My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
163



Setelah bertahun-tahun penantian, setelah bertahun-tahun kesabarannya menghadapi Davin. Tiba-tiba semuanya tidak berarti apa-apa hanya dengan kata 'urusan anak muda'. Lelahnya menunggu, rindunya yang telah lama memupuk, dan harga dirinya yang tidak berarti apa-apa di depan Davin, semua pengorbanannya ini sia-sia.


Semua pengorbanannya ini sia-sia! Bagaimana Anya bisa menerima semua ini dengan lapang dada disaat dia telah melakukan semuanya untuk Davin, untuk perhatian Davin, dan untuk segalanya yang berkaitan dengan Davin!


Anya tidak menerimanya, Anya tidak rela melepaskan pujaan hatinya begitu saja! Dia marah dan membencinya!


Mungkin satu atau dua masih bisa dimaafkan, tapi ini sudah 5 tahun! Hatinya sudah 5 tahun mengakar untuk Davin Demian!


"Aku tidak bisa menerimanya. Davin dan aku harus tetap menikah!" Dengan kemarahan tertahan, dia mengucapkan kata demi kata dari dalam mulutnya.


Kedua tangannya mengepal tapi sebisa mungkin dia menjaga penampilannya tetap anggun.


Dihadapkan dengan keras kepala Anya, wajah Davin langsung menjadi dingin. Awalnya dia akan melontarkan kata-kata kejam kepada Anya tapi segera dihentikan oleh sentuhan tangan Rein di lengannya.


"Oh, apa kamu pikir dirimu layak untuk kekasihku?" Suara malas Rein kini menjadi perhatian banyak orang.


Jika biasanya Rein akan bersikap pasif pada lawan bicaranya yang agresif, tapi kali ini untuk mengamankan 'kekuasaannya' terhadap Davin, Rein mau tidak mau balas bertindak agresif.


Davin adalah miliknya dan akan selalu menjadi miliknya! Tidak ada yang boleh mengambil Davin darinya!


Anya menjawab dengan percaya diri,"Aku jauh lebih dari layak untuk Davin daripada dirimu."


Mulai dari latarbelakang keluarga sampai pekerjaannya, dia jauh lebih dari layak untuk Davin. Siapa itu Rein?


Dia hanya anak pungut entah dari benih haram siapa. Besar di panti asuhan dan tidak memiliki pekerjaan terhormat seperti yang Anya miliki. Di samping itu juga Anya merasa jauh lebih cantik dari Rein, setidaknya itulah yang orang-orang terdekatnya katakan.


"Ini yang kamu sebut layak?" Tanya Rein seraya mengelus puncak kepala Aska untuk menenangkannya.


"Hah... tahukah kamu, dari jawaban ini saja orang akan tahu betapa tidak layaknya kamu untuk kekasihku. Kamu pikir dengan apa yang kamu miliki sekarang Davin akan berpaling kepadamu? Kamu terlalu banyak bermimpi! Bangun dan lihat kenyataan dengan baik-baik! Davin Demian, bila benar kamu sungguh layak untuknya maka mengapa dia tidak pernah menaruh kamu di dalam matanya? Mengapa dia tidak pernah mengakui kamu sebagai tunangannya? Dan khususnya malam ini, mengapa Davin mengakui ku sebagai calon istrinya dan bukan dirimu saja? Bukankah kamu merasa jauh lebih layak daripada aku?" Cecar Rein dengan nada mengejek membuat dada Anya semakin terbakar cemburu.


Mengapa?


Anya pun juga ingin tahu mengapa Davin tidak pernah membalas perasaannya, melihat bagaimana selama ini dia berjuang di luar sana untuk mendapatkan perhatiannya, dan mengerti bagaimana lelahnya dia mengejar Davin! Mengapa?


Jelas hanya ada satu penjelasan singkat.


Itu karena Davin tidak mencintainya dan di dalam hatinya, hanya selalu ada Rein.


Namun, Anya menolak penjelasan ini. Dia tidak rela. Jelas tidak mau mempercayainya!


