My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
165



Semua orang tanpa sadar telah melupakan masalah Anya dan Davin. Bahkan mereka tidak lagi mengingat wajah menyedihkan Anya ketika keluar dari rumah Davin. Mereka semua sibuk dengan agenda masing-masing datang ke mansion Demian.


Sementara mereka sibuk, Anggi, Adit dan Sera masih betah duduk di kursi tadi sambil menikmati makanan penutup. Yang satu adalah sahabat dan asisten, yang satunya lagi dokter hewan jadi mereka tidak perlu bercampur di dalam keramaian untuk berbicara dengan Davin ataupun Kakek Demian.


Selepas makan, Davin dan Rein segera dikelilingi oleh para tamu yang memiliki tujuan tertentu. Bahkan para anggota keluarga Demian yang dulunya bias diam-diam mendekati Davin sambil bersikap akrab.


"Kak Davin sangat sibuk malam ini. Dia pasti kewalahan menghadapi mereka semua." Gumam Sera meringis melihat orang-orang yang berebutan mencuri perhatian satu-satunya pewaris keluarga Demian.


"Tuan Davin adalah orang yang mampu." Respon Adit tenang.


Dia telah menghubungi Davin sebelumnya apakah membutuhkan bantuannya untuk mengamankan anak-anak. Tapi Davin bilang tidak perlu karena anak-anak sudah dibawa kabur Kakek Demian. Meninggalkan Davin dan Rein terjebak di dalam hiruk pikuk para tamu yang memiliki tujuan tertentu.


"Karena itulah Kakek memilihnya sebagai pewarisnya. Tidak hanya mampu, tapi Kak Davin juga layak menduduki posisi itu." Puji Sera secara terang-terangan.


Sejak awal dia selalu berada di pihak Davin jadi Adit tidak terlalu terkejut.


"Eh, bukankah itu paman kecil?" Sera terkejut melihat kedatangan Revan.


Padahal tadi malam Revan sudah berangkat keluar kota tapi kenapa tiba-tiba kembali lagi ke rumah?


"Paman kecil?" Anggi tiba-tiba merasakan sebuah krisis.


Dia tanpa sadar menoleh mengikuti ke arah mana mata Sera melihat. Di sana, di antara kerumunan berdiri laki-laki tinggi nan tampan yang terlihat sangat menonjol di antara banyak orang. Dia sepertinya baru saja datang tapi sudah disambut oleh beberapa gadis cantik yang ingin berkenalan atau menjalin hubungan dengannya.


Yah, walaupun Revan payah, tapi pesonanya sungguh tidak bisa dipungkiri. Apalagi dia memiliki banyak uang dan sumber daya sehingga menjalin hubungan dengannya tidak akan sia-sia.


Deg


Mata Anggi tidak sengaja bertemu dengan mata hitamnya. Anggi panik, dia buru-buru memalingkan wajahnya dari Revan dan menundukkan kepalanya tidak ingin dikenali.


Segala macam penyiksaan dan kekerasan yang Revan lakukan kepadanya, masih sangat segar di dalam ingatannya. Dan Anggi tidak akan tahan mengulangi mimpi buruk itu sekali lagi.


"Bukankah Paman kecilmu ada diluar kota?" Tanya Adit muram sambil mengawasi pergerakan Revan.


Sera tidak merasa ada yang salah dengan Adit jadi dia menjawab santai,"Paman Revan memang pergi keluar kota semalam. Aku pikir Paman kecil akan tinggal selama beberapa hari tapi mengapa malam ini dia tiba-tiba pulang ke rumah?" Sera juga heran mengapa Paman kecilnya ada di sini.


Adit mendengus tanpa mengalihkan perhatiannya dari Revan.


"Aku harap dia tidak membuat masalah untuk keluarga kalian." Katanya praktis membuat Sera malu.


Lagipula siapa yang tidak tahu betapa buruk perangai Paman kecilnya itu. Dia telah menjadi langganan gosip di dunia hiburan dan bisnis, jadi bukan rahasia lagi bila Paman kecilnya dianggap sebagai biang masalah.


"Paman kecilku tidak akan berani selama ada Kakek dan Nenek di sini." Kata Sera menenangkan.


Adit tidak mengatakan apa-apa sebagai respon. Diamnya membuat Sera agak malu dan canggung.


