My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
141. 11 November



Pukul 8 malam aku telah siap dengan riasan ringan di wajah dan gaun biru langit pilihan terbaikku. Aku sangat gugup malam ini karena Davin sedari tadi terus saja menatapku. Malu rasanya, aku ingin bersembunyi tapi pikiran ini segera ku singkirkan karena sebenarnya aku juga suka diperhatikan oleh Davin.


Hem, rasanya sangat mendebarkan diperhatikan seintens ini oleh laki-laki yang kita cintai karena aku saat ini telah membuktikannya. Hatiku berdebar kencang dan ada getaran lembut di dalam tubuhku, merambat di dalam aliran darahku untuk membawa sebuah perasaan manis yang sangat sulit untuk ku gambarkan.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, hem?" Suara magnetiknya menarik ku dari lamunan.


Aku tersenyum malu, menggelengkan kepalaku menolak untuk mengakui bahwa sedari tadi aku sedang memikirkannya.


"Nanti di pesta kamu jangan kemana-mana, yah? Tetap di sampingku apapun yang terjadi." Ucap Davin sambil membungkus ku ke dalam pelukannya.


Hem, rasanya begitu nyaman diperlukannya.


"Kenapa? Apa kamu takut aku membuatmu malu selama di pesta?" Tanyaku khawatir.


Aku tidak pernah datang ke pesta apalagi pesta perjamuan orang kaya, aku tidak pernah memiliki mimpi untuk datang atau menjadi salah satu tamu undangan. Tidak sampai malam ini aku mendapatkan kesempatan menghadiri acara mewah dan dengan Davin pula, membuatku sangat gugup dan seringkali berpikir apakah aku akan membuatnya malu?


"Bagaimana mungkin kamu berpikir seperti itu?" Dia terkekeh dan yang mengejutkan memanfaatkan kesempatan untuk mencuri ciuman di leherku.


Ugh, rasanya sangat geli!


"Aku takut membuatmu malu." Kataku berusaha melindungi leherku dari serangan Davin yang lain.


"Siapa bilang? Kamu dan aku adalah salah satu tamu kehormatan. Apapun yang kamu lakukan tidak akan menjadi masalah untukku dan para tamu yang lain juga tidak bisa mengatakan apa-apa tentang kamu. Kita memang menghadiri pesta perjamuan tapi bukan berarti kamu tidak bisa melakukan apa-apa. Kamu bisa sayang dan tidak akan ada orang yang marah kecuali satu hal," Dia membuatku sangat penasaran dan dilanda perasaan menegangkan.


"Hal apa?" Tanyaku gugup.


Dia tertawa kecil, tapi entah mengapa aku merasa ini bukanlah sebuah tawa yang bernilai tawa lagi tapi lebih seperti bendungan amarah. Tapi apakah mungkin?


"Kecuali satu hal," Dia menarik wajahku ke samping untuk berhadapan langsung dengan wajah tampannya yang mempesona."Kamu tidak diizinkan dekat dengan laki-laki lain di perjamuan itu, jika kamu berani maka aku akan sangat marah dan tidak akan ragu memberikan mu sebuah hukuman." Aku tercengang, belum sempat aku bereaksi Davin tiba-tiba merendahkan kepalanya dan mengecup bibirku lembut-


"Ugh!" Dia tidak sekedar mengecup bibirku tapi juga mengigit nya!


Huhu... rasanya sakit tapi Davin sepertinya sangat menikmati kesakitan ku.


"Apa kamu mengerti?" Setelah menganiaya bibirku, dia mengajukan pertanyaan lagi. Ugh, aku sangat malu- tidak, lebih tepatnya aku sangat jengkel!


Dia, berani-beraninya dia menganiaya ku! Tidak tahukah dia jika saat ini aku sangat gugup memikirkan bagaimana cara menjaga nama baiknya di pesta nanti?


Keterlaluan!


"Dav jangan gila, kamu menggigit bibirku dan merusak dandanan ku asal kamu tahu!" Kataku agak kesal seraya melepaskan pelukannya dariku.


Buru-buru aku pergi ke depan cermin untuk memeriksa kondisi bibirku, ah... setelah melihat cermin keinginan ku untuk mencubit lambung Davin semakin membumbung tinggi.


Bisa-bisanya dia melakukan ini kepadaku disaat kami akan menghadiri sebuah acara pesta besar.


"Ini untuk membuktikan bahwa kamu hanyalah milikku." Dia berucap santai dan memelukku dari belakang.


Kepalanya kini bertumpu di atas pundak kanan ku. Mata kami bertemu di cermin, kesal, wajahku terlihat sangat cemberut ketika menatapnya.


