My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
26. (26)



"Maaf telah mengganggu waktu Ibu. Kami di sini ditugaskan oleh tuan Adit untuk menjaga kalian. Tuan mengatakan kami harus mengawasi rumah ini dari beberapa tamu yang bermasalah dan salah satu daftar orang yang diantisipasi adalah keluarga dengan empat orang anggota. Mereka adalah Paman dan Bibi mbak Anggi. Tuan bilang bila mereka sudah lebih dari dua jam di dalam, maka kami diminta untuk mengambil tindakan kepada mereka." Kata laki-laki kekar itu.


Bibi sangat senang ketika mengetahui Adit mengirim seseorang untuk melindungi dan mengawasi mereka tapi dia tidak tahu mengapa orang-orang suruhan Adit harus mengambil tindakan. Tapi apa yang dimaksud orang-orang ini dengan tindakan?


"Mengambil tindakan?" Bibi bertanya bingung.


"Benar, Bu. Kami harus membawa kelurga itu pergi sebelum mereka membuat masalah untuk Ibu. Dan kami juga mendapatkan kabar bila tuan Adit sedang dalam perjalanan menuju ke sini bersama Mbak Anggi, jadi kami harus segera melaksanakan tugas sebelum mbak Anggi melihat kedatangan orang-orang itu." Kata laki-laki kekar tadi.


Ibu taku bila Anggi tidak terlalu menyukai iparnya dan dia pun tidak masalah bila orang-orang ini menyeret mereka semua pergi sebab dia pikir orang-orang ini sudah kehilangan urat malu mereka. Dan dia tidak bisa menanggung mereka lebih lama lagi.


"Baiklah, silakan jalankan tugas kalian." Kata Bibi seraya menggeser tubuhnya ke samping.


Dua orang kekar itu lalu masuk ke dalam rumah. Begitu masuk ke dalam rumah mereka segera berjalan menuju keluarga empat orang yang sibuk berbisik-bisik ingin merencanakan sesuatu.


"Bangunlah, ikut kami keluar." Kata laki-laki kekar itu dingin.


Ibu dan Ayah saling memandang dengan kaget melihat orang-orang tidak dikenal ini. Dan mereka bahkan lebih kaget lagi mendengar perkataan salah satu laki-laki kekar itu. Apa maksud nya meminta mereka untuk segera keluar?


"Kalian siapa? Kami tidak mengenal kalian berdua dan apa urusan kalian kepada kami? Kenapa kalian meminta kami ikut keluar?" Ayah segera pasang badan untuk melindungi istri dan anak-anaknya.


Ibu juga tidak mu kalah bicara. Dia berbicara dengan nada garang kepada orang-orang kekar itu.


"Benar, siapa kalian! Beraninya kalian masuk ke rumah kakakku dan meminta kami untuk keluar?!"


Laki-laki kekar yang tadi berbicara itu sama sekali tidak takut dengan mereka berdua. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun dan malah terkesan mengacuhkan mereka. Seolah-olah apa yang mereka tanyakan dan katakan hanyalah angin lalu saja.


"Kami adalah pengawal pribadi mbak Anggi yang diutus untuk menjaga dan mengawasi rumah ini oleh tuan Adit. Bila kalian membuat masalah dan merugikan kedua orang tua mbak Anggi, maka kami berhak mengusir kalian dari rumah ini." Begitu suara ini jatuh ekspresi mereka berempat langsung jelek.


Mereka tidak menyangka Anggi akan menggunakan cara ini untuk mengusir mereka berempat. Dan mereka bahkan tidak menyangka bila di mata Anggi, mereka tidak ada bedanya dengan orang asing yang datang untuk mencari masalah.


"Beraninya dia mengusir kami! Aku adalah bibinya dan aku berhak datang ke rumah ini." Kata Ibu merasa malu dan keras kepala.


Dia malu diusir secara langsung di depan keluarga laki-laki paruh baya itu dan karena inilah dia tidak bisa menerimanya. Dia tidak rela dipermalukan sedemikian rupa oleh Anggi di depan orang-orang ini


"Jangan bermimpi. Dimana kalian berhak untuk datang dan tinggal di rumah ini sesuka hati kalian. Berdirilah dan segera keluar dari rumah ini. Jika kalian tetap bersikeras tinggal di sini maka kami tidak punya cara selain menyeret kalian semua pergi." Kata laki-laki kekar itu mengancam.


