My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
55. (55)



"Shut...jangan katakan apa-apa lagi, nak. Sekarang kamu sudah di sini bersama kami dan kita semua sangat senang karena kamu akhirnya mau membicarakan masalah ini. Nak, kami telah menganiaya kamu. Di masa depan nanti, tolong jangan ragu untuk bersandar di pundak Ayah serta Ibu agar kamu tidak lagi kesepian saat menghadapi masalah." Ibu mengusap wajah basah putrinya sedih.


Ibu berjanji setelah kejadian ini dia akan lebih peka lagi terhadap kehidupan Anggi dan dia juga akan berjanji pada dirinya bila dia akan lebih memperhatikan Anggi lebih jauh lagi.


Takutnya ketika Anggi memiliki masalah, dia akan menyembunyikannya daripada memberitahu mereka selaku kedua orang tuanya.


"Benar, nak. Lain kali jangan lakukan ini lagi. Kami akan sangat sedih bila kamu menahan semuanya sendirian lagi." Kata Ayah sedih sambil menatap serius putrinya.


Anggi tersenyum masam. Dia menganggukkan kepalanya mengerti. Tapi mungkin dia tidak berjanji akan memberi tahu mereka bila dia memiliki kesulitan di masa depan nanti. Bukan karena dia tidak menghargai kedua orang tuanya. Justru dia melakukan ini karena sangat menghargai kedua orang tuanya. Dia tidak ingin membuat mereka kepikiran dan bertambah sedih karena memikirkan masalahnya. Lihat saja sekarang. Wajah berseri mereka satu jam yang lalu telah digantikan dengan kerutan-kerutan yang lebih jelas daripada sebelumnya. Seolah-olah usia mereka bertambah hanyalah dalam waktu yang sangat singkat.


"Bu, Ayah." Panggil Anggi lembut,"Terima kasih." Kata Anggi tulus kepada orang tuanya.


Selain anak-anak, faktor utama yang membuat Anggi tetap bertahan saat itu adalah kedua orang tuanya yang masih berjuang untuk terus hidup. Usia mereka sudah rentan jadi dia harus memikirkan cara untuk membuat mereka menikmati bagaimana indahnya usia tua yang Anggi lihat di dalam keluarga orang kaya.


"Kami adalah orang tuamu, untuk apa berterima kasih?" Kata Ibu tidak enak hati.


"Menurut Ibu, kamu harusnya berterima kasih kepada Adit. Karena dia selama ini telah berjuang keras membantu kamu sampai ke tahap ini." Kata Ibu kepada putrinya.


Sejak awal dia sudah menyukai Adit karena menurutnya Adit adalah laki-laki yang bertanggungjawab. Dan setelah mengetahui masalah ini rasa sayangnya kepada Adit semakin bertambah dalam. Dia bersyukur Adit selalu ada bersama putrinya di kala duka. Padahal putrinya hanya lah orang asing pada saat itu namun Adit sama sekali tidak keberatan ketika membantunya.


"Mas Adit..." Panggil Anggi malu-malu.


Dia tidak berani menatap wajah Adit dengan keadaan seperti ini. Karena terlalu banyak menangis, wajahnya pasti basah dan make up-nya jadi berantakan. Di tambah lagi dia sangat malu karena Adit telah melihatnya menangis seperti anak kecil yang kehilangan permen.


"Terima kasih. Terima kasih untuk semuanya." Kata Anggi mengucapakan terima kasih. Kata-katanya sangat tulus, tulus dari hatinya yang terdalam.


Adit duduk dalam kesunyian. Duduknya sangat tegak dengan sikap formal yang tidak dibuat-buat. Pengalaman kerjanya yang telah berjamur di usianya dewasanya membentuk Adit menjadi pribadi yang serius dan memiliki sikap formal yang sulit dipisahkan. Biasanya Ibu akan menganggapnya lucu karena Adit sepertinya sulit bersantai.


Namun melihatnya sekarang, Ibu sangat takut bila Adit kini memiliki pertimbangan tersendiri untuk putrinya.