
"Davin, apa kamu akan baik-baik saja?" Rein menarik tangan Davin khawatir.
Mereka saat ini sedang ada di depan ruang kerja Kakek Demian. Setelah acara makan selesai Kakek Demian meminta Davin menemuinya di ruang kerja untuk membahas sesuatu.
"Aku pasti akan baik-baik saja. Apalagi Kakek sekarang sudah merestui hubungan kita berdua sehingga tidak akan ada yang bisa menghalangi kita lagi untuk kembali bersama." Jawab Davin dengan nada yang sangat menenangkan.
Ada senyuman lega diwajahnya yang tampan. Restu dari Kakek Demian praktis telah menghilangkan beban yang paling berat di dalam hati Davin. Dia tidak lagi di rudung kekhawatiran hubungannya dengan Rein akan kandas seperti tahun-tahun menyakitkan itu. Sekarang tidak lagi, mereka akhirnya mendapatkan restu yang mereka harapkan dan setelah ini langkah mereka berdua akan jauh lebih mulus dari sebelumnya.
Kabar baik ini juga membuat hati Rein tenang juga senang.
"Kakek Demian merestui kita berdua, aku sangat senang mendengarnya. Tapi bagaimana jika Kakek Demian sebenarnya tidak benar-benar merestui kita? Dia sengaja bersikap murah hati kepada kita tadi karena tidak ingin mempermalukan kamu?" Rein takut ini semua hanyalah sebuah sandiwara saja.
Bagaimana mungkin dia lupa betapa sakit apa yang telah Kakek Demian lakukan kepadanya?
Rein menolak untuk lupa karena kesakitan itu telah bersamanya lebih dari 3 tahun lamanya.
"Kakekku memang orang yang tidak murah hati." Kata Davin mengakui.
Tangan besarnya mengelus wajah mulus nan lembut Rein dengan kasih sayang yang tidak bisa disembunyikan dari matanya.
"Karena dia bukan orang yang bermurah hati maka dia tidak akan main-main dengan semua ucapannya. Aku sangat mengenalnya. Kata-katanya malam ini di meja makan adalah benar. Dia mengakui hubungan kita dan kamu adalah pendamping ku. Di samping itu juga ada Tio dan Aska. Aku yakin, kedua anak itu memiliki andil besar dalam restu Kakek kepada kita. Tanpa anak-anak, mungkin dia akan terus memaksaku untuk melanjutkan perjodohan itu dengan Anya. Tapi untunglah," Davin menarik Rein ke dalam pelukannya, memeluk Rein seerat mungkin untuk melampiaskan betapa takutnya dia kehilangan Rein.
"Tuhan mengirimkan Tio diantara kita." Bisik Rein berusaha menahan air matanya.
Dia melahirkan Tio dengan susah payah, penuh rasa sakit fisik dan batin. Dia pikir kehidupannya dengan Tio di masa depan akan sangat sulit tanpa Davin dan uang yang cukup. Tapi prasangka nya ternyata salah. Bukan kesulitan yang dia dapati melainkan sebuah kebahagiaan.
Cintanya kembali dan hidup putranya baik-baik saja, malah, dengan hubungan ini dia memiliki putra tambahan yang sangat imut dan cerdas. Jadi, mana mungkin Rein tidak mensyukuri semua nikmat yang telah Tuhan berikan kepadanya?
Rein sangat mensyukuri nya jauh dari dalam hatinya seraya berdoa Tuhan menjaga orang-orang terkasihnya agar tetap dalam lindungan-Nya.
"Yah, Tio adalah penolong kita." Bisik Davin serak.
Rein menambahkan,"Dan juga Aska. Mereka adalah hadiah yang Tuhan kirimkan kepada kita berdua."
Davin mengangguk setuju. Tanpa Tio dan Aska, hubungan ini mungkin akan lebih sulit.
Setelah berpelukan kama dan saling menguatkan, Davin akhirnya melepaskan Rein dengan senyuman cemerlang di wajahnya.
"Aku harus masuk, Kakek pasti menungguku di dalam." Kata Davin tidak berdaya.
Dia juga ingin tinggal lebih lama dengan kekasihnya.
Rein mengangguk malu, kedua tangannya melingkari leher Davin dan menarik sedikit agar Davin menunduk sedikit, lalu tanpa mengatakan apa-apa Rein mengecup singkat bibir Davin.
"Pergilah." Kata Rein seraya melepaskan tangannya dari leher Davin.
Tapi, Davin tidak mau membiarkan Rein pergi dan ingin membalas Rein tapi segera dihentikan oleh tangan ramping Rein,"Tidak ada lagi." Katanya sambil menahan tawa.
