
Tidak seperti Nenek yang meronta-ronta membuat masalah, Revan justru terlihat sangat linglung dan diam saja saat polisi memborgol tangannya.
"Bahkan putramu juga tidak bisa memberikan bantuan apa-apa kepadamu. Kabar baiknya, dia juga memiliki akhirnya sendiri. Karena mencoba melakukan pembunuhan berencana dan jual beli manusia untuk memuaskan keinginan biologisnya, Revan akan terancam hukuman seumur hidup di dalam penjara. Sisa hidupnya akan dihabiskan di dalam jeruji besi untuk merenungi semua kesalahannya selama ini. Tidakkah menurut mu ini kabar baik? Tidak seperti kamu yang harus kehilangan nyawa, putramu setidaknya masih hidup di dunia ini." Davin dengan malas menjelaskan tapi matanya masih betah berlama-lama mengamati setiap perubahan ekspresi di wajah Nenek.
"Tidak, bagaimana mungkin kamu bisa melakukan itu kepada putraku!" Nenek tidak bisa menerimanya.
Kebenciannya terhadap Davin kian melonjak saja. Dia ingin menerjang ke arah Davin, melampiaskan semua kebenciannya dengan mencakar wajah Davin, tapi sayang dia tidak mampu melakukannya karena para polisi wanita itu telah memborgol tangannya dan bahkan menahan lengannya agar tidak bisa melarikan diri kemanapun.
Kali ini bukan Davin yang menjawab, melainkan Rein yang mulai bosan mendengarkan suara teriakannya.
"Jika kamu dan putramu bisa mencelakai kekasihku, maka mengapa kekasih ku tidak bisa mencari keadilan untuk dirinya sendiri? Seolah-olah dunia ini hanya berputar untuk kalian saja. Dasar wanita tidak tahu malu." Balas Rein kasar karena sudah tidak tahan dengan suara melengking Nenek.
"Dav, di sini sangat membosankan. Aku lelah mendengar teriakannya." Kata Rein sengaja menggunakan nada centilnya agar perhatian Davin tertuju padanya.
Dia tahu dibalik senyum kepuasan ini Davin-nya sedang bersedih. Davin pasti sangat kecewa dengan orang-orang yang telah ikut campur dalam pembunuhan kedua orang tuanya. Mereka tidak lain dan tiada bukan adalah saudara Papa Davin sendiri. Orang yang memiliki darah yang sama, Ibu yang sama, dan ikatan yang sama. Namun karena harta, semua itu tiba-tiba tidak berarti apa-apa.
"Yah, ini juga sudah larut malam. Anak-anak pasti sudah menunggu kepulangan kita." Ucap Davin tidak mengecewakan harapan Rein.
Dia terlebih dahulu melepaskan jas hitamnya dan memakaikan jas hitam itu ke tubuh Rein agar dia tidak kedinginan melihat betapa tipisnya gaun Rein malam ini. Davin tidak suka sebenarnya Rein menggunakan pakaian terbuka dan setipis ini. Selain karena takut Rein bisa masuk angin, dia juga takut orang lain memperhatikan tubuh kekasihnya.
Pemandangan itu sungguh sangat menjengkelkan. Davin membencinya.
"Terima kasih, ini rasanya jauh lebih baik." Bisik Rein dengan senyuman lebar di wajah cantiknya.
Hati Davin melembut, dia mengusap pipi lembut kekasihnya sebelum menarik tangannya untuk pergi. Melihat Rein dan Davin akan pergi, Anggi dan Adit buru-buru berjalan menghampiri mereka. Melepaskan semua urusan kepada pihak yang berwajib.
Saat akan melewati Revan, Davin sengaja melambatkan langkahnya sambil berkata,"Terima kasih, para wartawan yang kamu undang benar-benar membantuku malam ini. Aku tidak perlu mengerahkan bawahan ku untuk menyebarkan berita tentang kalian."
