My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
159



Malam harinya, Rein dan Davin melakukan pengukuran baju pengantin yang akan mereka gunakan pada hari sakral mendatang. Baju yang mereka buat tidak memiliki kesan glamor tapi memiliki rasa anggun dan berkelas. Bagaimana tidak berkelas jika orang yang membuatnya adalah desainer kelas atas yang sudah tidak asing lagi namanya di dunia fashion.


"Aku ingin sentuhan warna biru di dalam gaunku mengikuti tema resepsi kami." Pinta Rein kepada sang desainer.


"Ya, tolong sesuaikan dengan milikku juga." Sahut Davin tidak mau ketinggalan.


Tok


Tok


Tok


Pembicaraan mereka harus terhenti ketika mendengar ketukan pelan di pintu. Orang yang mengetuk pintu adalah Adit dengan pakaian rumahannya yang tidak biasa. Wajahnya yang datar memiliki tatapan serius ketika melihat Davin.


"Tuan, rumah utama baru saja menelpon." Katanya melapor.


Sama seperti Adit, wajah santai Davin perlahan mengkerut sangat serius. Dia lalu melepaskan alat pengukur di badannya sambil memandang ekspresi ragu calon istrinya. Rein terlihat khawatir dan Davin tahu ini pasti mengingatkan nya pada kenangan pahit mereka.


"Apa yang mereka katakan?" Davin bertanya acuh tak acuh sementara tangan besarnya sudah bergerak mengelus rambut Rein.


Sementara desainer itu dan tim kerjanya segera mengemasi barang-barang mereka untuk segera pergi karena mereka tidak berniat menguping pembicaraan. Toh, mereka adalah orang asing dan di samping itu tidak mampu memprovokasi kalangan orang-orang elit.


"Tuan, malam ini Anda diminta segera datang ke rumah utama untuk makan malam bersama anggota yang lain." Ini adalah undangan yang tidak mungkin ditolak.


"Makan malam, yah..." Davin lalu mengelus pipi lembut Rein beberapa, setelah itu tangannya turun meraih telapak tangan ramping Rein.


Memegangnya dengan erat tanpa niat untuk melepaskan.


"Kebetulan sekali. Aku dan Rein juga ingin mengatakan sesuatu kepada semua orang. Jadi, besok kami tidak perlu susah-susah menghubungi mereka semua."


Dia tahu kehadirannya tidak pernah diterima di rumah itu.


Davin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja kamu harus ikut. Kamu adalah calon istriku sekaligus calon Nyonya besar rumah utama. Sebagai Nyonya besar, kamu harus mengenal anggota keluarga ku dan membiasakan diri dengan sifat maupun sikap 'terdidik' mereka. Apakah kamu tidak mau melakukannya?"


Rein menggelengkan kepalanya membantah. Dia ingin berjuang dengan Davin dan tidak mau dipisahkan lagi, jadi sudah seharusnya dia bergerak bersama untuk memperjuangkan kebahagiaan mereka berdua dan anak-anak.


"Tidak, aku mau ikut bersama mu. Kalau begitu aku harus bersiap-siap agar mereka tidak menunggu lama." Rein panik dan melarikan diri dengan tergesa-gesa.


Tapi Davin segera menarik tangan Rein dan menghentikannya.


"Jangan terlalu buru-buru. Ini adalah kunjungan pemimpin keluarga mereka, jadi tidak ada salahnya untuk menunggu kedatangan kita sebentar saja."


Rein ragu tapi saat melihat ekspresi acuh tak acuh Davin, dia mau tidak mau menganggukkan kepalanya.


Setelah menenangkan dirinya, Rein lalu mencari Anggi dan sekali meminta bantuannya.


"Jangan gugup, Rein. Kamu harus santai agar aku juga nyaman saat merias mu." Kata Anggi tidak berdaya.


Rein tersenyum malu. Dia merapikan pakaiannya yang tidak kusut, memperbaiki duduk dan mengambil nafas panjang untuk menyingkirkan rasa gugupnya.


"Mbak Anggi, malam ini sangat penting jadi aku tidak bisa tidak gugup."


Anggi tersenyum,"Rein, jangan terlalu banyak berpikir. Cukup lihat saja Tuan Davin dan kamu akan segera menjadi santai."


Ketika memikirkan wajah Davin, Rein tanpa sadar tersenyum. Anggi benar pikirnya. Davin adalah dunianya jadi mengapa dia masih takut disaat dunianya ada bersama dirinya. Davin akan selalu ada di sampingnya dan tidak ada seorangpun di rumah itu yang bisa menyakitinya karena Davin adalah pewaris keluarga Demian!