
Ada luka jahit di perutnya, jahitan itu Rein dapatkan ketika melahirkan Tio. Saat itu ia tidak bisa melahirkan secara normal karena pinggangnya terlalu kecil dan tubuhnya dalam keadaan tidak sehat.
Bila saja Rein sehat, maka mungkin ia masih bisa melahirkan secara normal sekalipun pinggangnya kecil. Tapi ia tidak bisa melakukan itu karena pada saat itu ia masih belum bisa melupakan sakit hatinya terhadap Davin.
Dia mengalami depresi saat hamil, nafsu makannya menghilang padahal dia memiliki Tio yang harus tetap mendapatkan asupan makanan bergizi. Tapi Rein tidak bisa, karena depresi setiap makanan yang ia paksakan masuk ke dalam mulutnya akan mendapatkan serangan balik. Dia akan muntah-muntah dalam waktu yang lama, mengalami kesulitan bangun hingga berhari-hari yang sangat mengkhawatirkan. Tapi untungnya Tio baik-baik saja, dia adalah anak yang kuat bahkan sejak berada di dalam kandungan. Meskipun lahir lewat operasi sesar tapi Tio masih sangat sehat dan memiliki berat badan normal.
Tio lahir dalam keadaan fisik sempurna yang sangat melegakan.
"Mengapa aku harus tidak nyaman atau merasa jijik ketika menyentuhnya?" Davin kesulitan mengikuti alur pemikiran Rein.
Rein mengepalkan kedua tangannya menahan malu,"Ya, kamu jijik, Davin! Aku merasakannya! Kamu ketakutan ketika menyentuh sayatan itu! Kamu kecewa'kan?"
Mendengar tuduhan tidak mendasar Rein kepadanya, Davin tidak marah. Ia menghela nafas panjang, menggeser duduknya lebih dekat lagi dengan Rein. Ia tahu dan mengerti bila Rein pasti kurang percaya diri karena luka jahit itu. Ia pasti berpikir Davin tidak suka dengan permukaan perutnya yang tidak sehalus dulu lagi- padahal faktanya Davin tidak mempermasalahkannya.
Ia bahkan tidak takut seperti yang Rein takutkan!
"Rein, dengar." Davin menyentuh tangan terkepal Rein, menyentuhnya hati-hati dan mencoba menariknya untuk ia genggam.
Meskipun Rein sempat menolak tapi Davin tidak menyerah, ia mengeraskan tekadnya menarik tangan Rein untuk ia genggam.
"Rein, lihat aku." Pinta Davin lembut.
Rein ragu, dia malu melihat Davin untuk saat-saat ini.
"Jangan malu, lihatlah aku, ku mohon." Pinta Davin dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya.
Tidak punya pilihan lain, Rein terpaksa mengangkat kelopak matanya menatap Davin yang kini juga sedang menatapnya.
"Kamu bertanya apakah aku takut ketika menyentuh luka jahit itu? Jawabannya, ya, aku ketakutan tapi ketakutan ku bukan karena aku merasa jijik, Rein. Aku sungguh tidak jijik. Lebih jelasnya aku mungkin sangat terkejut karena diriku kamu harus membiarkan pisau dingin itu melukai kulitmu. Karena melahirkan putra kita, kamu sampai harus mengibarkan dirimu. Jujur, aku tidak bisa membayangkan betapa kesepiannya dirimu saat itu menghadapi putra kita. Aku sekarang merasa sangat bersalah, Rein. Aku tidak bisa membayangkan betapa sakit dirimu saat itu dan betapa kesepiannya kamu saat itu melahirkan Tio. Aku minta maaf, Rein." Ucap Davin sendu.
Ia menggenggam erat tangan Rein terlihat sangat menyesal dan putus asa. Kesedihan di wajahnya benar-benar menghilangkan ketakutan Rein. Dengan senyum kecil yang terbentuk di wajahnya, Rein membalas genggaman erat tangan Davin. Ia menjatuhkan lututnya sebelum beralih memeluk tubuh Davin. Ia memeluk Davin erat yang langsung dibalas dengan pelukan erat oleh Davin.
"Aku sudah melupakan semuanya, Davin, aku sudah melupakan semua kenangan pahit itu. Walaupun bekasnya masih ada tapi aku tidak merasa sakit lagi ketika mengingatnya karena aku tahu kamu selalu mencintaiku di masa itu ataupun di masa sekarang."