Ancamannya sungguh tidak main-main. Apalagi ditambah dengan ekspresi wajahnya yang dingin, semua orang jelas yakin bila dia tidak main-main dan bersungguh-sungguh ingin mengeluarkan sekelompok empat orang ini pergi.


"Kamu...kamu! Kakak, tolong kami. Jelaskan kepada mereka bahwa kami adalah keluarga kalian!" Ringis Ibu meminta bantuan kepada Bibi dan Paman.


Paman menatap istrinya sebentar sebelum beralih menatap Ibu dan Ayah.


"Ini adalah keputusan putriku untuk rumahnya sendiri maka aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk hal ini." Kata Paman langsung membuat mereka kecewa.


Ibu adalah orang yang pintar blak-blakan dan sombong di sini. Melihat dirinya terus terusan ditolak, mana mungkin dia menahannya. Jadi dia berteriak marah sekuat tenaga untuk mempermalukan Paman dan Bibi di kompleks perumahan ini.


"Oh, betapa sombongnya kalian! Kalian baru saja menjadi orang kaya dan tingkah kalian sudah seperti ini! Karena kami miskin kalian tidak mau menerima kami-"


"Berteriak lah sesuka hatimu di sini tapi yakinlah esok suamimu tidak akan masuk kantor lagi." Suara dingin laki-laki kekar yang satunya mengancam.


Ketika mendengar ancaman tentang pekerjaan suaminya, suara Ibu langsung tercekat. Dia melihat Ayah yang hanya diam dan berwajah suram tanpa ada perlawanan. Ibu mulai ragu-ragu karena dia pikir ancaman ini agak mengerikan sebab bila suaminya dipecat jad PNS maka jaminan hidup mereka juga akan menghilang dan Ibu tidak mau itu semua terjadi. Hanya saja apa yang harus dia lakukan?


Dia tidak tahan diperlakukan seperti ini terus!


"Kenapa? Kalian masih tidak ingin pergi? Kalau begitu lihat baik-baik bagaimana tuan Adit mengurusi kalian semua nantinya. Aku peringatkan jangan pernah menyesalinya karena ini adalah yang kalian minyak karena mengganggu orang-orang tuan Adit."


Marah, Ayah langsung berdiri dari duduknya. Dia menatap Paman dan Bibi yang hanya diam saja menonton tanpa melakukan apa-apa untuk membela mereka. Mendengus dingin, dia lalu berjalan langsung ke pintu tanpa mengatakan apa-apa apalagi menoleh ke belakang. Dia meninggalkan anak-anak dan istrinya yang masih membeku di tempat.


"Kakak sangat kejam kepada kami. Melihat orang-orang ini ingin mengusir dan mengancam kami, kalian hanya diam menonton saja. Kami diusir sedangkan mereka tidak, betapa tidak adilnya kalian berdua padahal kami juga keluarga kalian. Dan aku sangat kecewa dengan sikap sombong kalian yang menolak hubungan kami sebagai keluarga! Kalian adalah kacang yang lupa akan kulitnya setelah memiliki banyak uang! Ayo Tina, Widia, kita pulang!" Setelah mengatakan itu dia menarik tangan Widia dan Tina agar ikut bersamanya pulang, menyusul sang suami yang sudah lebih dulu keluar.


Sama seperti Ayah, Ibu juga tidak mengatakan apa-apa saat pergi. Mereka langsung berjalan ke pintu tanpa menoleh ke belakang. Begitu mereka akan melewati gerbang, Ibu menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke belakang untuk memperhatikan rumah mewah ini. Kedua matanya memerah karena malu dan marah namun ambisinya tidak ada habisnya apalagi ketika melihat bangunan rumah besar ini. Ingin, ingin sekali dia merasakan apa yang orang tua Anggi rasakan. Punya rumah mewah dan banyak uang yang tidak perlu dikhawatirkan tapi apalah daya, mereka sama sekali tidak bisa menjangkau kejayaan ini.


Hatinya menjadi masam memikirkan pengusiran mereka untuk yang kedua kalinya di rumah ini. Dia berjanji jauh di dalam hatinya akan membalas mereka berdua suatu hari nanti.


