My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
11. (11)



Sesampainya di rumah, Widia dan Tina mencari kedua orang tua mereka tapi tidak ada siapapun di rumah. Mereka menduga bila kedua orang tua mereka sedang ada di luar dan sibuk bergosip dengan para tetangga. Ini sudah menjadi kebiasaan kedua orang tuanya jadi Widia maupun Tina juga tidak heran sebab mereka juga telah menuruninya.


"Tin, aku keluar dulu manggil Ayah. Kamu diam di sini dan tunggu kami." Kata Widia sembari bangun dari duduknya.


Widia tidak tahan diam saja karena dia ingin segera memiliki hubungan yang baik dengan Anggi. Alasannya, dia kelebihan lemak dimana-mana dan membutuhkan biaya yang cukup besar untuk menghilangkannya. Apa yang harus dia lakukan untuk menghilangkan lemaknya sedangkan uang saja dia tidak punya. Mengandalkan gaji PNS Ayah saja tidak cukup untuk membiayai perawatannya karena perawatan clinik kecantikan itu sangat mahal.


"Hem, aku juga lapar mau makan." Tina masuk ke dapur untuk makan.


Keluar dari rumah, Widia berjalan ke rumah tetangga yang paling akrab dengan ibunya dan biasanya rumah tetangga ini dijadikan markas oleh ibu-ibu yang lain untuk berbagi informasi. Istilahnya mereka suka menggosipkan kehidupan nyaman dan buruk orang lain.


"Putri-putri ku memiliki hubungan yang baik dengan Anggi dan mereka pasti akan sangat dihargai oleh para pelayan di rumah besar itu karena Anggi adalah sepupu putri kami." Suara bangga dan sombong ibu adalah hal pertama yang menusuk telinga Widia.


Widia menggigit bibirnya gugup karena dia paling tahu bagaimana sikap Anggi kepada mereka tadi. Tidak ada sikap ramah tamah apalagi sampai dihormati, dan malah mereka berdua justru diberikan bahu dingin oleh Anggi. Itu merupakan penghinaan yang tidak mampu mereka bayar.


"Woah, Anggi sekarang jadi orang kaya. Dia pasti punya banyak uang. Membelanjakan uang untuk Widia dan Tina sepertinya bukan masalah besar." Kata salah satu tetangga berseru kagum.


Entah siapa yang menyebarkan terlebih dahulu, tapi orang-orang di sekitar rumah sini sudah tahu jika Anggi telah membeli rumah mewah di kota dan memiliki pekerjaan yang sangat bagus di sebuah rumah besar di pusat kota. Tidak hanya itu saja, akan ada beberapa orang yang mengaku-ngaku pernah melihat Anggi menggunakan mobil mewah dengan penampilan yang sangat berkelas, jelas ini mengundang cemburu dan menghidupkan mood penjilat di dalam hati mereka.


"Tentu saja. Lihat saja dimana kedua anaknya bersekolah sekarang. Aku dengar-dengar dari rekan kerja ku sekolah itu hanya diperuntukkan oleh orang kaya yang memiliki banyak uang." Seruan Ayah tidak kalah bangganya.


Seolah-olah orang yang dia bicarakan adalah prestasi gemilang putri-putrinya yang payah dan hanya bisa bersantai di rumah tanpa mau bekerja keras.


"Anggi sangat hebat. Aku awalnya tidak percaya dengan apa yang orang-orang katakan karena Anggi dulunya adalah anak yang sangat buruk dan nakal. Dia melakukan kejahatan bersama kekasihnya dan harus menikah muda, padahal dia masih kuliah. Tapi lihat sekarang, dia bekerja di sebuah rumah mewah dan berhasil membeli rumah bagus di kota, anak-anaknya juga di sekolah kan di sekolah yang mahal. Bisa dibayangkan betapa bahagianya dia saat ini." Ketika tetangga ini mengungkit rumor di masa lalu, semua orang langsung mengingatnya dengan mudah karena rumor itu dulu sangat gempar.


