My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
139. Hati-hati



Aku mengintip dari celah pintu. Menyaksikan Mbak Anggi yang kini tengah tertunduk lesu duduk di atas ranjang ditemani oleh Adit. Keputusan Davin untuk mengirim Adit adalah yang terbaik karena sejauh ini satu-satunya orang yang berhasil mendekati Mbak Anggi dan membuatnya patuh adalah Adit seorang. Aku lega melihatnya karena kaki Mbak Anggi bisa diobati dan luka di sekujur tubuhnya juga dapat ditangani.


"Sayang, biarkan Adit menyelesaikan tugasnya. Dan kamu temani lah aku di sini!" Davin sangat berisik.


Dia sedari tadi terus saja memintaku untuk menemaninya melakukan apa pun yang dia lakukan. Padahal bukan saatnya bersantai karena aku sangat penasaran dengan sahabatku.


Eh?


Mbak Anggi sangat penurut di depan Adit. Di dalam sana aku melihatnya dengan patuh membiarkan Adit memijat kaki bengkaknya sedangkan Adit sendiri, ugh.. kenapa dia sangat suka menggunakan wajah datar itu!


Jika dia tersenyum sedikit maka Mbak Anggi tidak akan terlalu takut.


"Rein, kemari lah! Jangan ganggu sahabatmu lagi!" Davin tiba-tiba menarik tanganku dan membawaku pergi ke ruang keluarga.


Di sana anak-anak masih asik bermain dengan mainan baru yang diberikan oleh Adit beberapa hari yang lalu. Anak-anak sangat menyukai mainan itu sehingga terus menerus memainkannya.


"Aku melihat sahabatku, Davin!" Kataku jengkel sambil mencubit kedua pipinya yang tidak memiliki lemak seperti ku.


"Kamu bisa melihatnya besok. Duduklah, temani anak-anak bermain."


Aku terpaksa duduk di sampingnya. Mengambil toples makanan ringan dan mulai mengunyahnya dengan cemberut. Biar bagaimanapun aku agak kesal dengan Davin. Eh, tapi bagus juga berkumpul di sini karena ada sesuatu yang ingin kutanyakan mengenai Revan kepada Davin.


"Jadi Revan adalah Paman, mu? Kalian terlihat berada di usianya yang sama."


Inilah yang membuat ku bingung. Tidak mungkin bukan Nenek Davin sekuat itu masih bisa melahirkan di usianya yang sudah lanjutan usia.


"Sayang sekali, tapi anak haram itu memang Paman ku, dia adalah orang yang tidak berguna."


"Anak haram?" Jangan bilang itu karena Kakek Davin sering bermain wanita diluar sana?


Davin mendengus tidak senang, dia memeluk pinggangku sambil berbicara.


"Kakek adalah orang yang sangat arogan dan aku dengar dari Papa jika Kakek adalah seorang playboy. Dia sangat senang bermain wanita tanpa memikirkan bagaimana perasaan Nenek. Tapi meskipun begitu Kakek tidak pernah membawa satupun wanita yang ia mainkan pulang ke rumah karena bagi Kakek mereka hanyalah sebuah mainan. Yah, mainan tapi disaat yang bersamaan juga mainan. Suatu hari ada seorang wanita yang datang ke rumah dan menuntut pertanggungjawaban Kakek karena dia sedang hamil. Tidak perlu dikatakan lagi Rein jika kejadian itu pasti membuat Nenek sangat terpukul juga patah hati. Nenek bilang dia sudah cukup disakiti di rumah itu dan memutuskan untuk pergi dari rumah itu. Kakek tidak mengizinkannya tapi Nenek sudah tidak tahan lagi dan tetap bersikeras pergi. Pada akhirnya Nenek pulang ke rumah kedua orang tuanya dan menjalani kehidupan yang lebih baik di sana. Sedangkan Kakek semakin kacau setelah kepergian Nenek. Dia tidak mau bertanggungjawab dan membiarkan wanita itu sengsara di luar sana. Hingga tersiar kabar mengenai pernikahan Nenek dengan seorang pengusaha kaya raya dari luar negeri, Kakek tidak bisa berbuat apa-apa dan melampiaskannya dengan mabuk-mabukan. Kakek menyesal dan memohon untuk kembali tapi sudah terlambat untuk semua penyesalan itu. Kakek patah hati dan memutuskan untuk menikah dengan wanita itu, mereka menikah dan Kakek juga mengakui jika anak itu adalah putranya yang tidak lain adalah Revan. Tapi jujur Rein, sepanjang hidupku selama ini aku tidak pernah melihat Kakek tersenyum lagi sejak kepergian Nenek. Dia semakin murung dan tidak masuk akal, bahkan putra haram yang dia akui sejujurnya tidak pernah ia urus. Dia membiarkan Revan dibesarkan oleh wanita itu sehingga Revan tumbuh menjadi anak yang sok dan suka bersenang-senang. Dia sejujurnya tidak berguna dan selalu menyakiti mata Kakek. Yah, aku juga bisa melihat ada kebencian di sana karena semua orang di rumah tahu penyebab Nenek pergi adalah karena kehadiran Revan."


