
Tok
Tok
Tok
"Pak, saya sudah membawa file yang Anda minta tadi siang." Suara Lisa dari luar mengganggu konsentrasi Davin.
Davin langsung menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, melepaskan kacamata kerja sebelum meregangkan tubuhnya yang kaku.
"Masuk," Perintah Davin sebelum kembali fokus menatap layar komputer.
Cklack
Lisa segera masuk ke dalam ruangan Davin setelah mendapatkan izin darinya. Sepatu hak tingginya yang berharga melangkah ringan membentur permukaan lantai kantor. Harusnya, bagi beberapa orang suara yang ditimbulkan cukup menarik perhatian dan memiliki pesona wanita karir yang seksi.
Tapi untuk Davin suara yang ditimbulkan justru membuatnya terganggu. Lagi, untuk yang kedua kalinya Davin mengerutkan keningnya ketika mendengar bunyi sepatu hak tinggi milik Lisa.
"Pak, ini adalah biodata lengkap karyawan yang bernama Dimas. Orang yang bernama Dimas di kantor ini berjumlah 3 orang dengan-"
"Terimakasih, letakkan saja di atas mejaku." Potong Davin tidak sabar.
Lisa mengatupkan bibirnya malu. Dia kemudian meletakkan file yang ia bawa ke atas meja Davin tapi tidak langsung beranjak pergi.
"Baik, Pak." Dia menjilat bibir atasnya gugup.
"Apa Anda membutuhkan sesuatu lagi?"
Lisa sangat berharap Davin mengangkat kepalanya sekarang untuk sekedar melihatnya saja. Tapi Davin mengecewakan harapannya. Dia melambaikan tangannya meminta Lisa segera keluar karena dia tidak ingin diganggu.
"Kalau gitu saya permisi, Pak. Jika Anda membutuhkan sesuatu saya siap membantu."
Davin masih fokus menatap layar komputer. Mungkin dia tidak mendengarkan apa yang Lisa katakan tadi karena terlalu sibuk namun mungkin juga dia sengaja mengabaikan Lisa karena tidak mau diganggu.
Lisa tersenyum kecil. Dia kecewa, ekspresinya jelas mengatakan itu. Lisa tidak bisa tinggal terlalu lama di sini sehingga dia mau tidak mau harus keluar. Dia kemudian berbalik berjalan menuju pintu keluar sambil mempertahankan keanggunannya.
"Tunggu," Davin akhirnya berbicara.
Lisa sangat senang. Dia buru-buru berjalan mendekati Davin dengan rasa keanggunan yang semakin dipercantik. Jika diperhatiin dengan baik sore ini Lisa menggunakan riasan yang jauh lebih jelas daripada tadi siang dan warna lipstik di bibirnya pun tampak menggoda sama seperti citra seksi seorang sekretaris di dalam drama.
Davin mengangkat kepalanya dengan rasa kemalasan yang menarik. Dia memandangi Lisa seperti seseorang yang sedang menatap sesuatu yang aneh.
"Jangan terlalu dekat-dekat, bau parfum mu terlalu keras, aku ingin besok kamu harus menggantinya."
Lisa membeku. Sontak, dia kemudian mencium parfum di lengan bajunya. Ini wangi, bahkan wanginya sangat enak tapi kenapa Davin tidak menyukainya?
Padahal parfum ini cukup mahal dari merk tertentu dan diproduksi terbatas. Lisa tidak percaya Davin tidak menyukai produk parfum yang ia gunakan sekarang.
"Maafkan saya, Pak." Dengan sangat malu Lisa membawa langkah kakinya menjauh dari meja Davin.
"Satu lagi, kamu harus tahu jika aku tidak suka mendengar suara keributan dan suara dari hak sepatumu sudah beberapa kali mengganggu ku. Kamu juga harus mengganti sepatu mu mulai besok. Kalau bisa gunakan sepatu biasa saja agar tidak menimbulkan suara." Ucap Davin terlihat sangat bosan.
Lisa mendapatkan dua serangan langsung dari Davin dan itu semua adalah dua hal yang sangat ia banggakan. Demi bisa menarik perhatian Davin, dia sengaja menyemprotkan banyak parfum karena wanginya sangat enak. Terbukti sudah ada beberapa orang yang mengatakan jika wangi parfum yang ia kenakan wanginya harum. Lalu hak tinggi yang ia kenakan sekarang, jujur harganya juga tidak kalah mahal dengan parfumnya, selain itu design nya juga bagus dan suara yang ditimbulkan pun cukup enak di dengar.
Tapi kenapa Davin tidak menyukai dua hal penting yang sangat disukai wanita!
"Saya mengerti, Pak." Lisa menyetujui dengan berat hati.
Davin membawa pandangannya kembali menatap layar komputer,"Jika kamu keberatan aku tidak masalah jika kamu mengundurkan diri hari ini."
Lisa ketakutan.
"Pak, saya tulis keberatan, saya sama sekali tidak keberatan. Saya akan mengganti parfum dan sepatu saya mulai dari besok." Lisa buru-buru meyakinkan Davin.
Dia tidak bisa kehilangan pekerjaan ini.
"Hem, keluar."
Davin nyatanya sangat dingin dan tidak berperasaan. Lisa pikir ini hanya rumor dari mulut ke mulut saja. Tapi hari ini dia akhirnya melihat dan merasakan secara langsung betapa dinginnya Davin.
Dia malu, ini adalah hal yang sangat manusiawi. Setelah kejadian ini dia berjanji akan memperbaiki dirinya sesuai dengan tuntutan Davin. Benar, bukankah laki-laki suka dengan wanita yang patuh?
Satu jam berlalu setelah kepergian Lisa dari kantornya dan Davin masih belum beranjak dari layar komputer. Jari-jari panjang di tangannya bergerak cepat dan lincah menyentuh keyboard komputer, sampai 15 menit kemudian dia akhirnya berhenti.
Davin melepaskan kacamata kerjanya ke dalam laci. Berdiri dari duduknya sambil merenggangkan otot-ototnya yang agak kaku. Rasanya jauh lebih nyaman, pikirnya.