Diingatkan tentang rumor, ayah dan ibu jelas merasa sangat tidak nyaman karena itu adalah pekerjaan Tina, putri mereka untuk merusak nama baik Anggi. Biar bagaimanapun Anggi saat itu adalah orang yang cantik dan cerdas, mampu kuliah dan mendapatkan pujian banyak orang. Karena hal ini putri-putri mereka selalu dibanding-bandingkan dengan Anggi. Putri mereka tidak mampu masuk ke sebuah universitas tapi Anggi bisa, dan putri mereka tidak secantik Anggi jadi wajar saja ada kecemburuan di dalamnya.


Sekarang masalah ini kembali di ungkit, ayah dan ibu berharap Anggi tidak mengingatnya kembali. Dan alangkah baiknya Anggi tidak tahu siapa orang yang telah mencemarkan nama baiknya.


"Dia...dia jelas belajar dari kesalahannya..." Ibu berkata tidak enak.


Di luar Widia sudah tidak tahan lagi mendengar acara gosip orang-orang ini karena hatinya yang telah gelisah kian gelisah lagi setelah mendengarnya. Jadi dia masuk dan menyapa semua orang agar topik mereka semua teralihkan.


Tapi ketika mereka semua melihat Widia datang, topik bukannya teralihkan tapi semakin gencar dibicarakan sebab ayah dan ibunya telah memberitahu mereka bila dia hari ini pergi menemui Anggi bersama Tina.


"Oh, Widia! Kamu sudah pulang. Kemari lah dan ceritakan kepada kami bagaimana hasil pertemuan mu dengan Anggi." Tanya tetangga yang paling antusias dalam pembicaraan ini.


Sangat buruk. Batin Widia tapi tidak mengatakannya kepada mereka semua.


Widia melihat wajah tersenyum kedua orang tuanya tidak berdaya. Menggertakkan giginya dan terpaksa membuat kebohongan yang sangat indah.


"Sangat baik. Aku dan Tina bertemu dengan kak Anggi di depan sekolah anak-anaknya." Katanya setengah berbohong.


Jawaban ini membuat mereka kian penasaran.


"Lalu ceritakan kepada kami bagaimana pertemuan kamu dan dia.."


Mengepalkan kedua tangannya menahan amarah,"Kak Anggi diantarkan oleh sebuah mobil mewah. Dia juga menggunakan pakaian bermerek yang biasa dipajang di mall dengan harga yang sangat mahal. Selain itu kak Anggi juga menggunakan banyak perhiasan berlian yang sangat indah.." Ketika mengatakan ini kedua bola matanya bersinar serakah ingin sekali mengambil alih semua yang Anggi kenakan hari ini.


Hum, bila dia menggunakan pakaian bermerek, diantarkan mobil mewah dan perhiasan berlian mahal itu... Widia bisa membayangkan betapa cemburunya orang-orang di sini. Mereka pasti tidak akan tahan melihatnya dengan penampilan yang sangat luar biasa. En, terutama perhiasan yang Anggi gunakan. Widia ingin tahu seberapa banyak uang yang akan dia dapatkan jika menjual perhiasan-perhiasan itu?


Dengan uang sebanyak itu apakah masalah lemak di tubuhnya bisa teratasi?


Atau dia juga bisa menggunakannya untuk melakukan perawatan kecantikan yang lainnya?


Memikirkannya saja sudah membuat Widia ngiler. Dia semakin serakah ingin mendekati Anggi.


"Woah, dia benar-benar kaya."


"Apa aku bilang...dia pasti memiliki banyak uang.."


Semua suara-suara kekaguman mulai terdengar di antara orang-orang ini. Ada nada kecemburuan juga ada nada penjilat, mereka jelas juga ingin memiliki koneksi yang baik dengan Anggi. Siapa tahu Anggi bisa meminjamkan uang atau bagusnya lagi Anggi bisa membantu anak-anak mereka mencari pekerjaan di kota.


Semuanya baik-baik saja.


"Lalu apa dia mengajak kalian berbelanja? Atau pergi ke mall untuk makan-makan?"


Ayah dan ibu menatap Widia dengan ekspresi antisipasi.


Tersenyum malu,"Dia sangat sibuk. Dia bilang akan membawaku dan Tina mengunjungi rumah besar itu setelah dia menyelesaikan semua urusannya." Bohong Widia.


"Ah..sayang sekali. Tapi Anggi juga sangat sibuk..."


"Yah, dia bekerja di sebuah rumah mewah dan pekerjaannya pasti sangat banyak."