Kehidupan orang kaya faktanya tidak mudah ditebak. Mereka penuh akan skema dan cerita hidup kelam yang sayangnya tidak mengundangnya simpati sedikitpun dariku.


Menurutku Kakek mendapatkan hukuman dari Tuhan karena telah menyakiti Nenek. Tuhan mengambil Nenek darinya sehingga dia tidak memiliki kesempatan untuk menghilangkan penyesalan darinya. Apalagi setelah mendengar Nenek menikah lagi sedangkan dia masih dalam keadaan terpuruk, itu adalah perasaan yang paling menyiksa dalam hidup dan aku pikir Kakek pantas mendapatkannya.


"Revan adalah hukuman untuk Kakek mu, Dav, dan dia harus menanggungnya seumur hidup." Kataku menyimpulkan.


"Dia adalah hukuman itu memang dibenarkan. Bertahun-tahun Revan berusaha mengambil hati Kakek agar bisa mendapatkan hak waris ku tapi Kakek tidak perduli meliriknya sedikitpun. Tidak hanya karena dia membenci Revan tapi juga karena Revan adalah orang yang tidak berguna. Dia sangat malas bekerja tapi menginginkan hasil yang besar, dia juga lebih senang menghabiskan waktu untuk bersenang-senang daripada bekerja. Inilah yang membuat Kakek enggan meliriknya sedikitpun dan aku juga setuju dengan keputusan Kakek mengenal anak haram itu."


Lalu Davin mengambil tangan ku dan memegangnya erat.


"Dia tahu tidak bisa melakukan apa-apa untuk merebut hati Kakek karena itulah dia memilih menggunakan cara kotor untuk menjatuhkan ku. Dia berbahaya, Rein. Jadi aku harap kamu dan anak-anak harus berhati-hati di masa depan. Aku tidak ingin kehilangan kalian, sudah cukup menyakitkan kedua orang tuaku pergi meninggalkan ku 5 tahun lalu, sedangkan kamu dan anak-anak harus tetap di sisiku."


Kami terjebak di dalam pertarungan keluarga dimana kekuasaan adalah harta karun yang ingin mereka rebut kan. Sekalipun menolak untuk mendapatkan tapi mereka dipaksa terjebak di dalam situasi ini. Menatap was-was setiap orang yang melemparkan pisau ke arah kami, menunggu kami lengah dan kalah di dalam permainan.


"Kamu juga harus berhati-hati, kami tidak mau kehilangan kamu." Bisik ku merasakan takut.


Orang yang paling menyedihkan di sini justru adalah Davin sendiri. Dia tidak meminta kekuasaan tapi diberikan, dia tidak memungkinkan kekuasaan tapi dipaksa masuk ke dalam pertarungan perebutan kekuasaan. Dia tidak menginginkannya tapi orang-orang itu tidak mengindahkan keinginannya. Mereka semua rakus dan serakah, dan malangnya lagi sangat bodoh. Bisa dibayangkan seberapa frustasi Davin selama ini menghadapi pikiran primitif mereka.


Hah, mereka adalah orang-orang yang sangat merepotkan. Karena mereka aku dan Davin sangat sulit merasakan hidup damai.