Adit pikir Revan akan ikut bergabung dengan kerumunan untuk mengganggu Rein ataupun Davin. Jika itu terjadi, dia tidak akan ragu menghentikannya. Akan apa yang terjadi justru diluar ekspektasinya. Bukannya datang mencari Rein atau Davin, Revan malah membawa langkahnya menuju meja mereka.


Adit mengernyit, merasakan firasat buruk sampai dia akhirnya mengingat jika Revan memiliki masalah dengan Anggi.


Jadi, apakah Revan ingin bertemu dengan Anggi?


"Paman kecil!" Sapa Sera membuyarkan lamunan Adit.


Sera segera bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Revan, memeluknya singkat sebelum menariknya ke meja Adit dan Anggi.


"Yo, sudah lama?" Kata Revan berpura-pura akrab namun bola matanya menangkap keberadaan Anggi.


Anggi dengan kaku menundukkan kepalanya, menyamarkan keberadaannya dan berharap bila Revan kali ini membiarkannya pergi.


"Kebetulan malam ini ada waktu luang." Jawab Adit singkat.


Dia berdiri dari duduknya dan dengan sengaja menghalangi pandangan Revan ke Anggi.


Revan mengernyit terganggu melihat tindakan Adit. Dia memang mengakui tidak menyukai Anggi tapi menyukai Rein. Akan tetapi, rasa manis dari tubuh Anggi mana mungkin bisa dia lupakan begitu saja. Apalagi mainan barunya sekarang tidak mampu membuatnya puas seperti yang Anggi lakukan. Jadi, Revan mau tidak mau mulai mendambakan Anggi dan menginginkannya kembali untuk melayaninya.


"Oh, kamu pasti sangat sibuk melayani tuan mu." Ucap Revan sarkas.


Namun Adit berpura-pura tuli dan masih bersikap tenang didepan Revan.


"Paman kecil juga sibukkan? Lalu, kenapa Paman kecil pulang ke rumah?" Tanya Sera melihat situasi diantara Adit dan Paman kecilnya agak tidak benar.


Revan melonggarkan dasinya dalam suasana hati yang baik. Malam ini, Anggi harusnya bisa melayaninya kembali.


"Aku sangat sibuk, tapi penghangat tempat tidurku tidak ada di sana jadi aku kembali ke rumah ini untuk mencarinya." Jawab Adit mengindikasikan makna tertentu.


Jantung Anggi berdegup kencang. Dia tahu apa yang Revan maksud. Walaupun tahu, Anggi sangat berharap bila orang yang Revan cari bukanlah dirinya karena dia sungguh sangat trauma.


"Aku.." Anggi bangkit dari duduknya dengan panik.


Perhatian mereka bertiga kini tertuju kepadanya.


Takut,"Aku akan ke toilet." Katanya sambil membawa kakinya menjauh dari mereka bertiga.


"Apa sekarang Paman kecil sudah mengambilnya?" Tanya Sera kembali ke topik pembicaraan.


Revan tersenyum,"Aku akan segera mengambilnya." Dia lalu mengangguk kepada Adit,"Tolong nikmati waktu luang mu dengan keponakan ku."


Setelah mengatakan itu, Revan lalu pergi ke arah yang berlawanan dari Anggi- namun, masih tidak membuat Adit tenang sama sekali.


"Adit, ayo duduk. Kamu masih belum menyelesaikan makanan mu." Sera menarik Adit kembali ke kursinya.


Adit duduk dengan enggan sambil menekan rasa cemas dihatinya.


...🌪️🌪️🌪️...


Anggi akhirnya bisa bernafas lega di dalam toilet. Dia menyandarkan punggungnya di tembok untuk menenangkan suasana hatinya yang cemas. Untunglah, di dalam toilet hanya ada dua orang sehingga dia tidak terlalu canggung terlihat sedikit panik di depan mereka.


"Aku harap Revan melepaskan ku." Harap Anggi takut.


Keningnya sudah berkeringat dingin sejak melihat Revan juga datang ke acara ini- hah, sejujurnya ini bukanlah sesuatu yang aneh karena Revan adalah Paman kecil Davin dan seseorang yang memiliki kekuasaan.


"Dia seharusnya tidak mencari ku lagi karena hutang-hutang suamiku sudah lunas semenjak aku... menjadi mainan ranjangnya." Bisik Anggi sedih.


