
"Mom, Aska gak suka minum minuman itu!" Rengek Aska di belakang Rein ketika melihat termos mini yang ada di tangan pengasuh.
Daripada minum minuman itu Aska lebih suka minum susu buatan Rein. Rasanya lebih manis dan enak, tidak seperti minuman buatan pengasuh yang terkesan pahit dan memiliki bau rumah sakit.
Rein menggunakan kesempatan ini untuk melepaskan tangannya dari wanita itu. Sambil mengusap puncak kepala Aska, dia tidak langsung mengambil termos mini yang ada di tangan wanita itu.
"Maaf, apa aku boleh tahu di dalam termos itu ada minuman apa?" Rein bertanya penasaran.
Dia tidak ingin bersikap sok berbelit atau apa dan bukan berarti dia tidak mempercayai wanita ini. Karena Rein yakin bila Davin sudah mempercayainya maka wanita ini pasti pantas berada di sekeliling Aska dan mengurus kebutuhannya.
Namun, sebagai seorang Ibu yang baik Rein tidak ingin gegabah mengambil tindakan, membiarkan orang asing menyentuh putranya sesuka hati.
Senyuman wanita itu sontak menjadi kaku. Kedua mata cantiknya tanpa sadar melirik penampilan Rein dari bawah sampai ke atas dengan sinar mata mencemooh.
Jujur, Rein tidak secantik yang ia bayangkan. Rein memiliki penampilan biasa-biasa saja, tubuh tidak berdaging yang tidak akan menarik keinginan biologis, kecuali wajahnya. Ya, diantara semua kekurangan Rein hanya memiliki wajahnya saja yang cukup menarik perhatian. Rambut hitamnya dipotong pendek seperti anak laki-laki, wajahnya tirus dan sangat proporsi, bibir merahnya berwana merah dan terlihat ranum seperti buah yang matang dengan baik, dan terakhir matanya...
Wanita itu tidak bisa berkedip menatap mata indah milik Rein. Bulu matanya berbaris rapi di atas kelopak, bergetar ringan bila kelopak matanya terayun berkedip, itu sangat indah.
Wanita itu mengakui jika mata Rein memiliki ilusi yang sangat menjebak. Tidak heran bila Davin tidak bisa melepaskan Rein setelah bertahun-tahun berpisah, faktanya Rein memiliki senjata untuk melumpuhkan Davin sampai bertekuk lutut.
Wanita itu menatapnya dengan rasa cemburu.
"Ada apa dengan wajah ku?" Suara dingin Rein menarik wanita itu dari lamunannya.
Kali ini sinar mata Rein terlihat tidak bersahabat seperti sebelumnya. Rein menatap wanita itu dengan sorot mata yang lebih tajam dari sebelumnya. Dia merasa terganggu dengan penilaian terang-terangan wanita itu, seolah-olah ia adalah barang yang memiliki nilai jual atau tidak sama sekali.
Terlalu kasar.
"Menatap orang asing dengan pandangan penilaian adalah tindakan kasar yang berarti kamu sedang merendahkan orang tersebut, apakah kamu tidak pernah mendengar kata-kata ini sebelumnya?" Tanya Rein tidak puas.
Dulu, dia bisa saja diperlakukan rendah karena ia sama sekali tidak perduli dengan pendapat orang. Tapi sekarang berbeda, dia bersama Davin dan dia membawa kehormatan Davin. Jika ada orang yang menatapnya dengan pandangan mencemooh atau bahkan membicarakan hal-hal buruk mengenai dirinya, Rein tidak akan tahan membiarkan itu semua terjadi karena itu sama saja ia mendengar dan melihat orang-orang tersebut sedang merendahkan Davin!
"Nyonya salah paham, aku sama sekali tidak bermaksud merendahkan, Nyonya." Wanita itu buru-buru memperbaiki sikapnya serendah mungkin di depan Rein.
Meskipun enggan wanita itu tidak bodoh untuk memprovokasi Rein, karena memprovokasi Rein tidak ada bedanya dengan mencari masalah dengan Davin. Laki-laki kejam itu tidak akan kenal ampun saat menghukum orang.