"Curang." Dengus Davin tidak puas.
"Masuklah, Kakek sudah menunggumu di dalam." Suruh Rein sambil mendorong Davin menjauh darinya.
"Sekali saja." Davin sudah berpuasa untuk menyentuh Rein dan dia hampir tidak bisa menahan diri lagi.
"Dav, jangan membuat masalah." Jika Rein sudah mengatakannya maka Davin tidak akan memiliki peluang.
Dengan cemberut dia mencubit pipi gembil Rein yang sudah berdaging sebagai pelampiasan, enggan, Davin menyentuh gagang pintu. Tapi beberapa detik kemudian dia segera berbalik menghadap Rein. Melepaskan jas hijau mudanya dan melingkarinya di atas pundak Rein.
"Pakailah, di sini dingin."
Rein tersenyum manis, mengangguk patuh, kedua tangannya memegang erat kain jas kekasihnya.
"Masuklah."
Davin tidak lagi membuat masalah.
"Hem." Lalu Davin benar-benar masuk ke dalam ruang kerja Kakek Demian.
Rein menghela nafas panjang. Dia memegang erat jas Davin ditubuhnya sambil berdoa sang kekasih baik-baik saja di dalam sana.
...🌪️🌪️🌪️...
Begitu masuk ke dalam ruangan Kakek Demian, aura Davin segera berubah. Tatapannya tidak lagi memiliki perasaan hangat, dingin dan tampak acuh tak acuh. Di hadapan laki-laki paruh baya di depannya ini, Davin hanya memiliki satu perasaan, yaitu 'hormat'.
Selebihnya dia tidak merasakan apa-apa karena hubungan mereka sebenarnya tidak cukup dekat. Kakek Demian dulu tidak terlalu menyukai anak-anak sehingga hubungan Kakek dan cucu di keluarga ini cukup dingin dan tidak berperasaan.
"Kakek memanggil ku?" Tanya Davin datar.
Kakek Demian mengangkat kepalanya, melirik Davin sekilas sebelum kembali menundukkan kepalanya.
Kakek Demian tidak mengatakan apa-apa dan Davin juga tidak mengatakan apa-apa. Karena Kakek Demian tidak memintanya duduk, maka Davin hanya bisa berdiri menunggu kata-kata apa yang akan dikeluarkan oleh laki-laki paruh baya itu.
Kama terdiam. Sudah 15 menit berlalu sejak Davin masuk ke dalam ruangan ini. Davin pikir sesi 'diam' ini akan terus berlanjut sampai beberapa menit kemudian tapi dia salah karena Kakek Demian mulai mengeluarkan beberapa patah kata. Sambil berdiri dari duduknya dia berjalan mendekati Davin.
"Davin,"
Plak
Kakek Demian menampar wajah Davin dengan ekspresi muram di wajah tuanya.
"Apa kamu tahu masalah apa yang telah kamu buat malam ini kepadaku?" Tanya Kakek Demian dengan suara tuanya.
Davin menyentuh wajahnya yang baru saja di tampar. Rasanya sangat panas dan perih. Tangan tua Kakek Demian jelas sangat keriput tapi tenaganya sungguh tidak main-main.
Menggerakkan giginya menahan sakit. Davin menegakkan punggungnya dan menatap lurus tepat ke mata Kakek Demian.
"Aku tahu, tapi masalahku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan masalah yang putra Kakek ciptakan." Jawab Davin tanpa perubahan emosi di wajahnya.
Saat semua orang sedang berkumpul tadi Revan tiba-tiba membuka masalah. Dia ditemukan di dalam toilet wanita dan mencoba untuk melakukan pelecehan. Mungkin, bila itu adalah wanita lain maka masalahnya tidak akan sebesar itu karena pada yang perduli. Tapi masalahnya wanita ini berbeda. Dia adalah kekasih Adit, asisten pribadi Davin Demian. Sontak saja masalahnya ini langsung menyebar dan dibicarakan oleh para tamu.
Davin sama sekali tidak malu dan tidak memberikan komentar apa-apa. Toh, itu adalah rencana Adit dan Davin tidak bodoh untuk tidak mengetahui tujuan Adit melakukan ini.
Hanya saja dia tidak mengerti mengapa Adit mengklaim Anggi sebagai kekasihnya alih-alih menyebutkan Anggi adalah tamu penting kediaman Davin Demian.
"Davin, jangan bawa-bawa Revan ke dalam masalah ini." Peringat Kakek Demian.