
"Tuan akan tahu setelah melihatnya." Jawab Adit pelan.
Dia sudah melihat isinya sebelum memutuskan untuk memberikannya kepada Davin. Setelah melihat keseluruhan isinya bagi Adit ini jauh lebih menarik daripada apapun dan dia yakin Davin juga akan memiliki pendapat yang sama setelah melihatnya nanti.
"Selain mengirimkan benda ini, dia juga menulis sebuah pesan singkat bahwa benda ini adalah hadiah permintaan maaf untuk Rein dan tuan. Dia berjanji tidak akan mengusik kehidupan pribadi kalian lagi." Sambung Adit lagi.
Ini adalah bentuk permintaan maaf yang paling berharga nilainya di dalam hidup tuannya kelak.
Davin mengernyit,"Hem, menarik. Kalau begitu kita tidak boleh melewatkannya." Dia mengambil flashdisk yang disamarkan menjadi bentuk alat tulis.
Setelah itu, dia meminta Adit memasangnya di komputer, menunjukkan file yang tersimpan dan mulai menontonnya.
Tersenyum miring,"Sepertinya dia cukup tulus."
...🌪️🌪️🌪️...
Di dalam rumah, dia berjalan mondar-mandir dengan berbagai macam benda di tangannya. Kaki maupun kedua tangannya tidak berhenti bergerak merapikan benda-benda yang dia bawa dari luar negeri. Berdiri sambil berkacak pinggang memandangi setiap sudut rumah yang telah dia sentuh untuk dirapikan dan dihias.
Jika tempatnya miring, dia akan langsung meluruskan tempat itu. Dan jika tempat itu lurus, dia akan memiringkan tempat itu hingga kedua matanya merasa jika tempat itu benar-benar sedap dipandang.
Beres dengan benda-benda itu, dia menarik koper keluarga kecilnya. Membuka satu persatu koper dan mengeluarkan isinya untuk dipindahkan ke dalam lemari. Tidak ada jejak kelelahan di wajahnya yang cantik meskipun telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya untuk merapikan rumahnya- rumah terhangat yang pernah dia miliki dalam hidup ini dan sempat di kosongkan karena keadaan mendesak. Sekarang dia sudah kembali bersama keluarga kecilnya bersama kedamaian di dalam hati mereka.
"Rein, istirahatlah. Kamu bisa meminta Adit untuk melanjutkannya." Suara malas Davin di sofa sama sekali tidak menghentikan Rein melanjutkan aktivitasnya.
Rein hanya tersenyum manis sambil menatap kekasihnya sebelum kembali menundukkan kepalanya memilah-milah baju yang ada di dalam koper.
"Sedikit lagi, Dav. Aku harus merapikan baju anak-anak dan kita agar rumah lebih nyaman ditinggali." Kata Rein tidak mengindahkan saran Davin.
Davin cemberut. Dia tidak suka diabaikan oleh kekasihnya. Padahal sewaktu di negara A, Rein tidak pernah meninggalkannya di rumah sakit, selalu bersamanya dan menyemangatinya agar tetap berjuang.
"Jika kamu tidak mau mendengarkan, maka aku akan turun dari sini dan membantu kamu membersihkan rumah." Ancam Davin tidak main-main seraya menurunkan salah satu kakinya ke lantai.
Rein marah. Dia langsung melepaskan pekerjaannya dan segera menemui Davin yang mulai membandel.
"Kakimu akan terluka jika melakukan pekerjaan yang berat-berat!" Larang Rein tidak senang.
"Aku bukan laki-laki cacat, Rein. Aku juga bisa melakukan apa yang dulunya aku sering lakukan." Kata Davin tertekan.
Kekasihnya tiba-tiba menjadi paranoid semenjak dia mengalami kecelakaan mobil. Rein tidak suka melihatnya berjalan terlalu jauh, mengangkat barang, ataupun berlari. Padahal dia baik-baik saja dan mampu melakukan semua itu. Kecuali yah, berlari. Dia memang bisa berlari tapi tidak sekuat dulu karena tulangnya masih pemulihan. Namun, untuk keseluruhannya Davin tidak mengecewakan dan bisa melakukannya.
