sisi pengantin.


"Baiklah, kalian bisa pergi dan jaga anak-anak dengan baik. Malam ini aku akan memberikan bonus untuk kalian berdua." Kata Davin dengan murah hati.


Adit tertegun, lalu dia berkata dengan tidak puas,"Tuan, aku lebih suka gaji kami dilipatgandakan menjadi 3 kali daripada harus mendapatkan bonus." Ucapnya datar.


Mulut Davin langsung berkedut setelah mendengarnya. Jika ini hari biasanya, mungkin dia akan membalas Adit dengan kata-kata menohok. Akan tetapi berhubung malam ini dua sedang bahagia maka dia dengan bermurah hati membiarkan Adit lolos begitu saja.


"Baiklah, 3 kali lipat." Katanya mengalah.


"Dengan bonus yang tuan janjikan tadi?" Adit semakin ngelunjak.


"Baiklah, kamu juga akan mendapatkan bonus." Putus Rein tidak tahan melihat ekspresi sembelit suaminya.


Adit dan Anggi diam-diam bersorak di dalam hati mereka. Tapi karena menjaga wajah, mereka menahannya dengan baik.


"Benar saja, Nyonya jauh lebih bisa diandalkan daripada tuan." Ucap Adit datar namun terdengar sangat menyebalkan.


"Apa yang kamu katakan?!"


Adit dan Anggi buru-buru membawa anak-anak ke tempat makanan sebelum Davin kehilangan sabar.