My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
75. Lo Tahu?



Davin membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Wajah tampannya tampak mengeras menahan amarah. Bahkan mulutnya terkatup rapat enggan mengeluarkan berbagai macam kata-kata yang menggambarkan emosinya saat ini.


Street


Dia tiba-tiba ngerem mendadak ketika melihat sosok laki-laki bertubuh tinggi sudah berdiri menunggunya di pinggir jalan.


Ketika melihat laki-laki itu, kemarahan Davin sontak terpicu. Ia bergegas keluar dari mobilnya dan mendatangi laki-laki itu dengan langkah besar. Laki-laki itupun tidak tinggal diam melihat kedatangan Davin. Ia buru-buru menghampiri Davin sembari melayangkan sebuah sapaan ramah di wajah tampannya.


Bugh


"Dasar brengs*k!" Teriak laki-laki itu emosi.


Kedua matanya menatap nyalang dan penuh kebencian terhadap Davin.


Davin menyentuh pipi kanannya yang terasa panas dan berdenyut, ditambah lagi ada rasa sakit yang mulai menggelayuti pipinya.


"Brengs*k? Jelas-jelas lo yang brengs*k, sialan!"


Bugh


Davin membalas pukulan laki-laki itu dengan sekuat tenaga, membuat laki-laki itu oleng ke samping dan hampir tersungkur ke tanah. Tidak cukup sampai disitu saja, Davin tidak puas hanya melayangkan satu pukulan, dia kembali mendatangi laki-laki itu, menarik kerahnya dan kembali memberikannya pukulan tapi kali ini tidak di wajah melainkan di perutnya.


"Pak, tolong kendalikan diri, Anda!" Adit tiba-tiba datang entah darimana.


Dia langsung menarik Davin agar jangan memukul laki-laki itu lagi karena laki-laki itu terlihat sangat kesakitan. Dia jatuh terduduk di tanah, memegang perutnya yang berkali-kali Davin pukul dengan kemarahan yang meluap-luap.


"Minggir!" Davin masih belum bisa melepaskan emosinya.


Tapi Adit berusaha menenangkannya,"Pak kendalikan diri, Anda. Jika tidak Dimas bisa mati dan Rein pasti akan semakin membenci, Anda."


Adit membujuknya agar berhenti memukul Dimas lagi. Benar, laki-laki yang telah membuat Davin sangat marah adalah Dimas, laki-laki yang Davin pukuli dengan sekuat tenaga tadi adalah Dimas, dan laki-laki yang telah membuatnya kehilangan kendali tadi adalah Dimas.


Diingatkan tentang Rein, kemarahan Davin akhirnya bisa dikendalikan. Dia melepaskan tangan Adit kasar, memperbaiki posisi mantelnya dengan nafas memburu dan mata nyalang yang tidak bisa berpaling dari Dimas.


"Benci? Rein sudah lama membenci lo! Dia gak akan pernah kembali sekalipun lo membawanya tinggal bersama, brengs*k!" Teriak Dimas ditengah-tengah kesakitan nya.


Benci?


Davin jelas sangat mengetahui jika Rein tidak akan mudah memaafkannya, ia tidak akan pernah menampik fakta itu. Akan tetapi satu hal yang tidak Dimas ketahui tentang Rein bahwa hatinya jauh lebih lembut dari yang Dimas pikirkan. Rein sangat sulit marah tapi ia mudah memaafkan seseorang. Inilah yang membuat Davin berani kembali memasuki kehidupan Rein. Karena ia tahu Rein akan selalu memberikannya maaf.


Maaf untuk kesalahan yang tidak pernah sengaja ia lakukan, ironisnya.


"Tapi lo gak tahu diri, Davin! Lo adalah manusia yang paling gak tahu diri di dunia! Setelah apa yang lo lakukan kepada Rein, setelah semua yang lo lakukan kepada Rein, setelah lo membuang Rein, lo pikir dia sudi kembali bersama lo? Lo pikir dia sudi menjalin hubungan laki-laki brengs*k kayak lo? Sadar, Davin! Di matanya lo adalah laki-laki tidak berperasaan dan menjijikkan! Dia gak akan pernah sudi kembali bersama lo sekalipun lo membawanya pergi dari gue! Dia-"


"Diam!" Teriak Davin marah.


Kedua matanya yang bersinar nyalang mulai memerah, merah bukan karena marah lagi tapi lebih tepatnya karena rasa sakit yang telah mengakar di dalam hatinya.


"Lo pikir karena siapa itu semua terjadi, hah?" Teriak Davin sakit bercampur marah.


"Itu semua karena lo, Dimas! Itu karena lo yang telah menghancurkan hubungan gue sama Rein. Kalau bukan karena lo, hubungan gue dan Rein gak akan pernah berakhir seperti ini!"


Kata-kata ini akhirnya keluar. Sudah 4 tahun berlalu sejak tahun penuh kemarahan itu dan sekarang Adit kembali melihat sahabatnya terguncang dibawah siksaan rasa sakit juga frustasi.


Dia menghela nafas berat, mundur beberapa langkah tidak ingin mengganggu sahabatnya meluapkan semua emosi yang telah terpendam selama tahun-tahun menyedihkan itu.


"Jadi..uhuk..uhuk..lo, tahu?" Tanya Dimas di sela-sela batuknya, ada nada kepuasan di sana.


Davin memejamkan matanya menahan marah yang ingin diluapkan lagi. Rasanya ingin sekali dia menghajar laki-laki berkedok malaikat yang pernah mengambil Rein dari dalam hidupnya.


"Lo pikir gue gak tahu kalau lo adalah orang yang membocorkan tentang hubungan gue ke Kakek? Lo pikir selama ini gue gak tahu rencana busuk lo untuk memisahkan gue dari Rein? Gue gak sebodoh itu! Gue tahu semua yang telah lo lakuin tapi gue diem karena saat itu gue gak punya apa-apa untuk melindungi Rein. Gue diem tapi bukan berarti gue gak akan kembali merebut apa yang seharusnya menjadi milik gue!" Ungkap Davin dengan penuh kebencian.