Entah apa yang terjadi, tiba-tiba suaminya memiliki hutang yang besar kepada Revan dan harus dilunasi dalam waktu yang sangat tidak masuk akal. Anggi dan suaminya tidak punya uang karena mereka miskin, bahkan walaupun ada, itu tidak seberapa dan Revan menolak untuk menerimanya.


Tidak punya cara lain, Revan menawarkan agar Anggi menjadi pelayannya selama setengah bulan. Anggi pikir itu hanya pelayan biasa, tapi siapa yang mengira jika pelayan yang Revan maksud adalah menjadi mainannya di atas ranjang.


Anggi merasa tertipu dan malu bertemu dengan suaminya. Sebagai seorang istri, dia tidak bisa menerima kenyataan jika dia sudah kotor dan dinodai oleh laki-laki lain.


Akan tetapi takdir itu kejam karena suami yang dia rindukan dan memiliki hutang besar ternyata sedang bersenang-senang dengan wanita lain di rumahnya. Anggi patah hati dan meminta cerai kepada suaminya, namun suaminya tidak mau menceraikannya dan pergi menghilang dengan selingkuhannya.


Anggi hancur. Dia hancur dan tidak memiliki harapan hidup. Bahkan, rasanya menjijikkan saat kedua anaknya melihat dirinya dengan tatapan penuh cinta. Rasanya itu sangat tidak adil.


Cklack


Suara kunci pintu diputar. Anggi menoleh ke arah sumber suara dan langsung dibuat kaku ketika melihat punggung lebar di depan pintu. Entah sejak kapan Revan masuk dan mengunci pintu toilet tidak mengizinkan siapapun masuk ke dalam.


"Apa...apa yang sedang kamu lakukan?!" Tubuh Anggi bergetar ketakutan dan kakinya.... kakinya menjadi lemas dan tidak bisa digerakkan.


"Bukankah aku sudah mengatakannya? Aku di sini untuk mengambil penghangat tidurku." Jawab Revan polos seraya membuka kancing jasnya.


"Bukankah aku sudah melunasi hutang suamiku?! Aku sudah melunasinya....jadi kamu tidak boleh mengganggu ku lagi!" Teriak Anggi seraya mundur ke belakang.


Dia ingin bersembunyi ke dalam bilik toilet tapi lengannya segera dicengkeram oleh Revan.


"Lunas, tapi bagaimana jika aku menginginkan kamu lagi?" Ucap Revan dengan nada polos yang dibuat-buat.


Anggi menggelengkan kepalanya,"Revan, cukup. Aku tidak bisa lagi melakukannya...aku ingin memulai hidup baruku bersama anak-anak." Mohon Anggi mulai menangis terisak.


Revan tertawa puas, tangan besarnya menyentuh wajah basah Anggi, mengelusnya hati-hati selayaknya sedang menyentuh porselen.


"Anggi, aku bisa memberikan apapun kepadamu jadi kamu tidak perlu khawatir dengan anak-anak mu. Asalkan ada uang, anak-anak mu pasti bahagia."


Anggi menggelengkan kepalanya menolak.


"Aku ingin menjalani hidup ku yang baru...aku ingin bebas...jadi tolong...aku tidak bisa melakukannya- akh!" Lehernya tiba-tiba digigit oleh Revan.


Rasanya sangat sakit karena Revan menggigitnya dengan tenaga yang tidak main-main. Lihat saja hasil karya seninya, merah terang dan bengkak, tampak sangat cantik.


"Aku gak mau...aku gak mau! Lepaskan aku! Biarkan aku pergi!" Anggi tidak bisa menahannya lagi.


Dia meronta-ronta ingin melepaskan diri dari cengkeraman kuat Revan.


"Diam, patuhlah." Perintah Revan tidak sabar.


Tapi Anggi menolak untuk patuh dan mulai berteriak minta tolong.


"Tolong! Tolong selamatkan aku! Aku mohon tolong selamatkan aku-"


"Diam! Atau aku akan meniduri mu di sini!"


"Aku tidak mau! Lepaskan aku, sialan! Tolong selamatkan aku...tolong..." Anggi berteriak dengan sekuat tenaga.


Revan tertawa suram,"Tidak akan ada yang bisa menyelamatkan mu-"


Brak


Pintu toilet tiba-tiba didobrak dari luar.


"Yo, beraninya kamu bermain dengan kekasihku. Apakah kamu sudah bosan hidup?" Suara dingin nan datarnya bagaikan sedotan penyelamat untuk Anggi.


"Adit!" Teriak Anggi semakin menangis.