
"Calon pewaris Demian mengalami patah tulang dan lumpuh di atas kursi roda, kondisinya ini... apakah masih bisa mempertahankan posisinya?" Bisik-bisik para awak media sangat terkejut melihat kondisi Davin secara langsung sekaligus bersemangat karena mereka mendapatkan berita tambahan lagi.
Hasilnya, cahaya kilat dari kamera terus menerus menyoroti Davin. Menelanjanginya dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan bunyi 'klik' yang terdengar terus menerus. Melihat ini Rein diam-diam mengeluh di dalam hatinya. Keningnya mengkerut dalam sangat tidak kekasihnya diperlakukan seperti 'harta hewan nasional' yang harus menerima sorotan dari berbagai macam arah.
Jadi dengan kesal dia berjalan di depan Davin untuk menghalangi semua cahaya kilat dari kamera menyentuh tubuh kekasihnya. Para awak media sekali lagi tercengang melihat Rein seperti ini. Berani memblokade kontak lensa kamera mereka dari Davin. Mereka tidak puas dan beberapa berteriak ingin Rein segera menggeser tubuhnya. Namun Rein bergeming dan berpura-pura tidak mendengar apa-apa. Tangan rampingnya yang telah mengalami perawatan kulit terbaik meraih tangan Davin kuat sebagai bentuk penyemangat khusus darinya.
"Biasanya aku tidak masalah dengan kebebasan pers media dimana pun mereka berada karena mereka juga memburuk pekerjaan. Tapi malam ini telah membalikkan pandanganku mengenai mereka. Kamu jelas-jelas 'tidak sehat', tapi masih saja disorot oleh mereka. Jika seperti ini kasusnya. Aku takut jika ada waktu yang lagi lain kali, aku tidak akan mengundang mereka datang ke rumah kita." Malam ini Rein menunjukkan sisi dirinya yang lain.
Entah karena terlalu hanyut dalam sandiwaranya atau mungkin karena ini benar-benar dirinya yang lain, Davin tidak bisa memastikannya. Temperamental Rein malam ini segera membuka pikirannya mengenai Rein bahwa dia jauh lebih dari mampu tidak seperti yang dia bayangkan. Dan jika Rein terus menerus mempertahankan tempramen seperti ini maka Davin tidak akan takut melihat Rein berhadapan dengan semua anggota keluarga Demian.
"Nyonya Rein, tolong jangan tutupi tuan Davin dari kami."
"Nyonya, tolong menyingkir..."
"Tuan Davin, tolong tunjukkan diri Anda ke arah kamera..."
Dan ada berbagai macam suara menyebalkan lainnya di belakang Rein. Rein dan Davin tidak perduli dengan mereka semua, dan malah sikap mereka berdua terkesan mengabaikan suara-suara itu. Entah apa yang ditulis media besok.
"Apa aku terlihat menyedihkan?" Tanya Davin dengan senyuman malas di wajahnya.
Rein memperhatikannya. Menatap wajah tampan kekasihnya dengan heran karena bila dilihat manapun kekasihnya tidak terlihat menyedihkan. Tapi lebih kepada 'arogan?'
"Tidak cukup, ini tidak cukup." Bantah Rein seraya mengelus rahang tegas milik Davin.
Hem, tempat ini jauh lebih bersih dan terawat daripada sebelumnya. Rein sangat puas.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Davin menggoda.
Rein menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Davin hanya ingin bercanda jadi Rein tidak perlu meladeninya karena takut seseorang dapat melihat ada sesuatu yang salah dengan kedatangan mereka.
"Ayo pergi." Kata Rein sambil mengambil alih kursi roda dari Adit dan mendorongnya perlahan melewati kerumunan awak media.
Para awak media berteriak meminta Rein dan Davin menatap ke arah kamera sebelah sini atau sebelah sana, tapi Rein maupun Davin tidak pernah menggubris panggilan mereka. Hei yang benar saja, memangnya mereka pikir ini adalah acara red carpet sehingga dia dan Davin harus meladeni permintaan mereka untuk mengambil foto?
