My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
40. Seperti Davin



Rein segera turun tanpa menunggu Dimas terlebih dahulu memarkirkan motornya. Dia berjalan dengan langkah buru-buru menyusuri lorong yang dipenuhi oleh suara tawa anak-anak. Dari jauh Rein bisa melihat pengasuh Tio sedang berjalan mondar-mandir menunggu kedatangannya.


"Mbak," Panggil Rein berlari kecil mendekatinya.


"Ibu Tio." Wanita pengasuh itu sangat lega ketika melihat kedatangan Rein.


"Dimana Tio?"


"Dia di dalam, ayo masuk." 


Pengasuh Tio memimpin jalan. Mereka masuk ke ruang konseling yang tidak terlalu luas juga tidak terlalu kecil. Begitu masuk Rein bisa mendengar suara isakan anak kecil.


Ini jelas bukan milik Tio.


"Permisi, orang tua Tio sudah datang."


"Mommy!" Tio berteriak nyaring. 


Dia langsung melemparkan dirinya ke dalam pelukan Rein, memeluknya erat seolah sedang mengadu.


"Oh jadi ini orang tua yang tidak becus mendidik anaknya." 


Rein mengangkat kepalanya, menatap datar wanita glamor yang duduk dengan angkuhnya bersama anak laki-laki yang terus saja menangis. Ternyata suara tangisan itu milik anak laki-laki ini.


"Bagaimana dengan, Mbak, sendiri? Anak nangis kok tidak ditenangkan malah dibiarkan menangis sendirian." Balas Rein tidak kalah biasnya.


Sekali lihat saja Rein tahu jika wanita ini tidak suka merawat anak kecil dan mungkin dia adalah tipe orang yang masih suka mengurusi penampilannya.


"Apa-apaan, aku tidak seperti kamu yang tidak becus mendidik anak. Lihat, gara-gara perbuatan anak mu, kepala Roni berdarah karena dilempari benda tajam!" Wanita itu sangat marah, dia menunjuk-nunjuk anak laki-laki yang menangis di sampingnya. Memperlihatkan perban putih yang melilit erat kepala anak laki-laki itu.


"Tio," Rein tahu anaknya tidak akan senakal itu.


Dia menurunkan Tio ke bawah untuk di introgasi.


"Katakan dengan jujur kepada Mommy, apa kamu yang telah membuat anak laki-laki itu terluka?" Nada suara Rein masih lembut tapi ada ketegasan juga di dalamnya.


Tidak ada rasa menakuti ataupun mengintimidasi, Rein melakukannya seperti orang tua yang mengadili anaknya dari perbuatan buruk.


"Mommy, ini bukan salah Tio! Tapi ini adalah salah Loni (Roni). Dia sendili yang mengganggu Tio di dalam kelas, Mommy! Dia melusak mainan hadiah ulang tahun dali Mommy. Tio enggak suka makanya Tio lempal dia dengan mainan!"


Rein tertegun. Dia terkejut melihat sisi Tio yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Tatapan keras kepala, ekspresi cemberut yang tidak tertahankan, dan nada suara angkuh yang mencengangkan.


Bukankah..ini adalah Davin versi anak kecil?


Tio,


Dia terlalu mewarisi semua yang berhubungan dengan Davin. Sejujurnya ini menjengkelkan tapi Rein tidak bisa berbuat apa-apa karena di dalam tubuh Tio mengalir darah kental Davin.


"Mommy?" Panggil Tio masih belum mendapatkan reaksi apapun dari Rein.


Rein tersadar. Dia mengatur nafasnya sebelum beralih menatap wanita angkuh itu.


"Apa Mbak tadi mendengarnya? Jelas-jelas orang yang selalu mengganggu Tio duluan adalah anak Mbak sendiri! Dia selalu merusak mainan Tio tidak hari ini ataupun hari-hari yang lain!"


Wanita angkuh itu memutar bola matanya malas.


"Anakku merusak mainan anakmu karena dia merasa mainan itu sudah tidak layak dimainkan. Salahkan sendiri dirimu yang tidak bisa membelikannya mainan yang layak."


Rein tersenyum dingin.


"Memangnya kenapa jika itu sudah tidak layak dimainkan, toh yang memainkannya adalah anakku dan bukan anak Mbak jadi kenapa harus repot-repot merusaknya? Satu hal lagi, masalah ini sudah terjadi sebelumnya sehingga pihak pengasuh memindahkan Tio ke ruangan lain agar tidak diganggu lagi oleh anak Mbak. Tapi lihat yang terjadi sekarang, bukannya berhenti tapi dia malah mencari Tio keruangan nya untuk diganggu. Bagaimana mungkin kesalahan dilimpahkan kepada anakku?"


"Bagaimana mungkin!" Wanita itu tidak mau percaya.


"Jika Mbak tidak percaya silahkan bertanya pada pengasuh." Rein tahu jika Tio tidak akan pernah melakukan hal-hal yang tidak masuk akal tanpa diprovokasi terlebih dahulu.


"Itu.. benar, Nyonya. Beberapa hari ini Roni berusaha masuk ke dalam kelas Tio dan mengganggunya." Pengasuh Tio memberanikan diri menjawab.


Wanita angkuh itu jelas malu tapi bukan berarti kalah begitu saja. Dia selalu merasa orang yang salah di sini adalah Tio, jika tidak maka anaknya mungkin tidak akan terluka.


"Baiklah, jika memang anakku suka mengganggunya maka ini adalah salahnya. Tapi melukai anak lain tentu saja tidak diizinkan dan dia tetap bersalah dalam hal ini."


"Oh ya, jika ini tentang luka maka aku punya sesuatu untuk dibicarakan dengan, Mbak. Bukankah beberapa hari yang lalu anak Mbak juga melempari Tio sebuah mainan ke wajahnya? Ya, pengasuh sudah mengatakan jika hari itu Mbak bersikukuh bahwa yang salah adalah anakku dan mengancam akan melakukan sesuatu kepada rumah penitipan anak ini. Tapi sekarang aku sudah di sini dan aku sama sekali tidak perduli dengan kekuasaan yang Mbak punya. Berbicara tentang keadilan seharusnya Tio juga mendapatkannya di sini. Aku ingin pertanggungjawaban anak Mbak terhadap luka merah yang didapatkan Tio dari beberapa hari yang lalu agar kita sama-sama adil. Lagipula usia anak Mbak sudah lebih dari 6 tahun tapi mengapa dia masih belum mengerti perbuatan mana yang benar dan salah?" Ucap Rein dingin dan tegas tanpa takut.