My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
70. Ancaman



"Mommy jangan malahin Daddy..." Suara manis Tio menarik perhatian mereka berdua.


Untuk sejenak Rein tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia jengkel dan ingin marah tapi tidak bisa karena ada Tio di dalam pelukannya sekarang.


Tio masih kecil dan tidak baik bertengkar di depannya. Rein takut kesal yang didapatkan Tio kepada mereka berdua tidak baik.


Tidak, Rein tidak ingin merusak masa depan putranya.


"Okay, Mommy gak marah. Mommy gak marah." Bisik Rein dengan nada lembut.


Setelah menenangkan kemarahannya, ia kembali memperhatikan Davin yang masih berada di tempat dengan kedua pasang mata almond yang tidak pernah lepas darinya dan Tio.


Rein gugup, dia memalingkan wajahnya untuk menyamarkan rasa gugup.


"Aku... belum bisa pergi-"


"Gedung apartemen bobrok ini sudah tidak layak ditinggali dan aku dengar seorang pengusaha dari luar kota sudah membelinya.." Potong Davin memberikan serangan kedua untuk Rein.


Rein tidak mengerti,"Maksud kamu apa?"


Davin menjelaskan dengan malas,"Apakah kamu bodoh? Gedung bobrok ini sudah menjadi milik orang lain dan akan segera dirobohkan. Tidakkah kamu mendapatkan pemberitahuan dari pemilik sewa?"


Kedua mata Rein sontak membola karena terkejut. Memang dari tiga hari yang lalu muncul pengumuman dari pemilik gedung jika gedung apartemen yang mereka tempati sekarang akan segera dihancurkan karena telah berpindah tangan sehingga mereka semua diminta untuk segera pindah. Uang bulanan yang baru beberapa hari disetor Dimas juga dikembalikan oleh pemilik gedung dan ini berlaku untuk semua penyewa apartemen.


Namun sialnya, kenapa harus disaat-saat seperti ini mereka diminta pindah!


Kenapa harus bertepatan dengan tawaran yang Davin berikan kepadanya!


"Aku tahu...aku tahu, tapi aku harus menunggu Dimas-"


"Tiket pesawat sudah aku pesan ke negara A." Davin menunjukkan tiket online berwarna biru muda yang ada di layar ponselnya.


"Kamu benar-benar keterlaluan, Davin!" Rein frustasi.


Dia masih belum bisa membuat keputusan apapun.


"Bukankah aku sudah mengingatkan kamu sebelumnya Rein, jangan terlalu banyak berpikir jika tidak, Tio akan segera melupakan tentang kamu." Davin mengingatkan dengan murah hati.


Dan ia sungguh tidak main-main dengan ucapannya tadi.


Rein memejamkan matanya ragu membuat pilihan.


"Mommy, ayo kita pulang ke lumah Daddy. Di sana Tio punya banyak mainan dan ada kolam ail yang besal, Mommy. Tio suka mandi di sana sama Daddy, Mommy." Celoteh Tio di dalam pelukannya.


Apa yang Tio katakan pasti tidak bohong, di samping Tio masih anak kecil yang jujur dan polos, Tio juga adalah anak yang cerdas. Dia pasti tidak akan berani berbohong, lagipula selama membesarkannya Rein tidak pernah mengajari Tio berbohong.


Ia khawatir putranya diperlakukan salah dan diabaikan di sana.


Wajah gembil Tio mengangguk penuh semangat.


"Tio makan ayam goleng, kue coklat, kue stlawbelly, Tio makan banyak, Mommy! Tapi Tio lebih suka makan bubul buatan, Mommy. Oh, Daddy juga bilang dia kangen banget masakan, Mommy!" Cerita Tio dengan suara manisnya yang sangat menghibur.


Rein mengerjap ringan. Dia berusaha mengabaikan kata-kata terakhir Tio karena hal yang paling ia syukuri sekarang adalah mengetahui bahwa putranya diperlakukan dengan baik dan semestinya.


"Tio malamnya tidur sama siapa kalau gak sama, Mommy?" Rein masih betah mengintrogasi.


Membuat seseorang yang sedari tadi diam menyimak tanpa sadar membuat garis senyuman di wajah tampannya.


Ah, pemandangan ini sungguh indah dan menghangatkan hatinya.


Tio tertawa kecil, memeluk leher Rein erat sebagai petunjuk bahwa ia sangat bahagia hari ini.


"Tio tidul sama Daddy. Kamal Daddy besal banget, Mommy, dan kasulnya juga enak. Daddy bilang takut tidul sendilian makanya setiap malam Tio dipeluk sama Daddy. Hihi.. padahal Daddy kan udah besal sehalusnya gak takut tidul sendilian kayak uncle Dimas."


Davin mendelik tidak suka,"Uncle Dimas sok berani, Nak, padahal aslinya penakut." Katanya sok tahu.


Rein gatal ingin melemparinya bantal sofa,"Jangan asal ngomong, deh." Peringat Rein judes.


Davin mengangkat bahunya tidak perduli.


Rein kembali fokus berbicara dengan putranya. Bersikap seolah-olah tidak ada Davin diantara mereka.


"Tio nyaman gak tinggal di sana?"


Tio menggelengkan kepalanya tidak nyaman, membuat Rein melambungkan harapan jika putranya bisa kembali.


"Di sana gak ada Mommy."


Harapan Rein yang sempat melambung tadi segera menguap. Davin bahkan harus menutup mulutnya menahan tawa melihat ekspresi lucu Rein. Dia benar-benar menikmati interaksi antara Ibu dan anak ini.


Rein menghela nafas panjang. Menatap wajah gembil nan lembut putranya dengan sayang kemudian menoleh menatap wajah tampan Davin dengan sangat berat hati.


Ia lalu mengambil nafas panjang, membuat keputusan terbodoh di dalam hidupnya.


"Baiklah, aku akan ikut bersama kalian namun ada syaratnya." Rein mengajukan sebuah syarat.


Mulut Davin bergerak tertahan menahan senyum.


"Katakan, jangan membuang banyak waktuku." Katanya sambil melihat waktu di jam tangannya.