
Davin berbicara dengan lembut, menyelimuti Rein sepenuhnya dengan kehangatan hatinya. Dia memeluk Rein, membawanya ke dalam pelukan dan mendekapnya dengan erat tidak ingin kehilangan lagi. Melalui pelukan ini mereka berbagi kasih sayang, tampak seperti tahun-tahun sebelum dunia memusuhi mereka.
Adit tersentuh. Kedua matanya tanpa sadar memerah. Untuknya, Davin adalah sahabat sekaligus Kakaknya. Karena disaat dia terjatuh dan kesusahan, hanya Davin lah yang datang mengulurkan tangan kepadanya. Davin adalah orang yang baik, dia penuh akan kemurahan hati. Akan tetapi sejak Davin dipojokkan oleh Kakeknya dan terpaksa mengemban kekuasaan dibawah tekanan Kakeknya, karakter Davin perlahan terkikis.
Dia mulai jarang tersenyum, memiliki sikap yang dingin dan tidak ramah, semua orang yang melihatnya mengatakan dia luar biasa berwibawa tapi bagi semua orang yang mengenalnya mengatakan jika Davin telah berubah.
Davin bukan lagi Davin yang mereka kenal.
Tapi lihatlah hari ini.
Davin seakan kembali di tahun-tahun itu. Dia menjadi banyak tersenyum dan tidak bersikap dingin lagi. Dan semua itu terjadi semenjak Davin bertemu kembali dengan Rein, belahan jiwanya telah lama hilang.
Rasanya sudah lama sekali pemandangan hangat ini masuk ke dalam matanya.
"Uncle?" Suara lembut Tio m mu huenarik Adit dari pikirannya.
Adit menoleh ke samping. Entah sejak kapan Tio dan Aska telah berdiri di sisinya. Mereka berdua terlihat tampan dan cemerlang, sangat pintar di usianya yang masih sangat kecil. Jelas mereka mengikuti gen luar biasa yang dimiliki oleh Davin.
"Mata uncle merah." Kata Aska datar.
Sementara tangan kecil Tio telah terangkat menyentuh sudut mata Adit.
"Daddy bilang laki-laki tidak boleh menangis, tapi Mommy bilang sesekali laki-laki juga boleh menangis kalena laki-laki juga punya hati." Ujar Tio dengan suara kekanak-kanakannya yang manis.
Sudut mulut Adit berkedut ingin membantah mereka berdua. Tapi...dia tidak bisa karena seperti yang Tio katakan tadi, sesekali laki-laki juga boleh menangis. Tapi...dia saat ini tidak sedang menangis, hanya sedikit tersentuh saja, okay!
"Jadi uncle menangis." Seolah diberi pengertian, Aska bergumam tanpa sadar tapi masih bisa didengar oleh Adit.
Malu juga gemas, Adit menggaruk tengkuknya tidak nyaman. Awalnya dia ingin melakukan pembelaan tapi rasanya tidak nyaman karena dia tidak ingin mengganggu waktu Davin dan Rein.
"Kalian ingin bermain-ah!" Adit langsung berubah pikiran saat melihat Anggi di luar.
Anggi memegang selang air dan membawanya berkeliling taman. Dia menyiram bunga di taman dengan kecepatan air yang sangat rendah agar tidak melukai tanaman yang sudah dengan susah payah Rein tanam.
"Jangan di sini, okay? Mommy dan Daddy kalian sedang sibuk jadi lebih baik kita keluar saja menemani aunty Anggi menyiram bunga, bagaimana?" Ajak Adit ingin memberikan Davin maupun Rein waktu untuk berbicara lebih lama lagi.
Biasanya karena ada Aska dan Tio, waktu mereka untuk berduaan sangat terbatas. Apalagi sekarang di rumah ini ada Anggi yang notabene tamu kehormatan Rein. Mungkin Davin tidak akan perduli tapi Rein tidak. Dia sangat pemalu dan mudah canggung di depan orang.