"Bu, kita diusir lagi." Kata Tina dengan ekspresi muram di wajahnya.


Ibu mengangguk penuh kebencian,"Suatu hari nanti kita akan membalas perbuatan mereka hari ini." Kata Ibu berjanji.


Widia juga sama muramnya, dan dia sedih tak bisa mendapatkan apa-apa di rumah ini kecuali makan kue dan makan makanan lezat yang biasanya hanya dia lihat di televisi atau di internet.


"Bu, bagaimana cara kita membalas mereka?" Karena uang saja mereka tidak bisa menandingi apa yang dimiliki Anggi.


Ibu merenung, beberapa saat kemudian dia telah membuat rencana.


"Ibu akan memberitahu kalian di rumah nanti. Sudah, kita lebih baik pulang ke rumah sebelum orang-orang sok kuat itu menyeret kita pergi."


Widia dan Tina melihat rumah mewah itu sekali lagi, mengangguk lemah, mereka akhirnya mau pulang ke rumah.


"Ayo pulang."


Sementara itu di dalam rumah orang-orang kekar itu segera meminta maaf atas apa yang terjadi hari ini karena keributan yang telah mereka buat.


Paman dan Bibi tidak menganggapnya sebagai masalah, malah mereka berterima kasih karena sudah membantu mereka untuk mengurus keluarga yang sulit diatur itu.


"Apakah semuanya akan baik-baik saja? Mereka adalah keluarga kalian juga." Kata laki-laki paruh baya itu tidak enak hati.


Mereka tidak diusir sedangkan orang-orang itu diusir, bisa dibayangkan betapa marahnya mereka saat ini. Dan mereka juga tidak ingin merusak hubungan kekeluargaan meskipun sikap orang-orang itu jelas agak buruk.


"Mereka adalah keluarga kami tapi mereka tidak berbeda dengan orang-orang asing di luar sana. Sudahlah, jangan pedulikan mereka lagi. Kakak, bagaimana usaha kakak di rumah? Apa semua dagangan kakak laku dan tetap terjual?" Paman secara alami mengesampingkan masalah tadi dan segera mengubah topik pembicaraan.


Dia tidak ingin terus memikirkan hal-hal tadi. Tentu saja dia merasa sedih karena Ayah adalah adiknya sendiri, mereka lahir dari satu rahim dan Ibu yang sama jadi mana mungkin dia tidak sedih melihat adiknya diusir? Hanya saja dia tidak tahu harus melakukan apa karena adiknya memiliki niat yang buruk kepada keluarganya. Dia tahu bahwa tidak akan ada hal baik yang akan mereka dapatkan bila hubungan mereka kembali terjalin karena mereka kelas hanya menginginkan keuangan saja, bukan karena hubungan darah yang telah mendarah daging.


...🌪️🌪️🌪️...


Anggi P. O. V


Pagi-pagi sekali aku bangun tidur sesuai dengan jam biologis ku. Aku langsung mandi dan mengganti bajuku yang sopan, mengambil sepatu tanpa hak tinggi dan keluar dari kamar. Di luar masih sepi dan orang-orang masih belum bangun tidur kecuali kamar tuan Davin yang telah menyalakan lampu.


Tak ingin mengganggu waktu mereka, aku berjalan ke dapur. Dapur tidak terlalu jauh dari kamarku. Namun jika aku ingin ke sana aku harus melewati beberapa ruangan atau kamar, salah satunya adalah aku melewati kamar mas Adit.


Sama seperti kamar tuan Davin, kamar mas Adit juga sudah menyala. Dia mungkin sudah bangun tidur. Melihat pintu kamar mas Adit mengingatkan pada kenangan semalam. Tadi malam aku memijat kepala mas Adit dan membiarkannya tidur di atas pahaku. Aku sangat grogi saat itu karena tidak menyangka akan ada hari dimana mas Adit menjadikan kepala ku sebagai bantal tidurnya. En, rasanya sangat nyaman waktu itu. Aku bisa merasakan rambut lembutnya, menyisirnya dengan jari-jari ku sendiri dan sensasi yang ku rasakan...aku yakin selama aku melakukan itu bibirku tidak pernah berhenti membentuk garis senyuman. Sungguh pengalaman yang sangat manis.