Ayah dan ibu tersenyum canggung, tampaknya mereka melihat ada sesuatu yang salah dengan Widia jadi mereka buru-buru pamit dan segera pulang ke rumah.


Setelah ketiga orang itu pergi, topik pembicaraan secara alami beralih ke keluarga itu. Mereka jelas menghina perilaku serakah keluarga ini.


"Dulu saat keluarga Anggi miskin mereka berpura-pura tidak mengenalnya. Tapi sekarang setelah Anggi kaya, mereka berbicara dengan percaya diri jika Anggi adalah keluarga mereka. Sungguh keluarga yang tidak tahu malu." Suara seseorang mencemooh.


"Nah, aku bilang orang yang serakah pasti akan seperti ini. Mereka mungkin menyesal telah mengabaikan keluarga Anggi dulu."


Tetangga yang paling dekat dengan keluarga Widia menggelengkan kepalanya cemas,"Aku harap Anggi mau berbaik hati kepada keluarga ini karena biar bagaimanapun mereka adalah keluarga dekat."


Saat orang-orang mendengar dia mengatakan ini, mereka langsung memberikannya tatapan menghina. Siapa yang tahu apa yang dia pikirkan.


Sementara orang mulai sibuk membicarakan mereka, keluarga ini buru-buru pulang ke rumah dan mulai membicarakan hasil apa yang Widia dapatkan saat pergi menemui Anggi bersama Tina tadi siang.


"Bu, semuanya kacau. Anggi tidak mau mengakui kita sebagai keluarganya." Kata Widia begitu mereka masuk ke dalam rumah.


Hasil ini sungguh mengerikan dan membuat kedua orang tua itu sangat terkejut.


"Apa-apaan, kenapa dia bersikap seperti ini kepada kita? Tidakkah dia lupa jika aku dan ayahnya adalah saudara kandung? Bagaimana mungkin dia tidak mau mengakui ku sebagai keluarganya?!" Yang paling marah adalah Ayah karena tidak dianggap serius oleh Anggi.


Sebab dia dan Ayah Anggi adalah saudara kandung satu ibu, jadi bagaimana mungkin dia tidak dianggap bagian dari keluarganya.


"Itulah yang aku pikirkan. Tapi dia sangat dingin dan mengungkit-ungkit masa lalu. Dia pikir kita sengaja mengabaikan keluarganya dulu." Kata Widia tidak mau menerima kenyataan jika mereka memang sempat menjauh dari keluarga Anggi.


Yah bila dilihat dari segi manapun kedua keluarga ini tidak cocok bersanding karena yang satu dari kalangan PNS dan yang satunya lagi dari kalangan pekerja serabutan, bukankah ini memalukan?


"Sangat sombong! Apa dia pikir kita dulu punya banyak uang dan tidak memiliki kebutuhan?! Dengan uang sebanyak itu kita tidak akan mampu memberikannya kepada mereka!" Amuk ibu juga sangat marah.


Padahal dia telah banyak berkhayal baru-baru ini untuk menggunakan baju bagus dan membeli beberapa perhiasan.


"Aku juga tahu dia sangat sombong. Hanya karena dia memiliki uang dia bisa merendahkan kita yang tidak sekaya dia." Tina keluar dari dapur dengan wajah berminyak nya yang menjijikkan.


Widia mendengus tidak senang melihat Tina. Semua keluhannya menumpuk karena Tina yang bodoh dan tidak bisa bermain baik.


"Bu, ini bukan masalah yang penting karena Anggi punya dendam yang dalam kepada Tina. Gara-gara ulah Tina, kak Anggi sekarang tidak mau berbicara dan mengakui kita!" Keluh Widia menyalahkan semua kesalahan kepada Tina.


Diingatkan tentang kesalahannya, Tina ingin berkilah tapi saat melihat wajah garang ibu dan ayah, dia langsung menekannya dan memilih untuk diam menerima penghakiman.


"Denda apa yang dimiliki Anggi kepada adikmu?" Tanya ibu cemberut.


Dia sudah memiliki tebakan di dalam hatinya tapi dia takut mengakuinya secara langsung.


