My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
128. Jangan Ikut Campur



Aku kini telah berdiri di depan pintu masuk bangsal Aska, putraku. Kakiku terasa ngilu untuk sekedar digerakkan apalagi sampai dibawa melangkah ke depan, menerobos masuk menatap wajah damai putraku yang masih tidak sadarkan diri.


Masih terngiang di dalam kepalaku apa yang dokter Adit sampaikan tadi. Kelemahan dan ketidakmampuan diriku adalah cambuk pesakitan yang harus aku tanggung sebagai seorang Ibu, wanita yang lahir dalam kemiskinan dan ketidakberdayaan.


"Aku takut Nyonya bila masalah ini melibatkan orang-orang berbahaya dan kejam, Nyonya tidak bisa menghadapinya sendirian." Saat itu aku berpikir bila apa yang dokter Adit katakan tidak masuk akal.


Aku tahu bila orang yang kuhadapi adalah orang-orang kejam dan berbahaya, justru karena itulah aku ingin melaporkan mereka ke polisi. Bukankah polisi adalah penolong rakyat?


Mereka siap mengayomi dan melayani rakyat sesuai dengan tugas mereka sebagai abdi negara, sesuai dengan kewajiban dan sumpah mereka kepada negara sebagai abdi negara.


"Karena itulah aku ingin melaporkan masalah ini ke polisi, dokter. Mereka jahat dan kejam, mereka ingin membunuh putraku yang tidak bersalah jadi mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal untuk semua kejahatan yang telah mereka perbuat!"


Astaga, ini adalah pikiran impulsif yang aku miliki saat itu dan sekarang, aku merasa apa yang aku pikirkan saat itu terlalu naif dan terdengar lucu.


Betapa bodohnya aku.


Aku adalah Rein Xia, seorang gadis cacat yang dibuang oleh kedua orang tuaku dan dibesarkan oleh para pengasuh di panti asuhan. Aku hidup dalam lika-liku hidup yang pelik tapi bodohnya aku dari semua kekejaman dunia yang telah ku lalui, aku masih belum bisa mengambil pelajaran.


Memangnya aku siapa begitu berani mengangkat kepala untuk menyatakan perang kepada orang-orang jahat itu?


Aku tidak punya apa-apa selain Davin, Tio, dan Aska!


"Jangan termakan emosi, Nyonya. Saya tahu masalah ini sangat berat untuk Nyonya dan tidak bisa dipungkiri meninggalkan tekanan psikologis untuk Nyonya maupun putra Anda, akan tapi melaporkan masalah ini ke polisi bukanlah solusi yang tepat karena lawan Anda bukanlah sekedar lawan. Saya sarankan Anda melaporkan masalah ini kepada Tuan Davin saja karena dia pasti telah memiliki solusi yang tepat untuk masalah ini." Apa yang dokter Adit katakan membuatku tercengang saat itu.


Bagaimana mungkin dokter Adit mengetahui hubungan ku dengan Davin?


Aku tidak pernah mengatakan kepada dokter Adit darimana aku berasal dan apa hubungan ku dengan Davin, dan aku juga sangat yakin bila hubunganku dengan Davin belum terekspos ke publik. Tidak ada satupun surat kabar memberitakan mengenai hubungan ku dengan Davin.


Tapi... bagaimana mungkin dokter Adit mengetahui hubungan ku dengan Davin?


Saat itu aku bertanya-tanya dan ingin mengungkapkan rasa ingin tahu hatiku. Tapi aku menahannya karena ada banyak kemungkinan dokter Adit mengetahuinya dan mungkin itu bukanlah hal yang sangat penting untukku.


Karena yang terpenting sekarang adalah bagaimana nasib Aska dan langkah apa yang harus aku lakukan selanjutnya.


Aku memang berencana memberitahu Davin tapi aku ingat jika dia sudah ada di dalam pesawat sekarang sehingga aku tidak bisa menghubunginya. Mengirim pesan pun tetap akan dibaca setelah pesawat mendarat dan itu juga membutuhkan waktu berjam-jam maka itu sama saja bohong. Lebih baik aku menunggu Davin pulang dulu ke rumah dan barulah aku membicarakan masalah Aska.


Untuk saat ini aku harus menenangkan diriku dan memprioritaskan keadaan Aska.


"Aku harus masuk." Kataku setelah menenangkan diri.


