My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
149



Rein membawa anak-anak ke taman belakang karena begitu masuk ke dalam rumah Tio tiba-tiba tidak mengantuk lagi dan Aska pun memilih membawa makanannya ke halaman belakang.


Rein tidak ambil pusing dengan tingkah cerewet anak-anak karena kepalanya sudah pergi jauh mengambang memikirkan apa yang terjadi antara Davin dan Anya di luar sana. Telinganya berdiri tegak seperti kelinci siaga yang menjaga sarang makanannya dari hewan lain.


Dia ingin mengintip tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk dijatuhkan. Padahal hatinya sangat pendendam dan pikirannya sudah berkelana memikirkan berbagai macam hukuman yang pantas bila Davin mengkhianatinya kembali.


"Davin bodoh! Davin sialan!" Umpatnya sambil mondar-mandir di dalam kamar.


Ia resah dan ada ketakutan dari dalam hatinya karena trauma masa lalu. Dia tidak mau Davin berpaling darinya dan dia tidak mau kehilangan Davin untuk yang kedua kalinya. Karena masa lalu menyakitkan itu Rein telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak akan menyerah pada Davin.


"Tapi...aku tidak mau menguping!" Kata Rein jengkel pada dirinya sendiri.


Dia ingin menempeli Davin tapi ia pikir kehadirannya pasti akan mengganggu pembicaraan- oh astaga, betapa bodohnya, Rein!


Dia memukul kepalanya merutuki kebodohan sendiri. Justru karena itulah dia ada di sana, menonton dan mendengarkan apa yang mereka lakukan. Anggap saja ia sedang mengawasi kekasihnya.


Hah, jika dipikir-pikir lagi Rein menyesali keputusannya untuk menolak ajak menikah Davin. Jika dia menerimanya saat itu maka mungkin dia bisa mengklaim Davin seutuhnya menjadi seorang suami!


"Baiklah, aku harus ke sana daripada gila sendirian di sini!" Gumamnya pada diri sendiri sambil berlari menuju pintu kamar.


Tapi saat ia berhasil keluar dari kamar dan tangannya yang memegang gagang pintu kamar akan menutup pintu, ia lagi-lagi dilanda gelisah karena penampilan Anya sangat cantik dan menarik perhatian, berbanding terbalik dengan dirinya yang terlihat udik dan kampungan. Semangatnya turun drastis. Untuk yang kedua kalinya dia menyesali kebodohannya sendiri karena tidak memanfaatkan uang Davin untuk pergi ke salon kecantikan.


"Kenapa aku sangat bodoh?" Tanyanya merutuki dirinya sendiri.


Lemas tidak berdaya, langkah kakinya masih terpaku di tempat. Dia enggan bergerak karena kepalanya buntu di tempat tidak memiliki solusi apapun. Salahkan dirinya yang tidak pandai merawat diri dan salahkan pula dirinya yang telah menolak ajakan menikah dari Davin.


Bila saja, bila saja ia tidak berbelit-belit dan mempersulit hubungannya dengan Davin, maka hubungan mereka pasti jauh lebih baik dan dia sendiri pun akan merasa aman sebagai seorang wanita.


"Rein, kenapa kamu duduk di lantai?" Suara kejutan Mbak Anggi menarik Rein dari lamunannya. Mbak Anggi tidak mengurung diri lagi di kamar dan beberapa kali akan keluar untuk mencari udara segar. Walaupun belum bisa mengatakan apa yang sedang terjadi tapi Rein senang sahabatnya itu bisa keluar alih-alih terus mengurung diri di dalam kamar.


"Mbak Anggi, hehehe..." Dia tersenyum kering seraya bangun dari duduknya.


Dia tidak menyadari punggungnya yang bersandar di sisi pintu merosot jatuh ke lantai. Mungkin karena pikiran Rein sedang tidak ada di tempat atau mungkin karena Rein terlalu sibuk dengan segala macam penyesalan di hatinya.


"Mbak Anggi mau makan?" Tanya Rein ramah.


Mbak Anggi menggaruk lehernya malu, ia menggelengkan kepalanya membantah. Canggung rasanya, dia belum mengucapkan terima kasih kepada Rein untuk semua pertolongannya selama ini.


"Aku enggak lapar, Rein. Aku kebetulan keluar karena mendengar suara bos Davin ribut di halaman depan. Aku pikir dia sedang ribut denganmu tapi ternyata dia ribut dengan orang lain. Wanita itu siapa Rein?" Tanya Mbak Anggi hati-hati.


