My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
78. Dia Kekasihku



"Jelaskan tentang apa semua ini, Davin! Kenapa kamu berpacaran dengan manusia cacat ini!" Teriak laki-laki paruh baya itu murka kepada Davin- benar, laki-laki jangkung yang baru saja mendapatkan tamparan tadi adalah Davin, laki-laki yang kini sedang memungut hati-hati fotonya dengan sang kekasih adalah Davin, dan kekasih yang sedang ia peluk di dalam foto itu adalah Rein.


"Kakek, dia tidak cacat tapi sedikit berbeda." Meskipun telah diberikan tamparan dan dipermalukan di depan keluarga yang lain, Davin masih menjawab tenang tanpa gentar sedikitpun.


Tangan-tangannya tidak berhenti bergerak mengumpulkan foto-fotonya dengan Rein yang diambil secara diam-diam.


"Berbeda? Sadarlah Davin, dia tidak berbeda tapi cacat! Apa kamu tidak malu berpacaran dengan manusia bunglon, hah!"


Bunglon?


Kekasihnya adalah perempuan yang sempurna tapi sedikit berbeda dari perempuan pada umumnya. Dan perbedaannya itu hanya terletak pada dada datarnya saja dan sisanya ia tidak jauh berbeda dengan perempuan yang lain.


Dia memiliki rahim, dia memiliki tubuh yang feminim, dia memiliki wajah yang cantik nan indah, dan yang paling penting dia memiliki hati yang sangat tulus.


Davin tidak akan pernah bisa berhenti tersenyum setiap kali memikirkan tentang kekasihnya ini.


"Kakek, dia adalah perempuan yang sempurna dan tidak cacat." Davin menjawab masih dengan ketenangan yang luar biasa.


"Dia adalah Hermaprodhit, kan?" Kakek tidak lagi berteriak-teriak seperti sebelumnya.


Davin tidak mengelak nya.


"Benar." Jawabnya sembari bangun dari acara berjongkok nya dengan puluhan lembar foto di tangan ia pegang dengan hati-hati.


"Hermaprodhit tidak bisa memberikan kamu keturunan." Kata Kakek dengan percaya diri.


Davin menggelengkan kepalanya tidak setuju.


"Hermaprodhit ada 4 jenis. Pertama, manusia yang lahir dengan dua kelamin dan bertubuh perempuan tanpa rahim, ini jelas laki-laki dalam medis. Kedua, manusia yang lahir dengan dua kelamin dan bertubuh laki-laki dengan sebuah rahim, medis mengatakan dia adalah perempuan. Ketiga, manusia yang lahir dengan kelamin laki-laki tapi bertubuh perempuan, ini jelas-jelas laki-laki. Dan terakhir, manusia yang lahir dengan kelamin perempuan tapi memiliki bentuk tubuh laki-laki yang feminim dan berdada datar, medis mengatakan dia adalah perempuan." Davin menjelaskan dengan sabar untuk Kakek.


"Apa Kakek tahu jenis yang mana, Rein?" Tanya Davin menguji.


Kakek mendengus tidak senang, dia menyandarkan tubuh tuanya di sofa dengan tatapan angkuh acuh tak acuh.


Jelas saja, Kakek tidak mau menjawabnya begitupun anggota keluarga yang lain. Mereka hanya menatap Davin seperti laki-laki idiot yang tidak memiliki pikiran.


"Rein adalah yang terakhir, Kakek. Dia memiliki rahim dan hanya memiliki satu jenis kelamin, yaitu perempuan. Dia bisa memberikan ku keturunan jika itu yang Kakek takutkan." Meskipun ia tahu mungkin keberhasilan tidak akan mudah tapi Davin percaya akan datang hari dimana Tuhan menitipkan mereka berdua sebuah benih kehidupan di dalam rahim Rein, dan Davin selalu bersabar untuk hari itu.


"Aku tidak perduli! Aku tidak mau kamu memiliki hubungan dengan manusia cacat dan miskin itu! Penerus keluarga Demian harus memiliki pasangan yang sempurna dan berasal dari keluarga terpandang, apa kamu mengerti!" Kakek tidak mau tahu teori apapun itu yang Davin katakan.


Intinya dia hanya ingin Davin putus dengan Rein dan menjalin kasih dengan wanita yang sepantasnya.


"Apa Kakek memintaku berpisah dengannya?" Kesabaran Davin segera menguap entah kemana.


Kakek dengan angkuhnya menjawab,"Ya, putus lah dengannya dan cari perempuan pantas bersanding dengan keluarga kita."


Davin langsung menolak.


"Aku tidak mau. Aku tidak akan pernah putus dengan Rein. Lagipula Mama dan Papa sudah merestui hubungan kami sebelumnya jadi Kakek tidak berhak memisahkan ku dengan Rein!"


Kedua orang tuanya sudah lama memberikan restu, inilah alasan kenapa dia sangat tenang menghadapi Kakek sebelumnya.


"Davin, jangan mengungkit tentang mereka lagi karena mereka sudah tenang di alam sana. Mereka sudah pergi maka akulah yang akan menggantikan posisi mereka sebagai wali mu. Juga, kamu adalah Davin Demian, kamu adalah penerus ku selanjutnya. Aku tidak ingin penerus ku ditertawakan oleh orang lain hanya karena ia memilih pasangan yang salah." Ujar Kakek dengan nada rendahnya.


Dia diingatkan lagi dengan putra tertuanya yang baru meninggal satu minggu yang lalu. Sebagai seorang Ayah, hatinya tidak bisa tidak terusik.


Davin memejamkan matanya menahan sakit. Kematian kedua orang tuanya adalah sumber rasa sakitnya baru-baru ini, jika tidak ada Rein di sisinya maka mungkin ia akan jatuh depresi.


"Aku...akan mundur dari hak waris." Ia memutuskan dengan berat hati.


Mundur dari hak waris artinya ia melepaskan kerja keras Papanya tapi ia sungguh tidak bisa meninggalkan Rein. Maka dari itu, untuk perasaan egoisnya ia akan melepaskan hak yang seharusnya menjadi miliknya.


Begitu kata-kata ini keluar, anggota keluarga yang lain terlihat sangat antusias. Mereka sudah lama menunggu kata-kata ini keluar dari mulut Kakek ataupun Davin.


Kakek tidak menerimanya, dengan dingin ia menolak.


"Tidak bisa, pilihanku tidak akan pernah berubah sampai aku tidak ada di dunia ini lagi. Jika kamu masih bersikeras, maka adikmu yang baru berusia satu bulan itu akan aku kirim ke negara A." Ancam Kakek dingin.