"Jangan terlalu banyak berpikir, Rein. Dia mau menikahi mu karena kamu memiliki putranya di tanganmu. Jika tidak, dia pasti tidak akan mau bersanding denganmu! Wanita miskin!"


Rein tersenyum geli, dia melirik kekasihnya dan berkata,"Oh, sungguh tidak masalah. Sebelum kembali bersamanya aku sudah mengatakan dengan jelas bila putra kami bukanlah hambatan untuk kebahagiaannya. Aku tidak akan marah bila dia memutuskan untuk menikahi mu-"


Dia tidak senang Rein mengatakan itu karena dia sendiri sangat membenci kata-kata itu.


"Putra kami tidak ada sangkut pautnya dengan pernikahan ini. Bahkan tanpa anak-anak kami, aku tidak akan menyerah mengejar Rein karena dia hanya bisa menjadi milik ku menikah denganku. Adapun kamu," Davin menatap Anya dengan tatapan merendahkan.


Tampak dingin namun memiliki kesan acuh tak acuh.


"Berbicara tentang layak, kamu jauh lebih tidak layak untuk ku. Hanya Rein Xia yang memiliki kualifikasi ini di dalam hidupku. Di samping itu, berhentilah terlalu percaya diri karena dunia tidak hanya berputar di sekitar mu dan dunia tidak selalu hanya tentang kamu. Jika kamu selalu berpikir jika kamu adalah wanita hebat, cantik, kaya, dan sempurna. Maka aku akan mengucapkan selamat, karena telah terjebak di dalam dunia delusi mu sendiri. Tidak akan ada yang bisa mengeluarkan mu kecuali dirimu sendiri."


"Davin, kamu sudah keterlaluan!" Protes Kakek Anya tidak tahan melihat cucunya disakiti.


Apalagi yang menyakiti cucunya adalah laki-laki yang dicintai oleh cucunya sendiri. Tidakkah sakitnya akan sangat menusuk?


"Keterlaluan? Lihat cucumu sendiri? Apakah tidak keterlaluan namanya merendahkan pasanganku? Seolah-olah hanya dia yang paling sempurna di dunia ini saja. Lagipula aku mengatakan itu juga untuk kebaikan cucumu sendiri. Kasihan, terlalu lama hidup di dalam delusi membuatnya lupa diri." Davin dengan murah hati memvonis bila Anya sudah terlalu lama hidup dalam dunia delusi.


Namun, keluarga mana yang tidak akan terluka melihat anggota keluarganya dihina oleh orang lain? Tentu saja tidak ada. Tidak terkecuali Kakek sendiri. Dia tidak rela cucunya dihina di depan banyak orang dan ingin terus membela tapi suara dingin Kakek Demian segera menghentikannya.


"Hormati pilihan cucuku. Dia sudah memutuskan untuk hidup bersama Ibu dari putranya maka semua orang harus menghormatinya. Adapun Anya, kamu dan cucuku selama ini tidak ada bedanya dengan orang asing jadi lupakan saja dia, dan mulai lah hidup baru."


"Kakek..." Anya tidak mau.


Tapi Kakek Demian sama sekali tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk berbicara.


"Baiklah, ayo kita mulai makan malamnya sebelum makanan rumahku menjadi dingin."


Dengan itu semua orang mulai mengambil makanan dan menekan kembali gosip yang telah membara juga gatal ingin dikeluarkan.


Perdebatan malam ini sudah pasti menjadi bahan gosip beberapa orang yang suka banyak bicara.


"Rein, terima kasih. Malam ini kamu sangat luar biasa." Bisik Davin memuji.


Rein tersenyum malu-malu, terlihat agak polos dihadapan Davin.


"Tidak, kamulah yang luar biasa. Terima kasih, Davin."


Davin menggelengkan kepalanya,"Jelas-"


"Makan." Potong Kakek Demian dingin.


Davin segera menelan kata-katanya dan menahan diri mencubit pipi gembil Rein yang sedang menahan tawa.