My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
172



"Ya, dia melakukannya. Bodohnya, aku begitu mudah tertipu dan yang lebih mirisnya lagi, aku tidak bisa membatalkan transaksi ini karena nyawa suamiku adalah taruhannya. Selama tinggal bersamanya aku sudah sangat hancur dan tidak memiliki harapan pada kehidupan rumah tanggaku. Tapi meskipun begitu aku masih berharap suamiku mau menerimaku lagi. Jadi, suatu ketika aku memutuskan untuk pulang kembali ke rumah dan menemui suami serta anak-anakku. Dan coba tebak kejutan apa yang aku temukan di rumah?" Tanya Anggi bercanda agar bisa menyamarkan kesedihannya.


Padahal kedua matanya sudah memerah dengan air mata mulai mengenang di pelupuk, dia terlihat sangat menyedihkan. Siapapun yang melihatnya pasti tahu jika dia sangat sedih dan terluka tapi hanya bisa menahannya di dalam hati.


"Apa yang kamu lihat?" Rein balik bertanya.


Anggi tersenyum masam.


"Dia sedang berduaan dengan selingkuhannya di rumah kami. Aku patah hati dan sangat marah hari itu. Demi dia aku menggadaikan tubuhku tapi dia yang aku perjuangkan ternyata berselingkuh dengan wanita lain. Aku sangat kecewa, Rein. Jadi aku memutuskan untuk bercerai dengannya. Tapi dia menolak dan melarikan diri bersama selingkuhannya. Entah kemana mereka menghilang, jujur aku sudah tidak perduli. Mungkin hatiku sudah mati rasa kepadanya karena setiap kali mengingatnya aku tidak merasakan perasaan sakit hati atau penyesalan, melainkan sebuah kekecewaan. Aku kecewa kepadanya dan berharap sesegera mungkin memutuskan pernikahan ini." Putus Anggi sudah tidak memiliki harapan lagi untuk pernikahannya.


Sepanjang malam sebelum tidur dia akan memikirkan langkah ini berulang-ulang kali untuk menyakinkan dirinya agar bisa memulai lembaran hidup baru. Meskipun tidak bersuami lagi, Anggi sanggup membesarkan anak-anaknya dan membiayai sekolah anaknya. Walaupun tidak memiliki tabungan yang banyak namun Anggi masih bisa mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhannya dengan anak-anak.


"Mbak Anggi..." Rein tidak tahu harus mengatakan apa.


Anggi menggelengkan kepalanya tidak perduli. Dia telah menata hatinya kembali agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan yang sia-sia.


Dia harus bisa bangkit untuk anak-anaknya.


"Inilah mengapa aku cemburu kepadamu, Rein. Kamu memiliki tuan Davin yang setia dan anak-anak yang menyenangkan hati. Kehidupan kamu jauh lebih baik dari yang aku miliki." Akunya tidak malu sama sekali.


"Mbak Anggi dan anak-anak juga akan bahagia, hanya menunggu waktu yang tepat saja. Seperti aku dan Davin. Kamu berdua juga pernah melewati fase sakit sebelum akhirnya kami kembali bersama dan memutuskan untuk menikah. Jadi Mbak Anggi jangan terlalu pesimis dengan masa depan karena Tuhan pasti telah menyiapkan rencana terbaik untuk hidup Mbak Anggi, percayalah." Sanggah Rein tidak ingin Anggi putus asa.


Sebab Rein percaya, selama seseorang mempercayai Tuhan, maka Tuhan tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya. Dia pasti menyiapkan kejutan terbaik untuk hamba-hamba-Nya yang berserah diri kepada-Nya. Jadi teruslah bersabar dan melapangkan hati sampai waktu yang telah Tuhan tetapkan datang menjemput. Ketika hari itu datang, betapa manis kebahagiaan dari buah kesabaran yang telah dilalui, semuanya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.


Anggi terkekeh, jauh di dalam hatinya dia juga mempercayai apa yang Rein katakan.


"Kamu-"


Terd


Terd


Terd


Ada panggilan masuk ke dalam ponsel Rein. Mendengar itu Anggi dengan bijaksana menutup mulutnya.


"Adit menelpon." Lontar Rein senang sambil cepat-cepat menekan ikon 'jawab' di layar ponselnya.