Mengambil nafas panjang dan menghembuskan nya, aku mengulangi langkah ini berkali-kali sampai aku benar-benar siap masuk ke dalam.


Cklack


"Mom?" Tio menoleh menatapku, kedua matanya memerah dan bulu mata hitam nan panjangnya basah oleh air mata.


Dia terlihat sangat menyedihkan. Hatiku terenyuh tidak kuasa melihatnya sesedih ini dan bergegas mendekatinya. Tio memeluk leherku kuat, tangisnya yang tertahan akhirnya pecah di dalam pelukan ku.


Ya Tuhan, hati putraku pasti sangat sakit saat ini. Apa karena Aska?


"Anak Mommy kenapa nangis, hem?" Aku membawa Aska duduk di depan ranjang Aska, kursi yang sebelumnya di duduki oleh Tio.


Sebenarnya aku tidak ingin membawa Tio ke sini karena biar bagaimanapun dia masih anak-anak, tapi aku juga tidak tega meninggalkan putraku sendirian di vila. Dia pasti akan sangat sedih tidak melihatku dan Aska.


Tio melepaskan leherku, dengan suara sesenggukan dia menunjukkan wajah terpejam Aska yang terlihat sangat damai dan tenang.


"Kakak Aska gak bangun-bangun, Mommy. Tangan Kak Aska juga beldalah ditusuk jalum."


Benar-benar karena Aska ternyata.


Ya Tuhan, mereka baru saja bersama 5 hari lamanya tapi hubungan mereka sudah sangat dalam. Di rumah mereka melakukan apapun selalu bersama-sama. Kecuali berada di sekolah yang berbeda, mereka sangat kompak satu sama lain. Tapi meskipun mereka terlihat sangat rukun dan saling menyayangi, aku tidak pernah berpikir jika hubungan mereka berdua sudah sedalam ini.


"Sayang, Kak Aska lagi sakit makanya belum bisa bangun dan dokter bilang darah Aska harus diambil agar bisa sembuh. Tio mau'kan lihat Kak Aska sembuh dan bangun lagi?" Aku berusaha menjelaskan kondisi Aska dengan kata-kata sederhana kepada Tio.


Tio di dalam pelukanku mengangguk, dia ingin Kakaknya sembuh dan bangun lagi.


"Kalau begitu Tio harus berhenti nangis dan segera pergi tidur biar besok bisa main lagi sama Kak Aska." Aku membujuknya untuk tidur, kasihan melihatnya seperti ini.


Tio masih menangis, tapi kali ini dia berusaha untuk menahannya. Kedua mata besarnya beralih menatap Aska, aku tahu dia mungkin enggan berpisah dari Kakaknya. Dia memiliki hati yang lembut dan hangat, sama seperti anak-anak pada umumnya yang belum mengerti cara kerja dunia.


"Mom, Tio sayang sama Kak Aska." Katanya dengan suara parau.


Aku tersenyum, tangan kananku terangkat mengusap pipi gembil Tio yang sudah basah karena air mata.


"Mommy dan Daddy juga sayang sama Aska."


Tio kemudian membawa mata besarnya menatapku,"Tio mau bobok sama Kak Aska."


Aku terkejut dan sedikit ragu memberikan jawaban penolakan. Kondisi Aska saat ini masih belum sadarkan diri dan aku takut Tio akan menganggu jalannya perawatan Aska.


"Tunggu sebentar, Mommy ingin berbicara dengan dokter Adit dulu." Aku menurunkan Tio dari pelukanku dan mendudukkannya di atas kursi.


Setelah itu aku pergi menemui dokter Adit untuk bertanya apakah Tio boleh tidur di samping Aska. Sebelum dokter Adit memberikan jawaban ia bertanya terlebih dahulu kepadaku apakah Tio memiliki kebiasaan buruk saat tidur atau tidak, aku memberikan jawaban bila Tio tidak banyak bergerak ketika tidur dan dia juga tidak memiliki kebiasaan buruk seperti mengompol. Setelah mendengarkan jawabanku dokter Adit lantas memberikan izin jika Tio bisa tidur bersama Aska. Lagipula Aska hanya tidak sadarkan diri dari pengaruh obat tidur dan tidak memliki keluhan lain di fisiknya.


Selain infus yang harus ku perhatikan, dokter Adit tidak mengatakan apa-apa lagi.