Revan tertegun, dia menatap Davin kosong terlihat tidak bernyawa. Malam ini tidak hanya rencananya hancur tapi dia juga ditangkap polisi. Nenek dan orang-orang yang berkomplot dengannya semua ditangkap, tidak ada yang bersisa. Jujur, dia tidak terlalu terkejut dengan hasil ini karena menurutnya dia masih bisa melewati hidupnya walaupun di dalam jeruji besi. Ini masih bisa dilewati pikirnya. Tapi hal yang membuatnya sangat shock dan tidak bisa berkata-kata adalah penolakan Kakek Demian terhadapnya. Kakek Demian tidak hanya menghinanya tapi dia juga tidak mau mengakuinya sebagai anggota keluarga Demian. Mulai dari malam ini dia tidak akan menjadi anggota keluarga Demian lagi, dia tidak akan pernah kembali ke rumah ini.
Rasanya sungguh menyakitkan.
Tapi dia tidak bisa mengatakan apa-apa karena lidahnya terasa kelu dan tenggorokannya kering tidak bisa mengeluarkan suara.
Sedangkan kepalanya... kepalanya sedari tadi berdengung nyaring. Membuatnya pusing dan linglung pada saat yang sama.
Dia...masih belum bisa mencerna semuanya..
Davin enggan tapi masih menoleh tanpa mengatakan apa-apa. Anggap saja ini adalah interaksi terakhir mereka sebelum dia dijebloskan ke dalam penjara.
"Aku adalah Paman mu. Sejak kamu kecil aku selalu menjagamu dan sudah menganggap mu sebagai anak ku sendiri-"
"Oh ya," Davin tahu kemana arah pembicaraannya dan dia tidak akan pernah membuatkannya menyelesaikan ucapannya.
"Papa juga Kakak mu tapi kenapa kamu masih tega membunuhnya? Dan aku, kau bilang sudah menganggap ku sebagai anakmu tapi kenapa kamu masih ingin membunuhku? Apa kamu pikir aku bodoh mau saja dibodohi oleh mu? Hah, sekarang nikmatilah waktu manis mu di dalam penjara. Anggap saja ini adalah permintaan maaf atas semua kejahatan yang telah kamu lakukan kepada keluarga ini." Putus Davin dingin seraya memalingkan wajahnya tidak mau melanjutkan pembicaraan lagi.
Dia melingkari pinggang ramping Rein dengan tangannya dan menariknya keluar dari rumah ini. Saat pintu terbuka mereka langsung disambut oleh kilatan cahaya kamera yang jauh lebih banyak dari sebelumnya. Sepertinya wartawan dari media lain mendengar ada kejadian besar yang terjadi di mansion Demian saat melihat banyak polisi yang berdatangan ke sini. Mereka masuk ke mansion dan tidak pernah keluar lagi.
"Tuan Davin Demian, tolong lihat ke arah kamera!"
"Tuan Davin, bukankah kakimu terluka sebelumnya tapi mengapa kamu tiba-tiba bisa berjalan?"
"Tuan Davin maukah kamu menjelaskan mengapa banyak polisi yang datang ke sini?"
Davin segera diserbu oleh berbagai macam pertanyaan dari para wartawan. Mereka mengelilingi Davin dengan galak, berusaha mencari peluang atau kesempatan agar bisa mendapatkan informasi sedikit saja dari Davin.
Namun malam ini suasana hati Davin sedang down. Dia tidak memiliki mood untuk melayani para wartawan dan mengintruksikan Adit untuk menyelesaikannya sendiri.
Sementara Adit yang tertangkap tidak siap,"......bos, gaji ku bulan ini harus 3 kali lipat lebih banyak dari sebelumnya." Ucap Adit muram.
Davin terkekeh geli, dia memberikan tanda oke sebelum menghilang masuk ke dalam mobil bersama Rein dan Anggi.
"Tuan Adit, apa yang sebenarnya terjadi di dalam? Mengapa Tuan Davin tiba-tiba bisa berjalan setelah sebelumnya masuk dengan kursi roda?"
"Kami melihat ada banyak anggota polisi yang masuk ke dalam rumah, Tuan Adit, maukah kamu menjelaskan kepada kami apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana?"
"Tuan, apakah di dalam terjadi sebuah perkelahian? Tapi mengapa yang datang hanya polisi dan dimana mobil ambulans nya?"
"Benar Tuan, kami juga mendengar suara teriakan seseorang dari dalam. Jadi apakah benar terjadi perkelahian di dalam rumah?"
Adit yang tidak memiliki kesempatan untuk menjawab,"...." Yah, imajinasi wartawan terlalu kreatif. Tuan Davin harus memberikannya gaji tiga lipat sebagai bentuk kompensasi malam ini.