"Dasar kekanak-kanakan." Kataku masih kesal tapi dia sama sekali tidak merasa bersalah dan bahkan kini tertawa kecil tampak sangat puas telah membuatku marah.


"Humph," Aku mengambil tissue di atas meja rias dan membawanya ke bibir Davin untuk menghapus lipstik merah ku yang tertinggal karena ciuman nakal Davin.


"Dan karena ulah kamu sendiri, malam ini hampir saja kamu menjadi bahan tertawaan banyak orang."


Dia sangat patuh saat ku bersihkan bibirnya. Setelah bersih aku membuang tissue ke tempat sampah dan dihadiahi lagi kecupan singkat oleh Davin. Meskipun singkat tapi masih meninggalkan noda merah di bibirnya.


Mendengar itu aku sontak memutar bola mataku malas. Berbicara dengan Davin memang tidak ada habisnya. Dia selalu punya cara untuk membuat ku marah tapi tidak bisa melupakannya- tapi, perasaan gugup ku juga menghilang. Eh, belum menghilang semuanya sih tapi perasaan ku saat ini jauh lebih baik dan nyaman daripada beberapa waktu lalu.


Seolah mengerti apa yang aku pikirkan, Davin lalu berkata,"Bagiamana perasaan mu sekarang?"


Aku menatapnya dari cermin, tersenyum malu, aku menganggukkan kepalaku seraya memegang tangannya yang kini sedang melingkari perutku.


"Terima kasih, Dav." Bisik ku terenyuh.


Davin selalu punya cara untuk membuatku semakin mencintainya. Dia selalu punya cara untuk membuatku semakin nyaman bersamanya.


Davin adalah satu-satunya orang yang paling mengenal dan mengerti perasaanku, jadi bagaimana mungkin aku tidak menjadikannya sebagai duniaku?


Davin telah menjadi segalanya untukku.


"Untuk kamu, apapun akan aku lakukan." Bisiknya terdengar begitu lembut di dalam pendengaran ku.


Aku menganggukkan kepalaku tidak tahu harus mengatakan apa-apa lagi. Menghela nafas panjang untuk menata hati,"Dav, ayo pergi. Kamu adalah tamu kehormatan di sana jadi tidak seharusnya kamu datang terlambat." Kataku seraya melepaskan tangannya dari perutku.


Aku sangat malu dan tidak memiliki cara selain untuk mengganti topik agar bisa melarikan diri dari percakapan ini.


"Sayang, kamu harus tahu bila tamu kehormatan memiliki tempat istimewa bahwa kita boleh datang terlambat dan mereka tidak akan marah. Kamu juga harus mengoreksi satu hal bahwa tamu kehormatan bukan hanya aku saja tapi kamu juga bagian dari tamu kehormatan karena kamu adalah milikku, milik Davin Demian. Paham?"


Lihat semua yang dia katakan, kenapa aku merasa jika semua itu tidak ada bedanya dengan omong kosong tapi sayangnya apa yang dia katakan memang benar adanya. Davin adalah pembicara manis yang sangat baik.


Aku berkali-kali dibuat terpesona olehnya.


Ya Tuhan, betapa bahagianya aku!


"Hem, aku paham!" Kataku dengan senyum tertahan.


"Jika kamu ingin tersenyum maka tersenyumlah, kenapa harus menahannya?" Tanyanya sambil menarik pipiku.


"Huh, siapa yang mau tersenyum, sih!" Aku langsung menyingkirkan tangan Davin dari wajahku.


Malam ini dia sangat bandel dan tidak mau mendengarkan!


Padahal aku sudah berulangkali mengatakan agar tidak menyentuh wajahku tapi dia tidak mau mendengarkan dan terus saja menyentuh wajahku.


Aku takut bila riasan ku rusak!


"Ayo pergi!" Kataku sudah tidak tahan lagi.


Jika ku tunda terus bisa-bisa malam ini kami tidak bisa kemana-mana.


"Tunggu, kamu melupakan sesuatu."


Aku memutar bola mataku malas,"Apa sih-" Seketika kata-kata ku berhenti ketika melihat Davin mengeluarkan sebuah kotak merah menyala dari dalam laci.


"Kamu harus tampil sempurna malam ini." Katanya sambil tersenyum lebar dan menunjukkan sebuah kalung indah bermahkota berlian biru laut di dalam kotak merah tersebut.


"Rein, happy birthday dan selamat hari jadi hubungan kita." Ucapnya dengan nada dan sorot mata yang sangat lembut.


11 November adalah hari ulang tahunku sekaligus hari jadi ku dengan Davin. Aku benar-benar lupa jika hari ini adalah tanggal 11 dan aku bahkan tidak tahu bila bulan ini sudah masuk bulan November.