Nah, ceritanya akan berbeda lagi bila Davin sedang sibuk di perusahaan. Waktu untuk berduaan dengan Rein tidak lagi terbatas tapi akan sangat langka jika sudah menyangkut perusahaan. Oleh karena itu Adit sangat menghargai kesempatan ini agar sahabatnya dapat dimanjakan.
"Daddy dan Mommy sibuk apa, uncle?" Tanya Aska sambil membawa mata besarnya menatap Davin dan Rein yang masih berpelukan.
Adit tersenyum canggung.
Aska melirik Tio dan menilai bagaimana perilaku Tio selama ini saat bersamanya. Walaupun agak payah dan gemuk, tapi Tio sangat penurut dan pintar jadi jika ingin punya adik lagi dia menginginkan adik yang sama seperti Tio.
Jika tidak bisa maka Tio saja sudah cukup.
"Uncle, kenapa kita halus punya adik?" Tio suka adik tapi semenjak bermain dengan Aska, dia tidak lagi merindukan kedatangan adik karena Aska telah mengusir semua kesepiannya.
Dia suka bermain dengan Aska.
Senyuman Adit goyah,"Kalau kalian punya adik, kalian tidak akan kesepian lagi saat bermain." Jawab Adit sederhana.
Tapi sirkuit otak Tio jauh lebih sederhana lagi.
"Tio tidak mau adik kalena Kak Aska bisa menemani Tio belmain." Tolak Tio polos.
Aska di samping menganggukkan kepalanya juga setuju.
Senyuman Adit akhirnya tidak bisa dipertahankan lagi. Dia menggaruk kepalanya bingung tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia memang menyukai anak-anak tapi karakternya yang sedikit berbicara tidak memungkinkannya untuk mengikuti perkembangan polos anak-anak.
"Ekhem," Dia berpikir sejenak untuk mencari kata-kata yang paling bagus dan mudah diterima oleh mereka.
"Tidak hanya bermain saja. Seorang adik juga bisa membantu kalian menjaga Mommy dari orang jahat. Apakah kalian mau Mommy kalian diganggu oleh orang jahat diluar sana? Jika Mommy kalian diganggu, dia pasti akan sedih dan menangis."
Aska dan Tio saling melirik. Mereka jelas tidak mau Rein diganggu karena Rein adalah orang yang sangat penting di dalam hati mereka. Tapi, bukankah Daddy mereka pernah mengatakan sesuatu sebelumnya?
"Aska tidak mau Mommy menangis dan sedih.." Kata Aska polos,"Tapi Daddy bilang Mommy gak akan sedih dan nangis selama ada dia. Daddy yang akan menjaga Mommy karena Daddy bilang kami berdua masih kecil. Jadi, kalau kami punya adik, dia juga tidak bisa menjaga Mommy karena dia masih kecil."
Tio mengangguk patuh di samping Aska,"Adik jauh lebih kecil dalipada kami beldua." Tambah Tio lebih polos lagi.
Adit tercengang, beberapa detik kemudian salah satu tangannya telah menyentuh kepalanya. Memijat keningnya yang pusing menghadapi kepolosan Aska dan Tio. Mereka masih anak-anak tapi sikap mereka yang terlalu patuh benar-benar menguji kesabaran.
"Tapi tidak ada salahnya memiliki adik, karena setelah besar nanti kami akan menjaga Daddy dan Mommy dari orang-orang jahat." Kata Aska tiba-tiba mengejutkan Adit.
Gen kedua orang tua Davin benar-benar tidak bisa diragukan lagi. Entah itu Davin maupun Aska, sikap mereka telah menunjukkan rasa dominasi sejak usia dini.
"Hem...hem, Tio juga ingin adik." Kata Tio menyimpang dari penolakannya tadi.
Adit menghela nafas panjang. Dia lalu menarik Tio dan Aska ke taman. Di sana dia meminta anak-anak untuk mulai mencabuti rumput sedangkan dirinya mengawasi mereka. Sesekali dia akan membantu anak-anak yang mengalami kesulitan.
"Tuan Adit?" Setelah menonton cukup lama, Anggi memutuskan untuk menghampiri Adit.