
"Apa kalian masih ingin pergi ke sana setelah kita diusir berulang kali oleh mereka?" Tanya Ayah skeptis.
Di usir dua kali berturut-turut, ayah jelas telah kehilangan kepercayaan dirinya ketika berurusan dengan Anggi. Dia sendiri menyadari betul bila tingkah keluarganya sangat tidak tahu malu karena memaksa mengakui hubungan kekerabatan setelah semua yang mereka lakukan. Ayah menyesal namun sadar bila penyesalan ini tidak ada artinya sebab Anggi sudah menarik garis dari keluarganya.
"Aku ingin, Ayah." Kata Tina masih diliputi perasaan serakah.
Sedangkan Widia tidak langsung menjawab. Dia pertama-tama mengambil surat undangan di atas meja dan membacanya dengan hati-hati.
"Hanya Ayah dan Ibu yang bisa hadir ke acara pernikahan kak Anggi." Kata Widia sambil menatap adiknya.
Tina berseru panik,"Bohong. Kita semua yang diundang kak Anggi." Katanya sambil merebut undangan itu dari tangan Widia.
Namun saat bola matanya menangkap nama Ayah dan Ibunya, Tina tidak bisa berkata-kata lagi. Dia pikir mereka berempat akan diundang pergi tapi ternyata hanya kedua orang tuanya yang diundang. Tina sedih dan menolak kenyataan ini.
"Ini...ini untuk dua orang." Lalu dia berkata dengan egois,"Kalau Ayah enggak mau datang, maka biarkan aku dan Ibu saja yang pergi." Kata Tina membuat solusi untuk dirinya sendiri.
Bagaimana mungkin dia melepaskan kesempatan ini?
Tapi mimpinya segera menguap tatkala Widia menjatuhkan air dingin ke kepalanya.
"Coba saja, kamu tidak akan diizinkan masuk oleh para penjaga. Tina, di kartu undangan hanya tertera Ibu dan Ayah saja, maka yang harus pergi adalah mereka berdua. Jika kamu bermain curang seperti yang kamu katakan, maka percayalah, sebelum kamu bisa menginjakkan kaki ke pulau itu, kamu sudah diminta pulang oleh pihak acara. Sebab undangan ini bukan undangan biasa. Orang yang datang ke sini dijaga dan dikontrol ketat. Siapapun yang tidak terdaftar di kartu undangan tidak akan pernah diizinkan masuk. Bila kamu tidak percaya maka coba saja. Tapi jangan salahkan aku bila kamu ditolak." Ujar Widia langsung menghancurkan fantasi Tina.
Tina langsung cemberut kesal.
"Bu-" Dia ingin mengadu kepada Ibunya, tapi Ibu langsung mengabaikannya.
Dia tidak ingin mendengar keluhan Tina karena seperti yang Widia bilang tadi, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ibu kira Anggi mengundang kita dengan tulus, Yah. Apa Ayah tidak dengar tadi apa yang orang itu sampaikan? Dia bilang kita diundang ke acara pernikahan Anggi. Untuk sampai ke sana, orang itu bersedia mengakomodasikan kita dari datang hingga pulang ke rumah, jadi kita tidak perlu khawatir soal mengeluarkan biaya. Ibu juga pikir ada baiknya kita pergi ke sana karena mungkin dengan pergi ke sana hubungan kita bisa diperbaiki lagi. Jadi menurut Ayah bagaimana?" Ibu menatap suaminya hati-hati.
Ayah tidak segera menjawab karena dia sedang menimbang dengan hati-hati apa yang istrinya sampaikan tadi. Memang benar apa yang istrinya katakan. Mereka diundang dan diberikan akomodasi yang memadai, harusnya Anggi tidak memiliki tujuan lain kepada mereka selain niat kebaikan.