Bukannya dia tidak menyadari hubungan Davin dan Rein, tinggal di sini selama berhari-hari amat sangat mustahil untuknya tidak mengetahui apa-apa. Namun yang mengherankan adalah rumor diluar sana mengenai Davin dan Anya, model cantik yang kini sedang ribut dengan Davin di luar. Dia mendengar rumor bila Davin dan Anya adalah tunangan, jika benar begitu maka bagaimana dengan Rein?


Rein adalah kekasih Davin dan samar-samar dia menebak bila Tio ada hubungannya dengan Davin. Tapi ia masih belum memastikan karena dia hanyalah orang asing di sini dan tidak mengetahui apapun tentang masa lalu mereka.


"Dia Anya, Mbak. Model yang digosipin jadi tunangan Davin." Kata Rein tidak canggung. Dia menepuk-nepuk pakaiannya dengan wajah cemberut terlihat masih kesal.


"Jadi mereka sebenarnya gak tunangan?" Tanya Mbak Anggi kaget.


Padahal faktanya dia selalu menjadi orang yang pertama untuk Davin. Hem, dia adalah wanita pertama untuk segalanya bagi Davin.


"Davin cuma dipaksa, Mbak, dan dia juga enggak pernah punya hubungan apa-apa dengan model itu. Tapi ngeselin banget, Mbak. Dia tiba-tiba datang hari ini untuk mencari Davin!" Sungut Rein cemburu.


"Kenapa kamu gak temenin bos Davin aja di luar biar wanita itu tidak menggodanya." Saran Mbak Anggi masuk akal tapi bagi Rein masih tidak memberikan solusi.


"Aku malu, Mbak. Model itu jauh lebih cantik daripada aku." Kata Rein minder.


Mbak Anggi segera membantah kata-kata Rein,"Menurut aku pribadi kamu jauh lebih cantik."


Rein tersenyum tipis. Ia tahu Mbak Anggi hanya menghiburnya saja karena siapapun pasti lebih setuju mengatakan bila Anya lebih cantik. Bagaimana tidak cantik, Anya adalah seorang model internasional. Jadi bagaimana mungkin orang biasa sepertinya bisa dibandingkan dengan seorang model berkelas.


Rein secara sadar menggelengkan kepalanya.


"Mbak jangan menghiburku."


Mbak Anggi berkata jujur,"Rein, kamu jauh lebih cantik daripada model itu jadi kamu tidak perlu minder. Kalau kamu mau aku bisa mendandani mu agar bisa bersaing dengannya. Kebetulan aku dulu pernah kuliah jurusan tata rias tapi berhenti karena enggak biaya untuk lanjut kuliah."


Rein terkejut,"Eh, serius, Mbak?" Dia agak berharap.


"Serius, Rein. Kamu udah cantik alami dan body kamu juga ramping jadi gampang di urus."


Menurutnya Rein sudah okay, hanya perlu dipoles sedikit saja maka dia pasti akan membuat Davin lebih terpesona.


"Ikut aku, Mbak!" Senang, Rein menarik tangan Mbak Anggi masuk ke dalam kamarnya.


Dia membawa Mbak Anggi ke dalam, mendudukkannya di atas kursi di depan meja rias sebelum berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajah. Rein melakukannya dengan cepat dan terburu-buru.


"Mbak," Panggil Rein setelah keluar dari kamar mandi.


Mbak Anggi menoleh,"Semua make up kamu bermerk, Rein. Harganya pasti mahal."


Rein tidak terlalu perduli karena dia jarang menggunakan make up.


"Ayo, Mbak." Rein duduk di samping Mbak Anggi siap dirias.


"Tunggu dulu, Rein. Kamu harus sesuaikan dulu pakaian apa yang akan kamu gunakan agar riasannya serasi."


Pakaian?


Rein tiba-tiba teringat dengan semua gaun yang Davin belikan kepadanya. Gaun itu ditaruh dengan rapi di dalam lemari Rein. Dia pikir tidak akan memiliki kesempatan untuk memakainya lagi tapi siapa yang mengira dia akan mendapatkan kesempatan lagi lebih cepat dari yang dia perkirakan.


"Ah, aku punya banyak, Mbak!"


Humph, dia sudah tidak sabar bertemu dengan 'tunangan' kekasihnya itu.