Widia langsung menjawab,"Dia tahu orang yang telah menyebarkan fitnah itu adalah Tina dan dia tidak biasa melupakan masalah itu karena namanya sangat tercemar karena tuduhan itu. Aku bisa melihat Bu, bila kak Anggi sangat tidak senang dengan Tina. Dia bilang tidak mau memiliki hubungan kekeluargaan dengan kita lagi gara-gara Tina!"


Tina sangat ketakutan mendengar apa yang Widia katakan. Jika Anggi membencinya maka dia tidak bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan. Lantas apa yang harus dia lakukan? Semua itu sudah terjadi di masa lalu.


"Itu...itu sudah menjadi masa lalu.." Kata Tina takut-takut.


Kulitnya yang gelap tampak sangat aneh dipadukan dengan wajah berminyak nya.


"Diam, ayah tidak mau mendengarkan apapun darimu." Kata Ayah marah.


Ibu juga menyayangkan ini tapi dia masih membela putrinya,"Benar apa yang dikatakan Tina. Masalah ini biar bagaimanapun itu sudah menjadi masa lalu dan tidak baik untuk diingat."


Ayah mendengus tidak puas, apa yang dia rasakan sama seperti yang dirasakan Widia.


"Bu, bela saja dia. Toh, sekuat apapun Ibu membela kak Anggi juga tidak akan memaafkannya.." Kata Widia mengejek.


Ibu langsung terdiam. Dia menatap suaminya dengan pandangan bertanya.


Berpikir lama, tidak ada yang berani bersuara. Bahkan Widia yang telah puas melampiaskan amarahnya kepada Tina juga tidak berani mengangkat mulutnya untuk berbicara karena ekspresi Ayah sangat serius.


"Baiklah, malam ini kita akan pergi ke rumah kakakku di kota nanti untuk meminta maaf secara langsung. Tina," Ayah beralih menatap Tina yang sangat ketakutan,"Minta maaf kepada Anggi nanti. Jika kamu tidak meminta maaf maka hubungan kita dengan Anggi tidak akan pernah membaik." Kata Ayah membuat Tina langsung tercengang.


Dia sangat enggan dan ingin menolak tapi ekspresi Ayah sangat menyeramkan. Akhirnya dengan berat hati dia menganggukkan kepalanya menyatakan kesediaannya untuk meminta maaf kepada Anggi.


Tidak apa-apa dia merendahkan martabatnya saat ini asalkan dia bisa memiliki uang dan koneksi Anggi untuk mencari laki-laki mapan nan kaya agar bisa dijadikan suami.


"Baiklah, aku bersedia." Kata Tina sangat terpaksa.


Widia tersenyum puas dan di angguki puas pula oleh Ayah juga Ibu.


"Sudah direncanakan. Malam ini kita akan pergi ke rumahnya. Kalian siapkan pakaian yang bagus dan tidak memalukan saat mengunjungi sepupu kalian." Kata Ibu sangat bersemangat.


Dia meminta anak-anaknya memakai baju yang mahal dan terbaik dari lemari pakaian. Tidak hanya itu saja tapi ibu juga ingin membawa anak-anaknya ke salon untuk perawatan tapi segera ditolak ayah karena mereka harus memiliki penampilan yang baik tapi tidak glamor untuk menunjukkan keseriusan mereka dalam meminta maaf kepada Anggi.


...🌪️🌪️🌪️...


Malam harinya Anggi telah bermain puas dengan anak-anaknya. Dia mengajak anak-anaknya pergi bermain ke segala tempat bermain dan membeli pakaian juga mainan untuk menyenangkan hati putra-putranya. Selain membawa kedua anaknya pergi dia juga membawa kedua orang tuanya sehingga cuti kali ini sangat berkesan untuk Anggi.


Namun sayang sekali karena dia hanya mengambil cuti sehari dan besok sudah harus kembali ke mansion Demian untuk bekerja. Jika tidak, ah, bisa dibayangkan betapa kacaunya mansion Demian tanpa dirinya.


"Anggi, ayo bawa anak-anak makan malam. Kebetulan malam ini ibu masak semua makanan kesukaan kamu dan anak-anak." Panggilan ibu dari ruang makan mengambil fokus Anggi.


Anggi tersenyum cerah,"Iya, Bu. Ngomong-ngomong terima kasih untuk masakannya. Anggi dan anak-anak pasti makan lahap malam ini." Balik Anggi berteriak dalam suasana hati yang baik.