Mendengar nama Adit, jantung Anggi tanpa sadar berdegup kencang. Dia sangat gugup dan tidak bisa duduk dengan tenang. Ingin sekali dia meraih ponsel itu agar bisa mendengar suara Adit.


Hem, beberapa hari mereka berpisah, Anggi mulai merindukannya.


"Hallo, Adit?" Rein lebih dulu menyapa.


Adit di seberang sana tidak berbicara tapi suasana di sekitarnya sangat berisik. Mungkin Adit sekarang ada di lokasi proyek pikir Rein tidak terlalu memikirkannya.


"Adit, hallo? Apa kamu mendengar ku, Adit? Kamu sangat bising di sana." Panggil Rein lagi.


Rein pikir Adit masih belum mendengar suaranya jadi dia ingin memanggil sekali lagi, tapi sebelum dia benar-benar mengeluarkan suara, Adit lebih dulu melangkahinya.


Pikiran Rein langsung kosong. Untuk sejenak, dia tidak bisa mencerna kata-kata Adit dengan baik.


Belum selesai Rein mencerna, Adit kembali berbicara. Mengirimkan pisau tak kasat mata langsung ke ulu hatinya. Rasanya sangat menyakitkan!


"Tuan Davin mengalami kecelakaan mobil saat dia dalam perjalanan menuju kota B. Kondisinya sangat parah karena dia kehilangan banyak darah. Dia jatuh kritis dan masih belum keluar dari ruang operasi."


Skak


Nyeri. Hatinya berdenyut nyeri.


Untuk sesaat dia tidak bisa menerima semua informasi ini. Davin-nya mengalami kecelakaan, kehilangan banyak darah, dan kritis. Sampai dengan saat ini dia masih ditangani di dalam ruang operasi.


Davin-nya... kecelakaan?


"Apa yang...apa yang kamu katakan?" Racau nya seolah kehilangan jiwa.


Dia bingung, kepalanya berdengung, dan hatinya serasa diiris-iris oleh benda tajam. Apa yang baru saja dia dengar?


"Maaf, ini semua salahku." Mohon Adit menyesal.


"Apa yang terjadi kepada Davin-ku?! Mengapa dia bisa kecelakaan?! Mengapa dia bisa terluka?!" Rein menjerit dalam kesedihan sekaligus marahnya.


Dibandingkan dengan marah, Rein lebih sedih karena orang yang dia cintai kini tengah berjuang tetap hidup di negara jauh.


"Maaf, maafkan aku. Ini adalah salahku." Adit masih mengatakan permohonan maaf yang sama dengan nada rendah yang sama pula.


Dari nada suaranya yang rendah Rein tahu jika Adit juga sangat terguncang dan tidak berdaya. Tapi otaknya seolah tidak perduli karena satu-satunya orang yang ada di dalam pikirannya saat ini hanya Davin Demian seorang.


"Aku ingin terbang ke negara A." Tekan Rein dengan suara gemetarnya. Dia tidak mau menerima penolakan.


Dia harus terbang ke negara A dan melihat kondisi kekasihnya secara langsung.


"Aku mengerti. Aku akan memerintahkan bawahan ku untuk menjemput kalian." Timpal Adit tidak melarang.


Mungkin dengan hadirnya Rein dan anak-anak di sini dapat membantu Davin keluar dari kritisnya.


"Rein, apa tuan Davin kecelakaan?" Serbu Anggi setelah Rein memutuskan sambungan.


Kondisi Rein saat ini benar-benar tidak bisa diajak bicara jadi dia hanya mengangguk sebagai respon sebelum mengambil kopernya untuk mengemasi semua pakaiannya.


"Mbak, kita akan pergi ke negara A jadi tolong kemasi barang-barang Mbak dan anak-anak secepat mungkin." Putus Rein membuat keputusan.


Anggi harus ikut bersamanya karena di sana mungkin dia tidak bisa fokus menjaga anak-anak. Jadi keberadaan Anggi seharusnya sangat membantu di sana.


Anggi tidak bertanya lagi dan langsung mengemasi barang-barangnya serta anak-anak. Untuk saat ini Rein sangat terguncang sehingga dia tidak bisa menanyakan apa-apa selain mengikuti pengaturan Rein.