"Aku hanya terkejut dengan kecantikan Nyonya Rein yang jauh lebih cantik dari foto di rumah." Dia dengan lihai membuat alasan.
Rein tidak perduli dan dia bahkan tidak tersentuh dengan kekaguman palsu yang wanita itu lontarkan.
"Langsung saja, minuman apa yang ada di dalam termos itu?" Tanya Rein acuh tak acuh.
Wanita itu segera menjelaskan,"Ini adalah minuman energi, Nyonya. Tuan muda Aska memiliki tubuh yang lebih lemah dari anak-anak seusianya sehingga dokter memberikan resep minuman ini kepada Tuan muda Aska agar bisa diminum setiap hari."
Selama Aska tinggal di vila, Rein tidak pernah melihat kekurangan Aska. Dia sama seperti Tio, bertindak gesit dan lincah ingin selalu bermain dengan Tio. Untuk kelakuan mereka berdua Rein sering merasa pusing dan kehilangan energi karena mereka berdua sangat menguras tenaganya.
"Nyonya, karena tuan muda Aska sekarang tinggal bersama Nyonya dan Tuan Davin, aku akan mengirimkan minuman ini setiap pagi untuk tuan muda Aska minum agar tubuhnya semakin membaik." Wanita itu berkata lagi.
Rein semakin yakin bila wanita itu memiliki motif tersembunyi. Mungkin ia ingin bertemu dengan Davin?
Tidak ada yang tahu jawabannya karena wanita itu pun memiliki penampilan seksi dan berkelas tidak seperti citranya sebagai pengasuh anak.
Haah... memikirkannya Rein tidak bisa tidak merasa cemburu, apalagi ketika kenangan 5 tahun yang lalu terngiang di dalam kepalanya saat ia melihat Davin mencium wanita seksi di depan sebuah hotel.
Sekalipun itu semua adalah kepura-puraan tapi tetap saja rasanya sangat menyakitkan untuk Rein pribadi. Lagipula, wanita mana yang rela kekasihnya menyentuh wanita lain?
Tidak ada bukan?
Rein pun juga tidak rela.
"Mom, Aska gak suka minum minuman itu!" Aska merengek lagi, menolak ide pengasuh itu datang berkunjung setiap hari untuk mengantarkan minuman yang paling ia benci.
Rein juga setuju dengan penolakan putranya tapi dalam kasus yang berbeda.
"Kamu tidak perlu datang ke rumah, cukup kirimkan saja resep itu kepadaku dan biar aku yang akan membuat minuman itu untuk Aska."
Bibir wanita itu bergerak-gerak terlihat panik dan tidak setuju. Dari reaksinya ini Rein bisa melihat bila wanita itu memiliki motif tersembunyi kepada keluarganya!
"Itu... Nyonya, aku minta maaf sebelumnya. Resep itu sangat penting dan berharga jadi aku tidak bisa membaginya kepada siapapun termasuk kepada Nyonya." Tolaknya terdengar sangat mencurigakan.
Rein tersenyum geli,"Kenapa tidak bisa? Bukankah aku adalah Mommy Aska?"
Wanita itu tersenyum malu,"Jangan mempersulit ku, Nyonya. Aku sungguh tidak bermaksud buruk karena kenyataannya resep itu tidak bisa dibagi kepada siapapun."
Rein menganggukkan kepalanya tidak memaksa. Masalah ini ia bisa membicarakannya dengan Davin nanti jadi dia tidak mau memperpanjang pembicaraan dengan wanita itu.
"Baiklah, aku akan memberikannya kepada Aska." Setelah itu dia mengambil alih termos mini dari tangan wanita itu dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Ia dan Aska lalu berangkat menuju sekolah Tio yang tidak terlalu jauh. Di sepanjang perjalanan ia terus saja memikirkan tindakan mencurigakan wanita itu.
Aneh rasanya, entah kenapa Rein merasa jika wanita itu memiliki motif tersembunyi bukan untuk Davin tapi untuk Aska sendiri.
Pasalnya dia sangat kukuh melindungi resep minuman Aska yang sangat mencurigakan.