En, apalagi saat aku menemaninya di kota D kemarin, aku punya banyak kenangan yang tak akan bisa ku lupakan dengan mudah. Sungguh pengalaman yang sangat manis.


Cklack


Pintu kamar mas Adit tiba-tiba terbuka. Bodohnya tubuhku langsung membeku dan tidak sempat melarikan diri!


"Anggi?" Mas Adit keluar dari kamar dengan baju lengan pendek, celana panjang dan sepatu sport.


Dia sepertinya akan pergi lari pagi, tapi di jam segini?


Ngomong-ngomong azan subuh setengah jam lagi akan berkumandang.


"Mas Adit, heheh..." Aku menggaruk tengkuk ku malu.


Apakah mas Adit curiga aku kebetulan berdiri di depan kamarnya?


"Kamu ngapain di sini? Mau pergi olahraga juga?" Tanya mas Adit dengan ekspresi aneh di wajahnya.


Mungkin dia berpikir bila pakaianku sangat tidak cocok dengan aktivitas yang menguras banyak keringat.


"Eh, enggak, Mas. Aku mau ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi ini. Mas sendiri olahraga jam segini? Bukankah ini terlalu pagi?" Tanyaku berusaha menahan diri untuk tidak tersenyum.


Aku harus bersikap senormal mungkin di depan mas Adit.


Mas Adit melihat jam tangannya dan berkata,"Iya nih, mungkin aku akan lari keliling taman 30 menit aja dan balik lagi untuk sholat. Okay, kalau begitu aku pergi dulu, yah. Kamu lanjutkan saja pekerjaan mu." Mas Adit sangat disiplin terhadap waktu.


Aku buru-buru mengangguk dan membiarkan mas Adit pergi menuju ke arah taman. Menghela nafas panjang, aku menepuk dada ku mencoba untuk terlihat kuat terhadap godaan tampang seksi mas Adit.


Setelah sempat mendapatkan godaan hati, aku segera pergi melanjutkan misi ku ke dapur. Hari ini menu sarapan yang ku buat untuk anak-anak adalah bubur suwir ayam yang hangat. Masakan ku mungkin tidak selezat milik nyonya Rein karena di rumah ini semua orang mengakui dengan suara bulat bila masakan nyonya Rein lah yang terlezat kalau soal bubur. Aku pun tak bisa memungkiri betapa lezatnya buatan nyonya Rein. Tapi sayang sekali masakan nyonya Rein hanya dibuat untuk tuan Davin!


Di dapur aku mulai mengeluarkan bahan-bahan masakan yang aku butuhkan. Dimulai dari ayam hingga bawang putih dan kawan-kawannya juga tidak luput dari tanganku. Pertama-tama aku membersihkan ayam dan merebusnya beserta campuran bumbu yang telah aku siapkan. Begitu ayamnya siap, aku memisahkan ayam dengan kaldunya, dan membagi kaldunya menjadi dua bagian. Satu untuk dijadikan kuah dan satu bagian untuk dicampurkan dengan nasi. Untuk nasi aku semalam menyempatkan diri untuk memasak nasi jadi subuh nya aku bisa menggunakannya untuk membuat bubur.


Setengah jam kemudian aku memasak bubur dan hanya menunggu setengah jam lagi agar nasi yang ku campur dengan kaldu serta air bisa hancur menjadi bubur.


Sambil menunggu buburnya jadi, aku memanfaatkan waktu untuk menyempatkan diri kembali ke kamar untuk sholat. Saat melewati kamar mas Adit, aku melihat lampunya kembali menyala. Mungkin dia telah kembali.


"Hah, sayang sekali." Kataku penuh penyesalan.


Padahal aku ingin sekali melihat mas Adit yang dibasahi oleh keringat. En, dia pasti sangat seksi dan-


"Sayang sekali kenapa?" Suara berat tiba-tiba mengagetkan ku dari belakang. Semburan nafas hangat membasahi kulit tengkukku, darahku langsung berdesir aneh. Panik, aku segera menyentuh tengkukku yang merinding, spontan saja aku bergerak menjauh dari asal suara dan nafas hangat itu. Begitu aku berbalik aku langsung shock melihat mas Adit yang kini tengah berdiri dengan tenang di belakang ku.


Eh, sejak kapan mas Adit berdiri di belakang ku?


"Mas Adit?"