Memikirkannya suasana hati Rein sangat suram. Jauh di dalam hatinya yang terdalam, dia mencemooh sekelompok orang-orang ini karena bekerja keras mengambil gambar 'cacat' kekasihnya untuk disebarkan ke seluruh penjuru untuk memberitahu bahwa, 'hei, lihatlah! Dia yang berkuasa kini sekarang tidak mampu untuk berjalan sendiri!' betapa menjijikkannya!
"Mereka selalu seperti ini. Uang yang mereka dapatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari didapatkan dengan cara mencari kelemahan seseorang, mengobral nya, dan bahkan tidak jarang menambahkan beberapa omong kosong di dalamnya." Ucap Davin dengan nada malas khasnya.
Rein tersenyum lebar,"Yah, ku harap pekerjaan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka." Sahut Rein dengan nada dingin mencela.
"Rein, aku pikir orang yang patut kamu salahkan adalah orang yang mengirimkan surat undangan kepada mereka agar datang ke sini. Jika orang itu tidak mengirim surat undangan, maka mereka semua tidak akan bisa datang ke sini bahkan masuk ke dalam. Jadi, ingatlah untuk berterima kasih kepadanya setelah pesta kita selesai." Davin tersenyum geli, hatinya dibuat menghangat oleh tindakan 'pemarah' kekasihnya malam ini.
Rein lembut dan tidak terbiasa mengekspresikan kemarahannya. Namun, setelah kecelakaan itu dia memiliki perubahan drastis di dalam dirinya. Dia masih cengeng, suka mengeluh, penyayang terhadap anak-anak, dan juga semakin keras kepala. Dia masihlah Rein yang sama kecuali kemarahannya yang tidak bisa dipendam lagi.
"Jika kamu yang mengatakannya maka aku tidak akan mengatakan apa-apa." Kata Rein mengikuti perintah Davin.
Setelah itu mereka berdua mengobrol ringan dengan kedua asisten pribadi yang masih setia mengekor di belakang. Segala tindakan dan interaksi mereka berdua telah memasuki lensa kamera, disebarkan ke sosial media dan tempat-tempat acara gosip untuk menunjukkan betapa mesra hubungan mereka berdua. Rein dan Davin sama sekali tidak tahu jika interaksi manis mereka berdua telah menjadi trending topik dan menjadi topik utama yang paling sering dibicarakan sepanjang malam itu.
"Davin." Sapa dokter Adit datar.
Mereka tidak sengaja berpapasan dengan dokter Adit di pintu masuk. Dokter Adit telah menghabiskan hidupnya di luar dan jarang kembali ke sini- atau sebenarnya dia sangat enggan datang ke tempat ini, tempat seburuk-buruknya tempat yang ingin didatangi dokter Adit dalam hidupnya.
"Yah." Respon Davin malas.
Dibandingkan dengan Davin, Rein jauh lebih sopan,"Dokter, lama tidak bertemu." Sapa nya sopan.
Terakhir kali mereka bertemu adalah saat Aska dirawat di rumah sakit karena penyalahgunaan obat tidur. Saat itu dokter Adit yang menangani Aska secara langsung dan langsung menghilang entah kemana setelah keadaan Aska membaik.
"Hem, di luar sangat menyenangkan." Jawab dokter Adit masih datar.
Davin meliriknya ringan dengan makna tertentu,"Kenapa kamu datang ke sini?" Karena semua orang tahu dia tidak pernah mau kembali ke rumah ini lagi.
Dokter Adit hanya menjawab dengan sederhana dan singkat.
"Aku hanya ingin melihat kesenangan saja."
"Yah, ini akan sangat menyenangkan." Yakin Davin pasti.
"Kalau begitu masuk bersama?" Tawar Davin yang langsung di angguki dokter Adit.
Memang benar. Dia berdiri lama di pintu masuk karena sedang menunggu kedatangan Davin. Sebagai sesama korban kekuasaan keluarga ini, dokter Adit memiliki prinsip bahwa bila Davin datang maka mereka bisa berjalan masuk bersama ke dalam dan bila Davin tidak datang, maka dokter Adit bisa langsung pulang ke rumahnya tanpa membuat alasan kepada anggota keluarga yang lain.
Dia memiliki prinsip sesederhana ini.
"Ayo."