Davin tersentuh, ia mengembangkan senyuman lebar di wajahnya. Menenggelamkan kepalanya di perpotongan leher Rein untuk menenangkan kegelisahan hatinya.
"Aku minta maaf, Rein. Aku tahu kamu akan selalu menyediakan ruang maaf kepadaku. Tapi tetap saja aku masihlah laki-laki yang tidak berguna untukmu." Bisik Davin masih gelisah.
"Davin please, jangan katakan itu lagi. Aku tidak senang mendengarnya! Bagiku kamu adalah duniaku jadi jangan rendahkan dirimu lagi!" Marah Rein sambil memberikan cubitan kecil di perut keras Davin- oh, astaga!
Perut Davin tubuh memiliki lemak seperti dirinya! Perut Davin sangat keras dan berbentuk kotak-kotak!
Ugh, berapa banyak kotak di dalamnya?
Rein iseng membawa jari-jari rampingnya menghitung berapa banyak kotak yang Davin miliki.
Davin memiliki eightpack!
Rein membuka mulutnya terkejut! Dia sangat bersemangat ketika memikirkan bagian tubuh paling seksi milik Davin.
"Suka, hem?" Suara husky Davin berhasil mengejutkan Rein.
Ia spontan menariknya tangannya tapi segera ditahan oleh Davin. Semburat merah kembali mengembang di kedua pipi tirus Rein, menghidupkan kembali gejolak yang sempat menghilang dari dalam tubuh mereka.
"Apa yang membuat mu, malu?" Tanya Davin dengan senyuman terkulum di bibirnya.
Rein menundukkan kepalanya tidak berani menjawab- ah, mungkin lebih tepatnya dia tidak mau menjawab karena malu. Jujur, bila ditanya suka, Rein tidak akan ragu menjawab suka, tapi hanya di dalam hatinya. Ia tidak berani menyuarakannya secara langsung di depan Davin.
Melihat rona malu kekasihnya, Davin tidak bisa menahan tawa rendahnya yang membuat kulit Rein tergelitik. Ada sensasi manis yang Rein rasakan ketika nafas hangat Davin menerpa kulit leher Rein.
"Dulu," Davin mengarahkan tangan ramping Rein untuk menyentuh otot-otot kuat di perutnya.
Membimbing Rein untuk mengusap otot-otot kaku tersebut sambil membisikkan kata-kata yang bernada seduktif ditelinga Rein.
"Kamu sangat menyukai tempat ini, Rein. Kamu sering menyentuhnya karena kamu bilang aku terlihat sangat seksi bila tidak menggunakan baju. Sekarang aku bisa menjamin jika kamu juga masih menyukainya karena tempat ini sekarang memiliki dua otot tambahan. Apa kamu merasakannya?"
Rein meneguk ludahnya kasar. Ia menganggukkan kepalanya malu-malu. Tangan kanannya bisa merasakan otot-otot keras itu dibawah arahan tangan Davin.
Jika dulu Davin memiliki sixpack, maka setelah 5 tahun berlalu Davin memiliki dua otot tambahan. Dibandingkan dulu, otot-otot Davin sekarang jauh lebih kencang dan kuat. Rein suka menyentuhnya.
"Suka?" Tanya Davin menggodanya.
Rein lagi-lagi menganggukkan kepalanya malu.
Tapi Davin sangat suka menggoda Rein, ia tidak berniat melepaskan Rein dan memaksanya untuk menjawab secara langsung.
"Jawab, Rein. Apa kamu menyukainya?"
Wajah Rein semakin panas, perlahan ia mengangkat kepalanya menatap wajah tampan Davin yang sangat mempesona dan... terlihat sangat seksi, ugh!
"Aku menyukainya." Rein kali ini menjawab dengan suara dan bukan anggukan kepala lagi.
Tapi suaranya sangat kecil dan sarat akan rasa malu yang sangat menyenangkan pendengaran Davin.
"Apa kamu mau melihat dan menyentuhnya secara langsung?" Davin memberikan tawaran menggiurkan.
Sejujurnya dia murni bertanya karena ingin menggoda Rein. Pasalnya Rein adalah orang yang pemalu sekalipun dia sangat menyukai otot-otot keras itu, Davin yakin dia tidak akan memiliki keberanian untuk meminta Davin melepas bajunya.