"Hem," Dia mengangkat tangannya, bersedekap dada sambil melihatku dengan tatapan penilaian.


Ugh, betapa gugupnya aku saat ini.


"Apa yang membuat mu kecewa? Apa yang kamu sayangkan tadi?" Tanyanya kepadaku.


Aku meneguk ludahku kasar menahan teriakan yang telah berada di ujung tanduk. Mas Adit sangat tampan dan seksi!


Lihat saja garis-garis otot yang terbentuk dari pakaian basah mas Adit, meskipun tidak kekar tapi sangat seksi. Rasanya pasti menyenangkan saat menyentuh otot-otot itu. Dan aku bisa membayangkan betapa nyaman rasanya saat otot-otot itu membungkus tubuhku-


"Anggi? Anggi?!" Panggilan mas Adit mengejutkan ku.


"Ke... kenapa, mas?" Tanyaku gelagapan.


Dia menatapku dengan mata penilaian, masih.


"Kamu mikirin apa, hem?" Tanyanya.


Aku belum sempat membuat alasan mas Adit sudah berbicara lagi.


"Kamu pasti lagi mikirin yang aneh-aneh yah, soalnya muka kamu merah banget." Kata mas Adit dengan suara seraknya yang seksi.


"Apa?! Aku...aku enggak mikirin yang aneh-aneh kok! Muka aku merah karena di sini panas banget. Aku...aku ingin segera cuci muka!" Sanggah ku gugup sambil berpura-pura mengipasi wajahku.


Em, sebenarnya wajahku memang panas tapi bukan karena kegerahan!


Hah...aku sungguh ingin melarikan diri saking malunya!


Dia tiba-tiba tertawa, tangannya sampai-sampai memegangi perutnya. Tawanya sangat lepas dan sangat enak di dengar. Jika bisa aku ingin merekam suara tawanya dan menjadikannya sebagai lagu Nina Bobo ku. Aku yakin tidak butuh waktu lama untuk masuk ke alam mimpi.


"Kamu sangat lucu. Mana mungkin di sini panas, jelas-jelas rumah ini sangat dingin..." Kata mas Adit setelah tawanya mereda.


Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Aku juga tahu bila rumah ini sangat dingin karena ada AC dimana-mana ditambah lagi ini masih subuh, ah!. Tapi aku tidak bisa membuat alasan yang masuk akal karena tadi aku sangat gugup.


"Aku masih merasakan panas dari dapur. En, aku tadi masak dengan api yang sangat besar jadi panasnya masih terasa." Kataku berbohong.


Menggunakan api?!


Aku ingin sekali melarikan diri ke suatu tempat untuk bersembunyi! Bagiamana aku tidak merasa malu karena kenyataannya rumah ini tidak menggunakan kompor biasa lagi. Rumah ini sudah menggunakan kompor listrik jadi kalau mau masak ya cukup gunakan kompor listrik.


"Jadi begitu, pantas saja wajah mu sangat merah."


Tapi dia percaya?


Astaga! Mas Adit kan penggila kerja ditambah lagi dia laki-laki jadi tidak terbiasa masuk ke dapur. En, untung saja aku menggunakan alasan ini!


"Baiklah, aku harus mandi dan sholat subuh sebelum kembali bekerja. Anggi, sampai bertemu kembali di meja makan, aku harap sarapan hari ini enak." Katanya kepadaku.


Aku tersenyum malu,"Mas Adit bisa yakin bila masakan ku tidak mengecewakan."


Dia mengangguk ringan dan segera masuk ke dalam kamarnya. Setelah mas Adit masuk ke dalam kamar, aku langsung menyentuh dadaku yang sedang berdebar kencang. Meresapi perasaan manis yang pagi-pagi Tuhan hadiahkan kepadaku sebagai awal hari yang baik.


15 kemudian aku kembali ke dapur untuk melihat perkembangan bubur ku. Dilihat-lihat dari teksturnya yang tidak lagi padat, 10 menit lagi seharusnya sudah bisa disajikan.


Jadi sementara bubur ku matang sepenuhnya. Aku mulai suwir ayam dan langsung memindahkannya ke meja makan. Menyiapkan alat makan dan beberapa toping yang disukai anak-anak ke meja makan, kemudian barulah bubur ku menyusul. Aku segera menyajikan bubur ke dalam mangkuk agar bisa segera menghangat dan langsung bisa dikonsumsi oleh anak-anak.