"Aku tahu, aku tahu. Aku hanya... kau tahu, aku masih tidak bisa melupakan hari itu." Bisik Rein merasa bersalah.
Malam itu dia melihat kekasihnya terbaring di atas ranjang dengan berbagai macam alat medis yang sangat rumit. Tubuhnya terluka dan lebam-lebam, sementara kaki kanannya hampir saja tidak tertolong. Untunglah Davin memiliki semangat juang yang tinggi untuk sembuh dan melepaskan diri dari belenggu vonis cacat. Jika tidak, mungkin Davin tidak akan bisa menerima kondisinya.
"Jangan takut, bukankah aku berjanji insiden itu tidak akan pernah terulang kembali? Aku mungkin tidak bisa menebak urusan masa depan karena itu adalah rahasia Tuhan. Akan tetapi sebisa mungkin aku akan mencoba menghindar kecelakaan itu terjadi agar aku bisa melindungi kalian semua." Hibur Davin berjanji.
Jujur, hal yang telah membuat Davin terpacu untuk cepat sembuh adalah Rein. Di rumah sakit, dia seringkali terbangun dari tidurnya gara-gara mendengar suara tangisan Rein. Itu sangat menyayat hatinya. Davin tidak tahan dan memaksakan diri turun dari ranjangnya dalam keadaan menyeret kaki kanan yang terluka agar bisa menjangkau Rein yang tertidur di atas sofa
Saat itu Rein sangat terkejut karena Davin tiba-tiba menghampirinya. Tangisan yang awalnya tertahan lantas lepas kendali karena sedih bercampur manis. Dia tersentuh melihat perjuangan Davin agar dia tersenyum lagi, tapi dia lebih sedih karena Davin harus menyeret kakinya yang terluka untuk menghiburnya.
Jadi setelah kejadian itu Rein berjanji tidak akan pernah menangis lagi agar tidak membuat Davin cemas.
"Yah, Tuhan tidak akan membiarkan itu terjadi lagi karena Dia mencintai keluarga kecil kita." Yakin Rein seyakin-yakinnya.
"Hem." Davin menarik Rein agar ikut berbaring dengannya di atas sofa. Membawa Rein ke dalam pelukannya dan mulai memejamkan mata karena mengantuk.
Kantuk akan datang dengan sendirinya saat dia bersama Rein. Mungkin karena dia merasa aman dan nyaman membuat otaknya rileks, dan tanpa sadar jatuh terlelap memasuki dunia mimpi yang tidak berujung.
Melihat Davin akhirnya memasuki dunia mimpi, Rein menjadi lebih tenang. Dia menyentuh puncak kepala kekasihnya, mengelusnya lembut dan penuh kasih, Davin sangat suka Rein melakukan ini.
"Jangan memaksakan diri untuk lebih kuat, Dav. Jika kamu tidak mampu maka serahkan semuanya kepada Tuhan karena Dia-lah satu-satunya Dzat yang Maha Kuasa atas segala kekuatan. Jika kita berpasrah diri dan mempercayakan semuanya kepada Tuhan, maka Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita, hamba-Nya, kecewa. Dia pasti akan menyiapkan skenario indah yang tidak pernah kita sanga-sanga sebelumnya. Untuk hari itu, kita harus lebih bersabar, Dav... kita harus lebih bersabar" Bisik Rein lembut dan penuh kasih, bagaikan senandung lembut yang menenangkan saraf-saraf otak Davin.
Sama seperti Rein, Davin sejujurnya selalu melibatkan Tuhan dalam keputusannya selama ini. Bersabar demi bersabar, dia terus menunggu waktu yang paling tepat untuk memotong cakar-cakar para rubah tua serakah itu. Dia telah menyiapkan sebuah kejutan manis untuk mereka yang telah berani menghancurkan orangtuanya, kehidupan orang-orang terkasihnya, dan bahkan hampir membuatnya menjadi pria lumpuh.
Hah, bagaimana mungkin Davin masih melepaskan mereka setelah dia hampir kehilangan kaki kanannya?
Bermimpi lah!
...🌪️🌪️🌪️...