My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
238. 10



Davin menggelengkan kepalanya tidak berdaya.


"Lingkungan tempat tinggal mu sangat hidup." Kata Davin mengejek sebelum masuk ke dalam mobil.


Dimas tersenyum dingin, ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Davin.


"Mereka seperti ini karena baru pertama kali melihat badut kota masuk ke desa." Balas Dimas santai.


Davin meliriknya sekilas, walaupun marah dia tidak berminat sama sekali untuk berbicara dengan Dimas lagi karena urusannya pasti bakal panjang.


...***...


Satu jam kemudian mereka akhirnya sampai di rumah Davin. Di luar sudah ada Rein yang menyambut kedatangan mereka bertiga. Rein sudah mendengar apa yang terjadi dengan Dimas dan Davin dari Adit, dan dia sama sekali tidak terkejut dengan hasil ini. Toh, sejak awal mereka juga tidak pernah akur dan akan sangat mengherankan jika mereka berdua bisa akur.


"Rein, kenapa aku berdiri di luar?" Davin keluar dari mobil tapi tidak bisa mendekati istrinya.


Dia hanya bisa menatap istrinya dari jauh tanpa bisa menjangkaunya.


Rein tersenyum lembut.


"Aku di sini untuk menunggu kedatangan Dimas."


Davin yang sudah berharap besar,"...."


Dimas,"Pftt..." Dimas menutupi mulutnya untuk menahan tawa.


Bagaimana dia tidak tertawa melihat ekspresi sembelit Davin yang langka?


Dan lihat jarak ini, bukankah Davin biasanya sangat lengket kepada Rein dan tidak tahan berada jauh darinya?


Tapi kenapa tiba-tiba ada jarak di antara mereka berdua?


Seolah melihat bisa melihat kebingungan Dimas, Adit dengan ramah menjelaskan.


"Nyonya besar memiliki mood yang buruk baru-baru ini sejak kehamilannya masuk 7 bulan. Dia tidak akan tahan berdekatan dengan bos sehingga bos harus menjaga jarak dari nyonya besar." Kata Adit ramah.


Terdengar aneh tapi wanita hamil biasanya memang memiliki keanehan jadi Dimas tidak menganggapnya berlebihan. Tapi lucunya orang yang memiliki kerugian besar di sini adalah Davin sendiri, laki-laki angkuh yang telah lama membuatnya menyimpan dendam.


"Dimas..." Panggil Rein malu-malu.


Dimas tertegun. Untuk sesaat dia seolah kembali melihat Rein beberapa tahun yang lalu ketika sedang mengandung Tio. Bedanya saat itu Rein terlihat sangat kurus dan kekurangan gizi, tubuhnya kehilangan banyak berat badan karena terlalu terbebani dengan perasaannya.


Tapi sekarang, Rein terlihat sangat sehat dan agak berisi, jauh lebih berdaging dari tahun-tahun itu. Kulitnya juga sehat dan bercahaya, tampak terawat dengan baik.


"Rein, sudah lama tidak bertemu." Kata Dimas dengan senyuman lebar di wajahnya.


Dia seolah-olah melihat adiknya sendiri, adik yang telah lama tidak bertemu dengannya.


"Yah, kemari lah. Perutku sangat besar dan berat." Kata Rein sambil mengulurkan tangannya ke depan.


"Kamu sangat sehat dan terawat, aku yakin keponakan ku yang masih ada di dalam perutmu juga sangat sehat."


Rein mengelus perut besarnya dengan tangan yang lain. Ada kebanggaan di dalam suaranya.


"Syukurnya anakku sangat sehat dan stabil di dalam perutku. Dan dokter juga bilang jika aku mungkin memiliki kesempatan bisa melahirkan dengan normal seperti wanita yang lain." Kata Rein memberikan kabar gembira.


Melahirkan secara normal, hanya Rein dan Tuhan yang tahu betapa bahagianya dia mendengar kabar ini. Karena sebagai seorang Ibu, dia ingin sekali merasakan bagaimana perjuangan hebat seorang Ibu ketika melahirkan anaknya ke dunia ini. Sebab jika lewat sesar, Rein tidak merasakan apa-apa karena tubuhnya di bius.


"Wah, aku lega mendengarnya. Aku harap keponakanku dan kamu bisa melewati hari itu dengan lancar." Harap Dimas tulus.


"Terima kasih. Aku harap juga begitu. Hanya saja karena kehamilan ku sudah sebesar ini aku jadi tidak bisa kemana-mana. Rasanya sangat membosankan." Keluh Rein kepada sahabatnya.


Dimas tersenyum," Jika kamu kesepian di sini dan tidak punya teman bermain, kapan-kapan aku akan membawa Ail ke sini untuk menemanimu."


"Ail?" Rein entah mengapa ikut tersenyum melihat senyuman lebar di wajah Dimas.


Dia menyadari jika senyuman ini berbeda dari senyuman Dimas yang lainnya dan agak spesial. Mungkinkah Ail adalah seseorang yang sangat spesial untuk sahabatnya itu?


"Yah, dia adalah gadis yang aku temukan ketika sedang sedang berkunjung ke sebuah kota. Dia adalah gadis yang sangat baik dan pemalu." Cerita Dimas singkat.


Benar saja pikir Rein. Gadis ini pasti istimewa sehingga mampu menarik perhatian Dimas. Dan sebagai seseorang yang pernah Dimas sukai, Rein lega karena Dimas kini telah menemukan tambatan hatinya. Karena dengan begitu semua jejak di masa lalu bisa terhapus kan.


"Wah, gadis itu sangat beruntung bisa dibawa pulang oleh Kakakku. Karena tidak ada laki-laki sebaik Kakakku di dunia ini dan gadis itu tidak akan menyesal bisa bersama dengannya." Kata Rein riang langsung menggubah panggilannya kepada Dimas.


Kakak,


Dengan panggilan ini hubungan mereka berdua kembali dipulihkan seperti dulu lagi. Bedanya jika dulu Rein hanya menganggap Dimas sebagai sahabatnya, tapi sekarang Rein sepenuhnya menganggap Dimas sebagai anggota keluarganya.


Dimas tersenyum malu. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal agak canggung.


"Tapi dia masih 15 tahun." Kata Dimas canggung.


"15 tahun?!" Seru Davin melebih-lebihkan suaranya.


Dia saat ini sedang duduk di salah satu anak tangga, jarak yang lumayan dekat dari tempat istrinya duduk.


"Gila sih, kamu kan udah 29 tahun tapi mainnya sama anak kecil. Dasar om-om pedofil!" Sungut Davin melampiaskan emosinya.


Namun sejujurnya dia sedikit lega karena Dimas tidak lagi memiliki pemikiran kepada istrinya. Dan dia juga berharap perasaan Dimas kepada gadis itu serius dan tulus agar tidak lagi mengganggu hubungan mereka berdua.


Dimas memutar bola matanya jengah. Davin ini, usia sudah 29 tahun tapi kelakuannya masih kayak anak kecil saja.


"Rein belum terlambat untuk mengganti Bapaknya. Kamu gak mau kan anak kamu besok sama kekanakan nya dengan dia." Kata Dimas sambil melirik Davin.


Mengerti sindiran Dimas, Rein tidak bisa menahan tawa kecilnya. Kedua orang ini masih saja perang mulut dan belum bosan-bosan. Padahal mereka kan sudah sama-sama dewasa jadi harusnya bisa bersikap dewasa.


"Kamu ngomong apa?!" Teriak Davin tidak puas.