Satu jam kemudian semua orang sarapan termasuk mas Adit. Tapi tidak seperti harapan ku, mas Adit hanya tinggal beberapa menit saja di atas meja makan karena setelah buburnya habis, dia segera pergi ke lantai dua untuk menemui tuan Davin.


Aku menghela nafas panjang. Tidak apa-apa, pujian anak-anak saja sudah cukup. Selain itu mas Adit juga menghabiskan buburnya jadi masakan ku mungkin cukup lezat.


Setelah selesai mengurus anak-anak hingga berangkat sekolah, aku segera mengatur pekerjaan di rumah ini dan mengarahkan para pelayan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan. Hingga waktu akan memasuki waktu makan siang.


Untuk urusan makan sian dan makan malam aku meminta koki rumah yang mengurusnya. Barulah setelah semuanya terkendali aku pergi meminta izin kepada nyonya Rein untuk pulang ke rumah. Nyonya Rein telah mengizinkan ku dan malah memintaku untuk menginap beberapa hari di rumah agar anak-anak ku tidak terlalu kesepian.


"Apakah ini tidak apa-apa, nyonya?" Tanyaku ragu-ragu.


Nyonya Rein tersenyum lembut. Dia melambaikan tangannya tampak sangat santai.


"Tidak apa-apa. Mbak Anggi bisa berangkat kerja dari rumah mbak dulu. Nanti mbak Anggi dijemput oleh pak supir ke rumah untuk pulang dan perginya saat kembali bekerja. Dan mbak Anggi enggak usah khawatir soal sarapan anak-anak karena mas Davin mau berkompromi mengizinkan anak-anak gabung makan sama aku." Kata nyonya Rein masih dengan senyuman lembut yang sama.


Nyonya Rein selalu seperti ini, lembut dan baik hati, siapapun pasti akan nyaman bila berbicara dengannya nyonya Rein sendiri orangnya ramah.


"Apa tuan Davin sudah menyetujuinya, nyonya?"


Nyonya Rein tersenyum aneh,"Apa yang aku lakukan pasti mendapatkan persetujuannya."


Setelah diyakini oleh nyonya Rein, aku akhirnya meminta izin untuk tidur di rumah selama seminggu. Selama itu pula aku akan diantar jemput oleh supir yang telah nyonya Rein atur untukku.


Kembali ke rumah adalah hal yang ku nantikan karena aku akhirnya memiliki banyak waktu untuk menemani anak-anak dan orang tuaku. Tapi kembali ke rumah juga memiliki ketidaknyamanan untukku karena peluang ku untuk bertemu dengan mas Adit pasti diperkecil.


"Hufth...tidak apa-apa, tidak apa-apa...toh, ini hanya sebentar saja..." Bisik ku menyemangati diri sendiri.


"Sudah siap?" Aku kembali dikejutkan oleh suara mas Adit.


"Mas Adit.." Bibirku secara alami membentuk sebuah senyuman.


"Dimana barang-barang mu? Kamu tidak membawa pakaian ke rumah mu?" Tanyanya aneh.


Aku hanya membawa oleh-oleh untuk orang-orang rumah saja dan tidak perlu membawa baju sebab di rumah aku memiliki banyak baju cadangan.


"Tidak, mas. Aku punya baju cadangan di rumah." Kataku menjelaskan.


"Oh, kalau begitu kita bisa berangkat sekarang." Kata mas Adit membuatku bingung.


"Eh, mau kemana?"


Dia mengernyit,"Mengantarmu pulang ke rumah mu." Katanya dengan wajah dan ekspresi datarnya yang khas.


Aku tercengang,"Mas Adit mengantarkan ku pergi?"


Aku kira mas Adit tidak mengantarkan ku pergi dan hanya membantuku meminta izin saja ke tuan Davin.


"Semalam kan aku udah bilang mau bantu kamu."


Aku praktis tersenyum cerah, bahkan aku sendiri tidak bisa membayangkan betapa cerah senyuman ku saat ini.


"Aku pikir... terima kasih, Mas. Hari ini aku sangat senang!"


Mas Adit menjawab acuh tak acuh,"Hem." Tapi aku senang mendengarnya!