
Pukul 8 malam, Davin dan keluarga kecilnya tiba dikediaman utama keluarga Demian. Mereka datang dengan mobil limusin perak menyala yang menyita banyak perhatian. Kilatan cahaya kilat memantul dari permukaan perak limusin, semakin menarik perhatian para wartawan yang entah sejak kapan berada di sini.
Malam ini adalah makan malam khusus anggota keluarga Demian dan bukan lagi perjamuan umum. Ini adalah pertemuan pribadi dan tidak seharusnya media mengetahuinya. Tapi begitulah yang terjadi. Mobil limusin Davin langsung disambut hangat oleh kilatan cahaya dari berbagai macam kamera dari beberapa media.
Rein tercengang, namun sedetik kemudian bibirnya melengkung indah membentuk senyuman sinis. Malam ini dia mengubah dirinya menjadi tempramen yang tidak kenal ampun, tampak dingin dan acuh tak acuh.
Ini bukan tanpa alasan dia melakukan perubahan mendadak. Jika bukan karena identitasnya sebagai Nyonya besar keluarga Demian, dia masihlah Rein yang lembut. Namun untuk posisi ini dan mengamankan posisi kekasihnya, dia harus menjadi wanita yang kuat dan tidak mudah diprovokasi.
"Sayang, keluarga mu malam ini sangat mengganggu." Bisik Rein menahan ketidaksenangannya lewat senyuman lebar teredam, tersenyum tapi sudah tidak bisa dikatakan senyuman lagi.
Davin mengelus lembut rambut kekasihnya, menyingkirkan helain rambut nakal yang telah menghalangi pandangannya melihat betapa menawannya Rein malam ini.
"Maafkan kebodohan mereka, sayang. Aku janji, setelah malam ini mereka tidak akan mengganggumu." Janji Davin dengan nada bercanda.
Rein tertawa kecil. Dia melirik ke jendela luar sekali lagi. Menatap kilatan cahaya kamera yang terpantul dari badan limusin perak Davin.
"Ayo keluar. Mereka pasti sudah tidak sabar ingin melihat 'kondisi mu." Ajak Rein memiliki implikasi makna tertentu.
Davin juga ikut tertawa. Dia lalu mengangguk sebagai persetujuan.
Setelah mendapatkan persetujuan Davin, dia langsung membuka pintu limusin perak, seketika itu juga temperamen Rein langsung memiliki perubahan besar. Dia tampak jauh lebih mendominasi dan memiliki rasa arogansi yang mencekik.
Para awak media tercengang melihat betapa indahnya Rein malam ini. Bahkan mereka sejenak lupa untuk mengambil gambar Rein yang terlihat sangat indah malam ini.
Rein terlihat sangat mempesona. Kaki ramping dan jenjangnya terlihat sangat seksi dengan sepasang-
"Nyonya, saya akan membantu tuan keluar." Suara datar Adit menarik para awak media dari keterkejutan mereka.
Sedetik kemudian mobil limusin perak Davin dibanjiri oleh berbagai macam cahaya kamera yang menyilaukan dan membuat jengkel. Rein tertangkap tidak siap dengan badai cahaya kamera para awak media. Dia mengangkat tangan untuk melindungi kedua matanya dari cahaya kamera.
Rein segera menyadari sikapnya dan tanpa ragu menurunkan tangannya. Bergerak menyamping untuk mengabaikan kamera karena fokusnya sekarang hanya tertuju pada kekasih 'cacatnya'.
"Nyonya, ini kursi roda tuan Davin." Anggi mendorong sebuah kursi roda yang sangat mencolok dari samping Rein.
Rein tersenyum,"Terima kasih."
Dia lalu berpaling menatap kekasih 'cacatnya' yang keluar dengan dipapah oleh Adit.
"Sayang, duduklah dengan hati-hati."
Para awak media langsung membuat suara riuh karena ketidakpercayaan. Mereka shock melihat secara langsung bagaimana keadaan Davin yang akhir-akhir ini sering diterpa rumor.
"Calon pewaris Demian mengalami patah tulang dan lumpuh di atas kursi roda, kondisinya ini... apakah masih bisa mempertahankan posisinya?" Bisik-bisik para awak media sangat terkejut melihat kondisi Davin secara langsung sekaligus bersemangat karena mereka dapatkan berita tambahan lagi.